
Di pagi hari yang cerah, samar samar Yinzi dapat mendengar tetesan tetesan air dari langit langit ruangan di sekitarnya.
Diapun perlahan membuka matanya dan melihat area di sekitar tempat itu. "Bukankah tempat ini merupakan sebuah Goa?, lantas siapa yang telah membawaku ke tempat ini? gumam Yinzi sambil menatap kearah bekas pembakaran kayu yang masih menyisakan bara.
Yinzi bangkit dari duduknya dengan berjuta tanda tanya di dalam pikirannya saat ini mengenai siapa yang telah menyelamatkannya, dan juga telah memulihkan kondisi luka dalam yang di deritanya dari hasil pertarungannya melawan ketua klan naga surgawi.
"Mengapa penolong itu pergi sebelum aku terbangun dan mengucapkan rasa terima kasih kepadanya," gumam Yinzi.
Karena rasa penasaran, Yinzi kemudian menampakkan tangannya ke arah bekas telapak sepatu sang penolong yang membekas di lantai Goa.
Tubuh Yinzi bergetar saat kekuatan spiritualnya menyapu ke arah bekas telapak sepatu yang ada di lantai dasar Goa, sehingga Yinzi dapat melihat kejadian sebelumnya, saat dirinya tak sadarkan diri di dalam Goa.
"Shio Fang...!!" pekik yinzi tiba tiba.
Wajah wanita itu seketika berubah, dia tak menyangka jika penolongnya merupakan pemuda yang begitu sangat dikenalnya.
Yinzi kemudian mendengar perkataan terakhir Shio Fang pada saat meninggalkannya di dalam Goa, dengan perasaan yang sangat sukar untuk di jelaskan.
"Kau ingin melupakanku Shio Fang, apakah kau tak merasa jika aku selama ini begitu sangat merindukanmu," gumam Yinzi lirih.
Ada pergulatan besar di dalam hati Yinzi saat melihat Shio Fang, banyak kenangan bersamanya yang tak bisa di lupakannya begitu saja, akan tetapi semua kenangan itu kembali sirna di hatinya, setelah mengingat kembali jika Shio Fang merupakan ras manusia yang pastinya akan sangat di tentang oleh klannya jika mereka berdua memutuskan untuk bersama, karena pertimbangan para petinggi klan yang mencap ras manusia merupakan ras terendah yang tak patut bersanding dengan ras elf.
"Apa yang harus ku lakukan saat ini, aku begitu bingung dengan keadaan yang terjadi. Jika aku tetap berada diantara anggota klan ku, maka aku harus bersiap menikah dengan pangeran istana Atena karena para petinggi klan menginginkan keturunan elf murni, akan tetapi jika aku pergi bersama Shio Fang maka klan elf pasti akan memburu kami berdua dan tentunya akan membahayakan Shio Fang".
"Aku harus bisa keluar dari keterpurukan ini, Aku tak ingin penyesalan akan terjadi di kemudian setelah Shio Fang benar-benar telah pergi menjauh dariku," gumam Yinzi.
Setelah berpikir dan menimbang sesaat, pada akhirnya Yinzi bertekad untuk meninggalkan istana Atena, dan pergi mencari Shio Fang untuk menjelaskan Jika Yinzi juga mencintainya walaupun Shio Fang merupakan ras dari golongan manusia.
*****
Siang hari Shio Fang telah berada di depan pintu gerbang istana cahaya ilahi. Para penjaga gerbang yang telah mengetahui Shio Fang memiliki plakat emas dari putra mahkota, segera membukakan pintu dan menyuruhnya masuk ke dalam area istana kekaisaran.
__ADS_1
"Tuan muda Shio Fang, pangeran dan Putri Cin Cin telah menunggu Anda di ruang utama kekaisaran," ucap seorang pelayan wanita sambil menangkupkan tangannya.
Shio Fang menganggukkan kepalanya, kemudian mengikuti pelayan wanita itu untuk menemui pangeran Cin Sha dan Putri Cin Cin.
Setibanya di ruangan besar yang di maksud, Selain pangeran dan putri Cin Cin disana, Shio Fang dikejutkan dengan keberadaan Kaisar Cin Yang di dalam ruangan itu.
"Kemarilah Shio Fang, putriku telah menceritakan banyak hal tentang mu, termasuk kau bisa memurnikan jiwa permaisuri yang terpencar hingga dapat kembali menyatu," ucap kaisar Cin Yang mempersilahkan Shio Fang duduk.
"Aku hanya mencoba sebisaku, dan aku yakin mampu melakukannya," jawab Shio Fang.
"Jika kau dapat mengembalikan jiwa permaisuri walaupun tak lagi berwujud tubuh kasarnya, Aku akan sangat berterima kasih dan aku pasti akan memberikan hadiah yang banyak padamu," ucap kaisar Cin Yang.
"Aku tak membutuhkan hadiah-hadiah itu yang mulia, dengan adanya persaudaraan ku dengan pangeran Cin Sha, membuat ku wajib menghidupkan kembali jiwa permaisuri," jawab Shio Fang.
"Aku telah mendapatkan semua sumber daya yang kau butuhkan untuk mengumpulkan kembali jiwa permaisuri," ucap kaisar Cin Yang.
"Jika yang Mulia telah mendapatkan semua bahan obat itu, maka aku akan mengumpulkan jiwa permaisuri saat ini juga," ucap Shio Fang.
Di dalam ruangan besar yang dipenuhi berbagai macam aroma obat, Shio Fang memulai melakukan ritual mengumpulkan jiwa permaisuri, dengan menggunakan seluruh bahan obat yang kini berada di dalam tungku pemurniannya.
Shio Fang kemudian melacak keberadaan jiwa-jiwa permaisuri, menggunakan metode spiritual Kaisar pelahap kekosongan yang dimilikinya.
Dengan menggunakan kekuatan spiritualnya, Shio Fang berhasil melacak jiwa bulan dingin sang permaisuri dan dengan cepat mengumpulkan pecahan jiwa-jiwa tersebut ke dekat tungku pemurniannya.
Terlihat tubuh permaisuri perlahan-lahan menampakkan wujudnya. Jiwa samar sang permaisuri mulai terlihat nyata setelah Shio Fang melakukan pemurnian dengan tumbuhan obat yang telah dileburkan ke dalam tungku pemurnian nya.
"Sudah saatnya" batin Shio Fang dengan mengumpulkan seluruh esensi obat di dalam tungku pemurnian menjadi satu, dan diarahkan kepada jiwa permaisuri yang ada di hadapan nya.
Esensi tumbuhan obat menghantam telak ke arah jiwa permaisuri, dan tak berapa lama kemudian jiwa permaisuri kini telah menemukan kesadarannya kembali dengan wujud permaisuri.
Setelah Shio Fang dapat menghidupkan jiwa permaisuri kembali, maka tangis putri Cin Cin segera pecah di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Shio Fang melangkahkan kakinya ke arah pameran Cin Sha kemudian berkata.
"Aku ingin membicarakan hal penting denganmu," ucap Shio Fang.
Pangeran Cin Sha menganggukkan kepalanya, kemudian mengajak Shio Fang ke suatu tempat yang sunyi.
"Katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya pangeran Cin Sha.
"Aku sudah 2 tahun berada di daratan tengah namun apa yang menjadi tujuanku tak tercapai di sini. Aku ingin memintamu untuk menjaga menara giok selama kepergianku kembali ke wilayah surgawi tepatnya ke akademi Kunlun, karena menara giok sangat berharga bagiku," ucap Shio Fang.
"Mengapa kau begitu sangat terburu-buru untuk kembali ke wilayah surgawi?" tanya pangeran Cin Sha.
"Banyak hal yang tak bisa ku tunda di sana, dan kuharap pangeran dapat memakluminya," jawab Shio Fang.
Sesaat pangeran Cin Sha menarik napas dalam dalam kemudian berkata. "Bagaimana hubunganmu dengan putri Cin Cin, aku melihat jika adikku sangat menyukaimu," ucap pangeran Cin Sha berterus terang.
Shio Fang terdiam sesaat untuk memikirkan jawaban yang harus dikatakannya kepada Pangeran Cin Sha, agar apa yang akan di katakannya nanti tak menyinggung perasaan saudara angkatnya itu, yang notabene merupakan saudara kandung laki-laki putri Cin Cin.
"Jodoh..., kematian.., semua telah di tetapkan oleh takdir, jika kami berdua memungkinkan bersama di masa depan maka aku tak bisa membantahnya," jawab Shio Fang.
Terlihat senyum keceriaan di wajah pangeran Cin Sha mendengar perkataan Shio Fang, karena perkataan Shio Fang telah memberikan secercah harapan bagi putri Cin Cin untuk bersama Shio Fang di masa depan.
"Kapan kau akan kembali ke wilayah Surgawi? tanya pangeran cin Sha kembali.
"Hari ini juga, karena waktu ku sudah semakin menipis dari kesepakatan ku dengan tetua agung menara surga, yang akan kembali ke akademi Kunlun setelah 2 tahun lamanya," jawab Shio Fang.
Pangeran Cin Sha memegang kedua pundak Shio Fang kemudian berkata. "Berhati hatilah dalam perjalanan mu, dan aku berharap kau akan secepatnya kembali ke dataran tengah, karena dataran tengah begitu sangat membuka diri kepada praktisi hebat sepertimu," ucap pangeran Cin Sha.
"Baik pangeran, setelah segala urusanku selesai aku pasti akan kembali ke dataran tengah untuk memimpin menara Giok," jawab Shio Fang.
Pangeran Cin Sha kemudian memanggil singa bersayap ke tempatnya berada, setelah itu mempersilahkan Shio Fang untuk menaikinya menuju ke pelabuhan terbesar di daratan tengah.
__ADS_1
Shio Fang segera melesat ke atas punggung singa bersayap, tak lama kemudian singa bersayap membawa tubuh Shio Fang melesat pergi dari tempat itu.
Bersambung