
Pagi yang cerah, semua murid telah berkumpul di pinggir arena pertarungan untuk menonton jalannya pertarungan di babak yang kedua.
Dari 26 murid yang lolos ke babak berikutnya, hanya 18 orang murid yang bisa melanjutkan berkompetisi di turnamen itu, karena 8 murid lainnya harus terbaring di balai pengobatan Akademi karena mengalami cedera yang serius.
Guru Tao Ming berdiri di tengah tengah arena pertandingan, untuk melanjutkan turnamen babak kedua, namun sebelumnya Guru Tao Ming terlebih dahulu mengumumkan hasil pertandingan kemarin antara Yuan Zhe dan Shio Fang.
"Setelah penegak kedisiplinan menyelidiki pertarungan yang terjadi antara Shio Fang dan Yuan Zhe, maka panitia penyelenggara turnamen bela diri memutuskan, Shio Fang tak membuat kecurangan sehingga dia melaju ke babak berikut nya".
Sorak Sorai dan tepuk tangan para penonton seketika itu bergemuruh mendengar Shio Fang dapat melanjutkan turnamen, suara sorak-sorai dan tepuk tangan itu banyak berasal dari murid junior yang telah menganggap Shio Fang sebagai pahlawan dari penindasan para murid senior, dengan sendirinya para murid junior tak lagi dipandang sebelah mata oleh para murid senior, karena Shio Fang telah berhasil mengalahkan Yuan Zhe yang merupakan murid terkuat kedua di Akademi murid luar.
Guru Tao Ming mengangkat satu tangannya ke atas, sehingga suara sorak sorai dan tepuk tangan seketika itu berhenti, yang membuat suasana menjadi hening kembali.
"Hari ini merupakan hari penentuan bagi para murid yang akan melangkah dan melanjutkan mengasah kemampuannya di akademi pusat Kunlun, karena mereka yang masuk 10 murid terkuat di akademi murid luar, dengan sendirinya akan terpilih dan akan segera dibawa menuju ke Akademi pusat Kunlun untuk berlatih di sana".
"Mereka yang terpilih akan di berikan kesempatan belajar di Akademi pusat Kunlun, tepatnya di akademi murid dalam dan dapat meningkatkan kekuatan di menara surga yang berada di tengah hutan rumpun seribu, dalam wilayah gunung Quanjing".
"Untuk mempersingkat waktu maka aku akan memanggil murid yang akan melakukan pertarungan di atas arena pertandingan ini".
"Lin Yan...!"
Lin Yan yang merupakan top ranking kelima murid terkuat di akademi murid luar, langsung melompat dari podium menuju ke arena pertandingan. Sesaat Lin Yan memberi hormat kepada Guru Tao Ming, setelah itu diapun menghadap ke arah podium para peserta untuk menunggu lawan tarungnya.
"Zen..!"
Guru Tao Ming memanggil nama peserta berikutnya, dan tak lama kemudian Zen melompat turun dari atas podium. Sesaat Zen memberi hormat kepada Guru Tao Ming, setelah itu diapun menghadap ke arah Lin Yan yang saat ini merupakan lawan tarungnya.
Zen yang mengetahui jika Lin Yan merupakan praktisi pengguna elemen api, diapun langsung memikirkan cara untuk dapat mengalahkannya.
"Ini merupakan tantangan baru bagiku, aku akan membuktikan pada para guru pembimbing dan juga pada Shio Fang, jika aku mampu mengalahkan Lin Yan yang selama ini merupakan murid terkuat ke-5 yang berada di Akademi, dan aku takkan pernah menyerah walaupun kekuatannya berada di atasku," batin Zen.
Guru Tao Ming segera melesat keluar dari dalam arena pertandingan, yang menyatakan jika pertarungan di atas arena pertandingan telah dimulai.
"Zen..., aku tak menyangka jika kau mampu sampai ke babak ini, dan aku bisa merasakan bagaimana perjuangan mu itu karena sebelumnya aku pun pernah berada di bawah".
"Sebenarnya Aku tak ingin menyakitimu tapi karena ini merupakan kesempatanku berada di akademi pusat Kunlun, maka aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu," ucap Lin Yan.
"Saudara Lin Yan, aku pun telah menunggu hari ini di mana sebuah kesempatan terbuka bagiku untuk berlatih di Akademi pusat Kunlun, dan akupun akan mengeluarkan seluruh kemampuanku untuk dapat meraih impianku itu, jadi kau tak usah ragu padaku karena aku pun takkan ragu untuk bertarung dengan mu," jawab Zen.
__ADS_1
Terlihat Lin Yan menganggukkan kepalanya kemudian mengeluarkan kekuatannya dengan terlihatnya kobaran api dari dalam tubuhnya.
Zen tak tinggal diam dia pun langsung mengeluarkan aura dingin dari dalam tubuhnya, yang menandakan jika dia telah siap untuk pertarungan itu.
Lin Yan kemudian menyerang ke arah Zen, dengan terlihatnya debu debu yang berterbangan akibat kecepatan serang yang dilakukan oleh Lin Yan.
Disisi lain, Zen dengan kekuatan air hitamnya melakukan sedikit gerakan hingga menimbulkan kelembaban udara di sekitarnya, yang membuat pergerakan Zen semakin meningkat seiring bertambahnya kelembaban udara yang ada di sekitarnya.
Pertarungan jarak dekat pun tersaji, saling serang dan saling tangkis menghiasi pertarungan yang terjadi, hingga beberapa menit berlalu tak ada satupun dari keduanya yang merasa terdesak ataupun kelelahan.
Lin Yan kembali meningkatkan kekuatannya dengan bertambah besarnya kobaran api di tubuhnya. Saat ini Lin Yan telah mengeluarkan kekuatan ranah langit awal yang dimilikinya, untuk segera mengakhiri pertarungan yang terjadi.
Zen yang merasakan tekanan menindas akibat Aura kuat yang keluar dari tubuh Lin Yan, segera mengeluarkan kekuatan ranah awan puncak yang dimilikinya, untuk memblokir tekanan kuat yang mengarah padanya.
Walau pun perbedaan ranah tingkatan bagaikan langit dan bumi antara dirinya dan Lin Yan, akan tetapi Zen tak berputus asa, dengan sekuat tenaga Zen terus melakukan perlawanan yang gigih dalam menghadapi Lin Yan, hingga pertarungan jarak dekat itu berujung bertemunya kedua tinju yang dialiri energi murni, akibatnya ledakan keras pun terdengar di atas arena pertandingan
Lie Yan terseret beberapa meter ke belakang, sementara Zen harus terhempas dengan keras ke atas arena pertandingan.
Sesaat Zen bergulingan di atas arena pertandingan sebelum dirinya kembali bangkit berdiri.
Zen kemudian kembali menarik kelembaban udara di sekitar tempat itu hingga tercipta butiran-butiran air yang kini menyebar di udara, dengan kibasan tangannya maka butiran butiran air itu langsung menuju ke arah Lin Yan.
Butiran air yang merupakan teknik embun pagi penghancur Sukma yang dikeluarkan Zen, tak dapat berbuat banyak saat Lin Yan meningkatkan suhu panas di sekitar tubuhnya, yang membuat butiran-butiran air yang melesat ke arahnya memuai dan menghilang dalam sekejap mata.
Marilyn menjadi sangat gelisah saat melihat Zen tak mampu untuk melakukan serangan-serangan fatal ke arah Lin Yan, yang membuatnya bertanya kepada Shio Fang mengenai pertarungan Zen di atas arena pertandingan.
"Menurutmu bagaiman posisi Zen dalam pertarungan itu?" tanya Marilyn.
"Saat ini posisi Zen tak menguntungkannya, karena tingkat kekuatan yang dimilikinya masih berada di bawah Lin Yan, seandainya tingkat kekuatan Zen dapat menyamai Lin Yan maka akan sulit bagi Lin Yan untuk mengatasi teknik embun pagi penghancur Sukma yang dilepaskan oleh Zen," jawab Shio Fang.
"Apakah Zen akan kalah dalam pertarungannya itu?" tanya Marilyn.
"Saat ini aku tak bisa mengambil kesimpulan yang pasti. Walaupun keadaan Zen masih di bawah tingkat kekuatan Lin Yan, tapi aku yakin jika Zen tak akan semudah itu menyerah, dia pasti akan berjuang habis-habisan untuk kemenangannya, karena Zen telah berjanji padaku untuk pergi bersama ke Akademi pusat Kunlun dalam berlatih di sana," jawab Shio Fang.
Pertarungan di atas arena mulai menunjukkan jika Zen mulai mendapatkan kendala menghadapi serangan serangan cepat yang di lancarkan Lin Yan, sehingga sebuah tendangan telak dari Lin Yan berhasil mendarat ketubuh Zen, dan untuk kedua kalinya Zen harus terhempas mencium lantai arena pertandingan.
Zen merasakan jika di bagian tulang rusuknya ada yang patah sehingga membuatnya sangat kesakitan, tapi dengan semangat yang berkobar di hatinya rasa sakit itu tak di hiraukannya.
__ADS_1
Lin Yan mendekat ke arah Zen kemudian berkata. "Menyerahlah sebelum luka-luka di tubuhmu semakin parah akibat serangan serangan ku," ucapnya.
"Sudah kukatakan Aku tak akan mungkin menyerah secepat itu, karena aku mempunyai impian yang harus ku raih dengan mengalahkan mu," jawab Zen dengan kembali berdiri.
Zen kembali menarik kelembaban udara di sekitar tempat itu, kemudian menampakkan tangannya ke tanah sehingga tehnik penjara hidup pun tercipta.
Tiba tiba di permukaan arena pertandingan dipenuhi dengan genangan air yang semakin lama semakin membesar, dan air itupun kini membentuk penjara yang mengurung Lin Yan di dalamnya.
Dari dalam genangan air keluar dua tangan yang tercipta dari air hitam yang memadat, dan langsung menangkap kedua kaki Lin Yan untuk di tarik masuk kedalam air hitam yang semakin lama semakin meluap.
Lin yang telah mengetahui teknik itu sebelumnya dari pertarungan Zen dan Liunza beberapa bulan yang lalu, membuatnya langsung mengarahkan kekuatan elemen apinya ke arah arena pertandingan, sehingga membuat air hitam di atas arena pertandingan bergejolak hebat dan perlahan lahan mulai menguap.
Mengetahui hal itu Zen segera menciptakan segel dan membuka tabir langit, dengan menggunakan tehnik terkuat yang di milikinya untuk dapat memenangkan pertarungan itu.
"Tehnik misterius air hitam," ucap Zen.
Tiba tiba saja air hitam semakin meluap hingga membentuk ratusan tangan dari dalamnya, dan tangan tangan itu berlomba lomba untuk meraih tubuh Lin Yan.
Lin Yan tak tinggal diam, tiba tiba saja dari tubuhnya keluar cahaya putih yang menyilaukan mata, dan menjadi kumpulan bola energi besar yang membuat tangan tangan hitam yang menggapainya hancur dan menguap.
Zen menghantamkan tangan nya kepermukaan air untuk kedua kalinya, maka dari dalam air keluar empat lumba-lumba hitam dari 4 penjuru mata angin, dan langsung melompat keatas menuju satu tujuan yaitu keberadaan Lin Yan.
Melihat serangan 4 lumba lumba hitam dari empat penjuru mata angin yang berbeda, membuat Lin Yan langsung mengeluarkan seluruh kekuatan yang dimilikinya, hingga bola energi besar tercipta dan menyambut datangnya ke empat lumba-lumba besar yang mengarah padanya.
Ledakan besar energi di tempat itu langsung menyebar ke udara yang membuat Zen terhempas keras ke arena pertandingan untuk yang ketiga kalinya. Sesaat dia pun memuntahkan darah segar dan berusaha bangkit dari keterpurukannya, tapi keadaannya tak memungkinkan dia untuk dapat berdiri kembali karena pandangan matanya mulai kabur, dan pijakannya pun mulai goyah sehingga tak bisa menopang berat tubuhnya.
Sesaat Zen menatap ke arah sahabatnya Shio Fang yang duduk di podium para peserta pertandingan, kemudian mengangkat tangan kirinya untuk menggapai ke arahnya.
"Maafkan aku Shio Fang..., aku tak bisa ikut bersamamu ke Akademi pusat Kunlun karena kekalahanku dalam pertarungan ini," bisik Zen kemudian diapun tergeletak tak sadarkan diri.
Sementara itu Lin Yan yang menahan serangan dari Zen, harus terpental keluar arena pertarungan karena daya dorong yang begitu kuat menerpanya. Karena kondisinya tak terlalu parah dia pun langsung melesat kembali ke atas arena pertandingan dan menuju ke arah Zen.
Dengan cepat Lin Yan meraih tubuh Zen dan berteriak...
"Cepat tolong Zen...!!" ucapnya sambil melesat kearah anggota balai pengobatan yang datang kearahnya.
Bersambung
__ADS_1