
Roh jiwa Canglong telah kembali ke tubuh kasarnya dan secara perlahan dia pun membuka matanya.
Linyosi begitu sangat senang melihat Canglong baik-baik saja dan dia pun kemudian berkata di dalam hati. "Sepertinya paman Canglong telah berhasil mengalahkan Shio Fang, kini giliranku untuk memberikannya pelajaran".
Linyosi kemudian melangkahkan kakinya untuk menuju ke penginapan tempat Shio Fang berada, karena dia yakin jika pemuda itu tengah terluka dan hal ini dapat dimanfaatkan olehnya untuk dapat membalaskan rasa sakit hatinya setelah kehilangan keperawanannya oleh Shio Fang.
"Mau kemana kau?" tanya Canglong dengan penekanan di perkataannya saat melihat Linyosi melangkah pergi.
"Aku akan pergi ke tempat Shio Fang berada, karena aku yakin saat ini dia tengah terluka sehabis bertarung dengan paman," jawab Linyosi.
"Aku tak pernah mengalahkannya dalam sebuah pertarungan, malah aku mengakui kekalahanku dalam pertarungan itu, jika pemuda itu mau maka dengan mudah dia dapat membunuhku".
"Linyosi...., semua yang terjadi padamu hanya kesalahpahaman belaka tak seperti yang ada di dalam pikiranmu mengenai Shio Fang. Kau tak pernah kehilangan kesucian karena Shio Fang tak pernah melakukannya," ucap Canglong.
"Tapi paman dia benar benar telah menodaiku," bantah Linyosi dengan wajah marah karena paman Canglong lebih membela Shio Fang.
"Ha... ha... ha..., aku tak pernah menyalahkanmu mengingat tanda kesucian yang melekat di lengan kirimu telah menghilang dari dirimu, namun hal itu bukanlah kejadian yang sebenarnya karena Shio Fang telah menyegel tanda kesucianmu itu, hingga tak bisa dilihat oleh para praktisi hebat di ranah semesta bintang 6 ke bawah termasuk diriku, semua itu untuk memberikan pelajaran kepadamu karena Shio Fang merasa jika telah banyak korban sebelumnya, dari kekuatan ilusi pesona milikmu".
"Linyosi jika kau ingin mendapatkan tanda kesucianmu kembali maka kau harus menemuinya untuk meminta Shio Fang melepaskan segel itu," ucap Canglong.
Linyosi begitu sangat terkejut mendengar perkataan dari Canglong, dia tak menyangka jika dirinya masih perawan dan belum ternodai oleh Shio Fang.
Linyosi meremas tinjunya menahan kekesalan di dalam hatinya, dia tak menyangka jika selama ini Shio Fang benar-benar telah mempermainkannya.
"Paman Canglong.., aku ingin Paman mengantarkanku untuk menemuinya," pinta Linyosi.
"Mengapa kau tak datang sendiri, apakah kau merasa malu untuk menemuinya?" tanya paman Canglong.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Linyosi, dia hanya bisa menahan gejolak di dalam hatinya, biar bagaiman pun Linyosi telah menuduh Shio Fang sebagai orang yang telah menodainya dan hal itulah yang membuat Linyosi merasa malu untuk berhadapan sendiri dengan Shio Fang.
Melihat diamnya Linyosi membuat Canglong kemudian berkata. "Baiklah ..., aku akan menemanimu untuk menemuinya tapi aku takutkan kau akan jatuh cinta kepada pemuda itu, karena pemuda itu cukup tampan dan memiliki kemampuan hebat yang dapat melampaui kekuatanku di usianya yang semuda itu," ucap Canglong.
Wajah Linyosi kemudian memerah dan dia sadar jika apa yang dikatakan paman Canglong benar adanya, jika Shio Fang memiliki wajah yang lumayan tampan dan juga memiliki kemampuan hebat sebagai seorang praktisi muda.
"Aku tak boleh jatuh cinta padanya dan aku tak ingin menjilat ludahku ku sendiri di hadapan paman Canglong," batin Linyosi.
Setelah percakapan kecil terjadi di antara keduanya, Linyosi dan paman Canglong saat ini berjalan menuju ke rumah makan besar untuk menemui Shio Fang di dalam penginapannya.
Linyosi begitu sangat gelisah setelah sampai di depan pintu kamar Shio Fang, namun paman Canglong segera menenangkannya.
__ADS_1
"Kau tak perlu gelisah seperti itu karena aku bersamamu," ucap paman Canglong.
Linyosi pada akhirnya menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan dari Paman Canglong.
Di dalam kamar, Shio Fang yang saat ini tengah melakukan kultivasi penyerapan energi alam menggunakan kekuatan spiritual pelahap kekosongan, pada akhirnya membuka matanya setelah mendengar adanya ketukan di pintu kamarnya.
Dengan segera Shio Fang berjalan ke arah pintu dan membukanya. Shio Fang hanya bisa tersenyum saat melihat Linyosi berada bersama Canglong.
Silahkan masuk paman, sepertinya ada seseorang yang tak berani menemuiku secara langsung setelah hal buruk yang selama ini dia lakukan padaku," ucap Shio Fang.
Canglong hanya bisa tersenyum mendengar perkataan dari Shio Fang, namun beda dengan Linyosi yang saat ini terlihat seperti cacing kepanasan yang langsung melototi Shio Fang dengan sumpah serapah yang keluar dari mulutnya.
"Sudah ..., sudah..., kau jangan lagi berkata kasar kepada tuan muda Shio Fang, ada baiknya kita segera masuk ke dalam untuk membicarakan segel yang tertanam di lengan kirimu," ucap Canglong.
Mendengar perkataan dari paman Canglong, Linyosi pada akhirnya terdiam dan ikut masuk ke dalam kamar Shio Fang.
Mereka bertiga pada akhirnya berbincang-bincang kecil, dan disaat itu paman Canglong ingin meminta Shio Fang untuk segera melepaskan segel di lengan kiri Linyosi, namun hal itu segera ditepis oleh Shio Fang dengan berkata.
"Aku akan melepaskan segel itu jika wanita muda yang sok cantik ini meminta maaf di hadapanku," ucapnya.
Linyosi seketika itu menggigit bibirnya, rasa gengsi yang sangat tinggi seketika itu juga membuatnya tak ingin meminta maaf kepada Shio Fang, dan cenderung menyalahkan pemuda itu sebagai orang yang ingin memanfaatkannya.
"Dasar wanita ini terlalu egois dan tak mudah mengeluarkan kata maaf, baiklah aku ingin melihat sampai kapan kamu dapat bertahan dengan keegoisan mu itu," batin Shio Fang.
Canglong yang dapat membaca pikiran Shio Fang kemudian berkata. "Tuan muda Shio Fang, maafkanlah keponakanku ini yang memiliki hati sekeras batu, dan jika tuan muda mau memaafkannya maka aku akan membantu tuan muda untuk mencari tahu keberadaan peta tempat di mana istana Raja Dewa obat berada," ucap Canglong.
Shio Fang sesaat menatap ke arah laki-laki paruh baya yang ada di hadapannya kemudian mencerna perkataannya, setelah beberapa saat lamanya terdiam, Shio Fang pada akhirnya berkata.
"Baiklah paman, aku akan memaafkan Linyosi," jawab Shio Fang.
Setelah berkata seperti itu Shio Fang kemudian mengibaskan tangannya dan sedetik kemudian segel yang menutupi tanda merah di lengan kiri Linyosi pun hancur, dan seketika itu juga tanda merah sebesar biji kacang hijau pada akhirnya terlihat di sana.
Linyosi begitu sangat senang saat melihat tanda merah itu, dia sama sekali tak menyangka bahwa dirinya masih Suci dan belum terjamah oleh laki-laki manapun.
Namun hanya sesaat keceriaan itu terlihat di wajahnya, kini Linyosi menatap ke arah Shio Fang sambil berkata.
"Sekarang keluarkan racun yang kau tanam di tubuhku," ucap Linyosi dengan penekanan di perkataannya.
Mendengar perkataan dari Linyosi, Shio Fang kemudian tertawa kecil yang membuat wajah Linyosi kembali memerah menahan amarah.
__ADS_1
Shio Fang saat ini benar-benar ingin memberikan pelajaran sekali lagi kepada Linyosi, setelah tindakannya yang tak sopan kepadanya setelah pertemuannya kali ini.
"Aku akan sekali lagi memberikanmu pelajaran karena kau telah berani tak sopan kepadaku," batin Shio Fang dengan senyuman penuh kelicikan.
"Nona Linyosi aku tak pernah memberikan racun kepada dirimu, dan jika kau sangsi kau boleh menanyakannya pada tetua Canglong mengenai kondisi tubuhmu saat ini," ucap Shio Fang.
"Lalu apa yang telah kau berikan pada waktu itu, di saat kau memintaku untuk mencari informasi mengenai istana raja dewa obat di wilayah tengah ini?" tanya Linyosi.
"Waktu itu aku tak mempunyai pilihan lain karena keterbatasan ku akan pil racun, saat itu aku sengaja mengumpulkan semua daki yang ada di tubuhku hingga membentuk sebuah bulatan kecil, dan daki itulah yang telah masuk ke dalam tubuhmu," ucap Shio Fang sambil tertawa lepas.
"Kau....!!" pekik Linyosi dengan amarah yang saat ini meluap-luap.
Seketika itu juga Linyosi merasakan mual yang teramat sangat, hingga dia pun harus memuntahkan semua isi perutnya di tempat itu.
Setelah dapat menguasai dirinya kembali, Linyosi kemudian mencabut pedang dan diarahkan kepada Shio Fang.
Canglong yang melihat hal itu segera memukul tengkuk belakang wanita muda itu, yang membuat linyosi langsung terkulai tak berdaya karena dirinya saat ini telah tak sadarkan diri.
Canglong melakukan hal itu karena saat ini Linyosi benar-benar kalap, sehingga apapun yang dikatakan nya sama tak di gubris oleh wanita muda itu.
"Tetua Canglong, maafkan aku karena harus berbohong agar dapat memberi pelajaran lagi padanya," ucap Shio Fang.
"Kau tak usah meminta maaf seperti itu karena keponakanku ini memang sangatlah keras kepala, mungkin karena aku terlalu memanjakannya selama ini," jawab Canglong.
"Tetua jika dia adalah keponakan mu berarti anda berasal dari suku rubah ekor 9 bukan?" tanya Shio Fang menyelidik.
"Dengan tertawa getir Canglong kemudian berkata. "Aku bukanlah dari suku rubah ekor 9 dan dia adalah wanita muda yang kuangkat sebagai keponakanku dan bahkan telah ku anggap sebagai putriku sendiri".
"Di masa lalu saat itu aku tengah bertarung melawan seorang tetua dari suku naga, dan aku berhasil membunuhnya walaupun aku juga terluka parah".
Linyosi menemukanku saat dirinya mencari tumbuhan obat di dalam hutan, dan dengan kemampuan alkemis yang dimilikinya dia mampu untuk menyembuhkan ku.
Namun tak di sangka para anggota dari suku naga masih mencari ku dan menemukanku kembali.
Pertarungan pun tak terhindarkan, walaupun aku dan Linyosi berhasil membunuh para praktisi suku naga itu, namun salah satu roh jiwa praktisi itu mampu melarikan diri dan mengabarkan pembunuhan anggota suku naga oleh kami berdua.
Demi keselamatan Linyosi yang telah menyelamatkanku dari suku naga, maka aku membawanya ke wilayah tengah dan hal itu tak mendapatkan penolakan darinya karena bagi Linyosi keselamatan sukunya dari serangan suku naga lebih berharga, dan hal itulah yang membuat dirinya memilih untuk ikut bersamaku ke wilayah tengah ini," ucap Canglong.
Shio Fang pada akhirnya terdiam dan merasa iba kepada Linyosi, dia tak menyangka jika wanita cantik itu lebih memilih mengorbankan dirinya untuk pergi meninggalkan suku rubah ekor 9, daripada melihat kehancuran sukunya di tangan suku naga setelah suku naga mengetahui jika dirinya berasal dari suku rubah ekor 9.
__ADS_1
Bersambung.