
Setelah kepergian Linyosi dari kamarnya, Shio Fang dengan perlahan mulai duduk bersila.
"Aku harus bisa," batin Shio Fang.
Shio Fang kemudian mulai melakukan kultivasi di atas pembaringannya, akan tetapi setelah berusaha cukup lama untuk mengeluarkan energi murni di dalam tubuhnya, Shio Fang masih belum bisa berkultivasi karena Dantiannya terasa terkunci hingga seluruh energi murni yang berada dalam Dantiannya, tak mampu di salurkan melalui merindian hingga Shio Fang sama sekali tak memiliki kemampuan untuk memulihkan dirinya.
"Gabungan kekuatan Toti telah merusak seluruh dantianku hingga aku saat ini tak memiliki kemampuan apa-apa lagi, apakah aku harus berakhir menjadi sampah seperti ini," batin Shio Fang dengan menghembuskan nafas berat dari mulutnya.
Dari kejauhan putri Linzi dapat melihat apa yang telah dilakukan oleh Shio Fang, dari jendela yang terbuka. Putri Linzi menggigit bibirnya sendiri merasakan penderitaan yang saat ini dirasakan oleh Shio Fang, biar bagaimanapun setelah pertemuannya pertama kali, putri Linzi dapat merasakan jika pemuda itu adalah pemuda berbakat dengan berjuta kemampuan, namun saat ini pemuda itu sama sekali tak memiliki kemampuan apa-apa layaknya orang biasa, dan hal itu menimbulkan rasa empati pada diri Putri Linzi.
"Aku pasti akan membantu mu untuk mengembalikan kekuatan mu seperti dulu, walaupun dalam melakukan hal itu aku harus kehilangan kesucianku," batin putri Linzi dengan tekad yang tulus pada Shio Fang.
Putri Linzi pada akhirnya berjalan ke tempat Shio Fang berada setelah melihat Shio Fang telah kembali merebahkan diri di pembaringan.
Setelah mengetuk pintu kamar pada akhirnya putri Linzi masuk ke dalam kamar Shio Fang.
"Bagaimana kabarmu tuan muda," tanya putri Linzi kemudian meletakkan keranjang yang berisi sup ginseng untuk meningkatkan kekuatan di atas meja.
"Aku dalam keadaan baik," jawab Shio Fang dengan senyumannya.
__ADS_1
Putri Linzi lantas mengganti bunga yang layu di atas meja dengan bunga baru yang dikeluarkan dari dalam keranjang makanan yang di bawanya, kemudian mengeluarkan semangkuk sup ginseng yang dibuatnya sendiri bagi Shio Fang, setelahnya putri Linzi membawa sup ginseng itu kehadapan Shio Fang.
"Tuan muda biarkan aku membantumu untuk memakan sup ginseng ini, karena sub ginseng ini sangat bagus bagi kesehatan mu," ucap putri Linzi sambil menyuapi Shio Fang.
"Putri.., aku masih bisa memakan sendiri sup ginseng ini, terima kasih atas segala bantuanmu padaku dan maafkan aku karena telah merepotkan mu," ucap Shio Fang sambil meraih mangkuk sup yang ada di tangan putri Linzi, akan tetapi putri Linzi tidak memberikan mangkok sup itu malahan dia langsung menyodorkan sendok yang berisikan sup ginseng ke mulut Shio Fang, yang membuat Shio Fang pada akhirnya mau memakan sup ginseng pemberian dari putri Linzi.
"Aku tak pernah direpotkan olehmu," ucap putri Linzi dengan terus menyuapi Shio Fang, hingga akhirnya sup ginseng itu pun habis tak tersisa.
Setelah itu tanpa canggung putri Linzi membersihkan mulut Shio Fang menggunakan kain, dan hal itu tentu saja membuat Shio Fang bertanya-tanya mengapa putri Linzi memperlakukannya seperti itu.
Setelah putri Linzi berada di kamarnya, diapun memejamkan matanya dan mengingat kembali apa yang baru saja dilakukannya pada Shio Fang, dan tentu saja hal itu membuat dirinya sangat malu karena begitu sangat agresif di depan seorang pemuda.
"Apapun rasa malu itu aku harus menghilangkannya dari hatiku Karena aku telah memutuskan untuk menyembuhkanmu agar di masa depan suku rubah ku tak memiliki rasa hutang budi kepadamu," batin putri Linzi.
Sementara itu di alam jiwa tempat keberadaan kelompok Shio Fang , kini telah terjadi pertarungan antara leluhur Yanlao dengan tiga saudara Shio Fang, ketiga Saudara Shio Fang saat ini benar-benar marah karena leluhur Yanlao membawa ketiganya pergi untuk meninggalkan Kakak pertamanya bertarung sendiri menghadapi dua suku penguasa.
Leluhur Yanlao yang merasa bersalah pada akhirnya mengalah dari pertarungan yang ada, hingga membuat dirinya harus terhempas jauh ke belakang saat sebuah tendangan dari Shio Chen mendarat telak di dadanya.
Darah segar seketika itu mengalir di sudut bibi tetua Yanlao, namun dia tetap berdiri untuk memberikan tubuhnya sebagai bulan bulanan dari serangan ketiga saudara Shio Fang yang marah kepadanya.
__ADS_1
Dengan perlahan leluhur Yanlao berkata. "Aku hanya menjalankan perintah yang diberikan oleh tuan muda Shio Fang, apakah aku harus menolak perintah itu sementara permintaan itu wajib aku lakukan," ucap leluhur Yanlao.
Ketiga saudara Shio Fang pada akhirnya menghentikan serangan itu, karena perkataan dari leluhur Yanlao barusan telah menyadarkan mereka bertiga jika apa yang dilakukan leluhur Yanlao memang merupakan perintah langsung dari kakak pertamanya, dan jika posisi itu ada pada diri mereka bertiga maka mereka pun akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh leluhur Yanlao, karena mereka bertiga tahu sifat dan karakter Kakak pertamanya itu.
Pada akhirnya ketiga saudara Shio Fang hanya dapat diam mematung di tempat berada, karena mereka bertiga saat ini tak memiliki niat untuk menyerang leluhur Yanlao kembali.
Shio Ju yang tadinya diam pada akhirnya angkat bicara. "Saat ini kontrak darah didalam tubuhku antara aku dan kak Shio Fang telah menghilang, yang berarti saat ini kak Shio Fang telah mati. Aku tak akan tinggal diam setelah kematiannya, walaupun aku tak bisa menghancurkan suku jiwa yang memiliki praktisi hebat di dalamnya, akan tetapi aku pasti bisa memusnahkan suku naga dari dunia surgawi ini, aku akan berlatih di alam jiwa untuk dapat menembus batasanku hingga mampu bagiku menyerang suku naga yang telah membunuh Kakak pertamaku," ucapnya.
Shio Chen dan leluhur Yanlao yang pada dasarnya juga telah terikat kontrak darah dengan Shio Fang, juga telah mengetahui jika kontrak darah di dalam tubuhnya pun telah menghilang, dan hal itu tentu saja membuat kedua praktisi hebat itu berkeinginan untuk membalas apa yang telah dilakukan suku jiwa dan suku naga pada Shio Fang.
"Aku pun akan berlatih di alam jiwa itu karena aku pun ingin membalas kematian dari tuanku mudaku," ucap leluhur Yanlao dengan riak amarah di kedua bola matanya.
"Akupun akan melakukan hal yang sama, aku akan berlatih untuk menembus batasanku agar dapat membalaskan kematian kakak pertama," timpal Shio Chen.
Shio Zen yang tadinya diam pada akhirnya berkata. "Jika kalian berdua memutuskan untuk berlatih di alam jiwa ini sampai menembus batasan kemampuan yang kalian miliki, maka aku pun akan melakukan hal yang sama dan untuk itu kita semua bersepakat akan membalaskan denda kematian kakak pertama," ucapnya.
Setelah kesepakatan terjadi pada akhirnya mereka berempat memulai pelatihan hari itu juga, tekad mereka berempat telah bulat untuk membalaskan kematian Shio Fang yang telah dianggap mati, pada dua suku penguasa yang telah membunuhnya.
Bersambung
__ADS_1