
"Kau selalu saja pergi berlatih, dan akan selalu lama untuk kembali pulang. Aku juga perlu perhatianmu untuk sekedar berjalan-jalan keluar dari istana ini," ucap putri Bilqis merajuk.
"Sayang Aku melakukan pelatihan semua itu untuk dapat membuatku menjadi kuat, aku harus secepatnya mencari batu kristal semesta yang berada di 6 titik di dalam alam surgawi, untuk melakukan tugas dari para dewa dalam menjaga susunan alam semesta.
"Setelah aku berhasil mengumpulkan semua batu kristal semesta maka kita akan kembali bersama, Dan aku berjanji padamu Jika aku takkan pernah lagi meninggalkanmu," ucap Shio Fang.
Putri Bilqis perlahan mengelus perutnya yang besar, Sang Putri begitu takut saat hari di mana suaminya akan pergi meninggalkannya untuk mencari batu kristal semesta, karen saat itu putri bilqis pernah berkata jika bayi yang ada di dalam kandungannya telah lahir, maka hari itu merupakan hari dimana Shio Fang akan pergi meninggalkannya.
Putri bilqis hanya dapat menggigit bibirnya dan merasakan sesak di dadanya saat merasakan hal itu, Shio Fang yang dapat melihat ekspresi perubahan wajah istrinya, seketika itu juga meraih tubuh sang istri lalu menggendongnya.
"Kau tak usah berpikir yang macam-macam, ingat saat ini kau tengah mengandung anakku dan aku tak ingin terjadi apa-apa pada kalian berdua, sayang..., aku pasti akan menepati janjiku setelah kepergianku kembali," ucap Shio Fang.
Pagi hari Shio Fang mengajak Putri Bilqis berjalan-jalan di kota, mereka berdua sengaja tak menggunakan pakaian mewah dan terkesan seperti layaknya orang biasa, sehingga tak ada satupun dari penduduk kota yang mengetahui jika mereka berdua adalah pangeran dan putri dari kekaisaran Jiangma.
Shio Fang dengan setia menuntun kuda yang ditunggangi Sang Putri, dan putri Bilqis begitu sangat senang jalan-jalan di kota dengan sang suami tanpa harus diketahui oleh para penduduk kota tentang keberadaannya, karena jika sampai mereka mengetahuinya maka hal itu akan membuat keramaian di dalam kota.
Sesampainya di sebuah aula pernak pernik perhiasan, putri Bilqis meminta turun dari atas kuda karena dia ingin melihat barang-barang yang ada di dalam aula tersebut.
"Kak Shio Fang aula ini begitu sangat besar, dan pengunjungnya sangatlah ramai, aku ini melihat perhiasan di dalam sana siapa tahu aku tertarik dengan salah satu perhiasan itu," ucap putri Bilqis dengan senyuman yang merekah di bibirnya.
Shio Fang membalas senyuman sang istri, kemudian dia menyerahkan kuda yang dibawanya kepada pelayan aula perhiasan, kemudian membawa Putri bilqis untuk masuk ke dalam aula perhiasan.
Di dalam toko besar itu banyak sekali anak saudagar maupun anak dari petinggi kota yang melihat-lihat perhiasan di sana, dan taklama kemudian seorang laki-laki yang merupakan bagian dari aula besar itu berkata.
__ADS_1
"Hari ini akan diadakan lelang lima perhiasan yang sangat menarik bagi kaum wanita, dan perhiasan ini memiliki kharisma tinggi dari masa lalu, jika hadirin semua ingin menghadiri pelelangan itu maka kalian semua bisa pergi ke sisi kanan aula ini, karena di sana merupakan tempat untuk melakukan lelang kelima perhiasan itu," ucapkan laki-laki itu.
Semua orang yang berada di dalam aula menjadi sangat penasaran dengan kelima perhiasan yang akan dilelang, begitupun dengan Putri Bilqis diapun langsung mengajak Shio Fang untuk pergi ke tempat pelelangan.
Shio Fang tak menolak keinginan istrinya, dia pun lalu menemani Putri bilqis menuju ke sana.
Tak disangka oleh Shio Fang, gedung tempat terjadinya pelelangan telah dipenuhi dengan banyak orang, sehingga Shio Fang agak kesulitan mencari kursi bagi istrinya.
Shio Fang yang melihat ada satu kursi kosong di atas podium utama lelang yang merupakan kursi VIP, segera mendatanginya bersama putri Bilqis.
"Aku menginginkan kursi ini bagi istriku, berapakah yang harus ku bayar agar dapat menepati kursi ini? tanya Shio Fang.
"Kursi itu aku yang memilikinya, dan kau tak pantas untuk menduduki kursi tersebut," ucap seorang pemuda yang baru saja datang dengan beberapa pengawal yang ada di belakangnya.
"Paman siapakah sebenarnya tuan muda Hai Ming itu?" tanya Shio Fang.
"Tuan muda Hai Ming merupakan Putra walikota Hai Sung, yang merupakan pejabat kekaisaran yang mengurus kota ini," jawabnya.
Shio Fang mengangguk-anggukkan kepalanya, dia sama sekali tak menyangka jika Putra walikota yang mengurus kekaisaran kota, bisa sangat arogan seperti ini.
Setelah Hai Ming berada di hadapan Shio Fang, maka Shio Fang lantas berkata.
"Istriku tengah mengandung, dapatkah aku yang mendapatkan kursi ini," pinta Shio Fang.
__ADS_1
"Aku tak perduli, aku yang terlebih dahulu mendapatkan kursi ini dan aku pun telah membayarnya," ucap Hai Ming berbohong, karena sebelumnya dia datang terlambat sebelum Shio Fang berada di atas podium VIP.
Shio Fang yang tak mau mencari keributan lantas dia pun berkata.
"Jika begitu izinkan aku untuk mengganti kerugian anda," ucap Shio Fang.
"Aku Akan tetap menduduki kursi ini untuk mengikuti lelang, dan kuharap kau segera pergi dari hadapanku jika tidak aku akan mengurus mu," ucap Hai Ming dengan penekanan perkataannya.
Amarah Shio Fang memuncak setelah mendengar perkataan dari Hai Ming, namun sebelum Shio Fang benar-benar turun tangan untuk menghajar Hai Ming, putri Bilqis telah menarik tangan Shio Fang untuk tak melakukan keributan di tempat itu.
"Kak Shio Fang Aku ingin jalan jalan untuk mencari kesenangan denganmu bukan untuk mencari keributan, biarlah kita yang mengalah karena aku tak akan apa-apa jika harus berdesak-desakan dengan para pengunjung yang lainnya dalam mengikuti lelang ini," ucap putri Bilqis.
Di kursi VIP yang lain, tampak seorang wanita yang begitu kasihan dengan keadaan putri Bilqis yang tengah hamil, diperlakukan seperti itu oleh Hai Ming lantas wanita muda itu pun berkata.
"Biarkan istrimu duduk di kursiku, karena tak baik bagi seorang wanita hamil berdesak-desakan dengan para pengunjung yang ada di dalam ruangan ini," ucap wanita itu.
Wanita itu merupakan putri dari saudagar kaya Wubai, yang bernama Wulan, sengaja dia datang ke tempat itu untuk mengikuti jalannya lelang yang terjadi.
"Trimakasih atas semua bantuan nona pada istriku," ucap Shio Fang.
Tiba tiba suara Hai Ming berkata.
"Nona Wulan bukankah sebuah kebodohan bagimu untuk menyerahkan kursi itu pada kedua orang ini, kau terlihat seperti pahlawan kesiangan di mataku," ucap Hai Ming memprovokasi Wulan.
__ADS_1
Wulan yang mendengarkan perkataan dari Hai Ming sama sekali tak menggubrisnya, karena dia tahu jika dia melayani perkataan dari Hai Ming, maka masalah akan berbuntut panjang sehingga Wulan memutuskan untuk memilih diam.