
Perjalanan pulang menuju ke Akademi kunlun kini mereka lakukan, Shio Fang yang merupakan ketua kelompok itu memimpin mereka semua hingga tiba pada sebuah kota yang telah termasuk dalam wilayah kekaisaran cahaya surga.
"Ada baiknya kita beristirahat sejenak di kota ini untuk mengisi perut, kebetulan aku sudah sangat lapar," ucap Shio Fang.
Ketiga saudaranya menganggukkan kepala dan tak lama kemudian mereka berempat berjalan menuju ke sebuah rumah makan besar yang ada di kota itu.
Kota itu bernama kota Linggan, yang berada di sisi Timur kekaisaran cahaya surga.
Kota Linggan begitu ramai dengan para penduduk yang berlalu lalang di jalan besar kota, dengan segala aktivitas keseharian mereka.
Kelompok Shio Fang saat ini tengah memasuki sebuah rumah makan besar di kota itu, tampak rumah makan begitu sangat padat dengan para pengunjung yang ingin merasakan cita rasa masakan di dalam rumah makan besar itu.
Kelompok Shio Fang berjalan menuju meja di sudut ruangan karena hanya meja itu yang masih terlihat kosong, yang belum ditempati oleh para pengunjung yang datang ke tempat itu.
Kelompok Shio Fang melangkahkan kaki menuju meja itu namun sebelum mereka menduduki kursi yang ada di sudut ruangan, tiba-tiba dua orang pemuda menerobos dan menempati kursi yang ada di sudut ruangan, tentu saja apa yang dilakukan oleh kedua pemuda itu membuat kelompok Shio Fang merasa kesal.
Shio Fang sesegera mungkin meredam amarah adik-adik nya, agar masalah yang terjadi tak mengganggu para pengunjung lain yang berada di tempat itu.
"Kami telah memilih tempat ini tapi mengapa anda berdua menerobos dan menempatinya?" tanya Shio Fang dengan berusaha menekan amarahnya.
Terlihat keduanya tak menggubris perkataan Shio Fang, malah salah seorang pemuda itu berteriak. "Pelayan Segera bawakan makanan terenak di rumah makan ini!!" ucap salah seorang pemuda.
Sang pelayan yang melihat siapa pemuda itu, seketika itu juga langsung membawa makanan-makanan terbaik yang ada di rumah makan, kearah meja kedua pemuda sehingga meja itu saat ini dipenuhi dengan berbagai macam makanan mewah di atasnya.
Shio Chen dan Shio Ju yang melihat ketidak sopanan kedua pemuda itu kepada kakak pertama nya, seketika itu juga meraih kedua pemuda itu dan melemparkannya keluar dari dalam rumah makan.
Sontak saja apa yang dilakukan oleh Shio Chen dan Shio Ju membuat seisi rumah makan menjadi menegang, namun melihat dan mengetahui jika dalam permasalahan itu kedua pemuda itu yang salah, akhirnya para pengunjung tak ada yang membela kedua pemuda itu.
__ADS_1
"Kak Shio Fang..., ada baiknya kita menikmati makanan yang ada di atas meja ini dan kurasa makanan ini cukup bagi kita berempat," ucap Shio Zen.
Shio Fang mengganggukkan kepalanya kemudian duduk di kursi dan memulai menikmati makanan yang terjadi.
Tiba tiba seorang pemilik rumah makan mendatangi mereka berempat dan berkata. Tuan tuan, apakah sebelumnya tuan-tuan tak mengetahui siapa pemuda yang anda singgung tadi?" tanya pemilik rumah makan.
"Memang siapa pemuda tadi?" Shio Fang balas bertanya.
"Salah seorang pemuda itu merupakan Putra walikota penguasa di kota ini, dan pemuda satunya merupakan Putra seorang praktisi terkuat di kota ini, jadi aku minta tuan-tuan segera menghabiskan makanan ini tanpa harus membayar, dan secepatnya pergi dari rumah makan ini sebelum mereka datang membawa banyak praktisi hebat kesini, jika tuan tuan masih berada di sini setelah mereka datang maka rumah makan ini pastinya akan hancur dan saya akan merugi," ucap pemilik rumah makan.
"Kau jangan kuatir jika mereka datang untuk melakukan kerusakan di rumah makan ini, maka aku akan mengganti semua kerugian yang kau alami jadi pergilah dari sini karena keberadaan mu disini akan mengganggu selera makan kakak pertamaku," ucap Zen dengan kilatan penuh amarah di matanya.
Melihat tatapan yang sangat menindas itu, pemilik rumah makan secepatnya pergi meninggalkan tempat itu tanpa sedikitpun membalikkan tubuhnya untuk melihat keberadaan keempat pemuda yang berada di sudut ruangan.
Benar saja, tak berapa lama kemudian sekitar 20 orang praktisi kuat yang telah menginjak kekuatan di ranah dewa kaisar dan dewa emperor, telah masuk ke dalam rumah makan dan menatap tajam ke arah kelompok Shio Fang.
Beda halnya dengan kelompok Shio Fang, mereka berempat tetap tenang sambil menikmati makanan yang tersaji tanpa memperdulikan kedua puluh praktisi kuat yang telah berada di dalam rumah makan.
"Kalian...!!, berani sekali kalian menyinggung Putra penguasa di kota Linggan, dan untuk itu kalian berempat harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan kalian itu!!," bentak seorang laki-laki paruh baya dengan aura ranah Dewa Emperor yang merembes dari tubuhnya.
Mendengar hal itu, Zen kemudian menimpali perkataan laki-laki tua itu.
"Seharusnya kedua pemuda yang bersama kalian itu sedikit bisa bersopan santun terhadap orang lain walaupun keduanya merupakan penguasa di kota ini, Jika kalian ingin melakukan kekerasan maka kami pun bisa melakukan hal yang sama".
"Cukup Aku yang akan meladeni kalian tak usah kakakku dan saudaraku yang lainnya turun tangan untuk menghadapi pecundang bermulut besar seperti kalian semua, ayo kita selesaikan di luar sana agar lebih leluasa bagiku untuk menghajar kalian semua," ucap Shio Zen.
Setelah berkata seperti itu Shio Zen segera melesat keluar dari dalam rumah makan. Sementara itu ke-20 praktisi kuat yang terpancing dengan perkataan Shio Zen seketika itu juga segera menyusul nya.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar pertarungan di depan rumah makan, Shio Chen yang sedari tadi merasa kesal kepada ke 20 praktisi kuat itu, segera berdiri dan akan pergi membantu Shio Zen yang tengah bertarung.
"Tetaplah disini, mereka semua tak akan mampu untuk melukai kakak kedua kalian karena tingkat kekuatan yang mereka miliki belum dapat menyamai tingkat kekuatan yang dimiliki kakak kedua kalian," ucap Shio Fang dengan terus menikmati makanan yang ada di atas meja.
Shio Chen kembali duduk, dia tak berani sedikitpun untuk membantah perkataan kakak pertamanya, walaupun di hati nya merasa kesal yang ingin segera menghabisi kedua puluh praktisi yang sok hebat itu.
Sementara itu, Shio Zen yang tengah bertarung dengan ke 20 praktisi kuat yang menyerangnya, perlahan-lahan dapat membuat satu persatu praktisi hebat itu meregang nyawa di bawah tebasan pedang air hitam.
Dan salah satu pemuda yang merupakan putra salah seorang praktisi hebat di kota Linggan, juga telah mati akibat tebasan Padang air Hitam yang memiliki ketajaman sangat luar biasa.
Saat ini para praktisi hebat yang tersisa hanya segelintir saja, yang membuat mereka pada akhirnya melarikan diri sambil membawa pemuda yang merupakan putra seorang praktisi hebat di kota itu.
Shio Zen hanya tersenyum memandangi kepergian beberapa praktisi yang menjadi lawan tarungnya hingga hilang di kejauhan, setelah itu Shio Zen kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah kelompoknya kembali.
Setibanya Shio Zen di tempat itu, Shio Fang kemudian berkata. "Lebih baik kita secepatnya menuju ke Akademi Kunlun, Aku tak ingin masalah di kota ini akan menghambat kelompok kita dalam perjalanan kembali pulang ke akademi Kunlun, karena kita belum mengetahui kapan pertandingan besar 3 tahun itu akan terlaksana," ucap Shio Fang.
Mendengar perkataan Shio Fang, Shio Zen kemudian memanggil pemilik rumah makan untuk datang ke tempatnya berada.
Terlihat wajah sang pemilik rumah makan pucat pasi setelah Shio Zen memanggilnya.
"Saya tuan muda," ucap pemilik rumah makan dengan tubuh bergetar.
"Aku tak akan melukai ataupun berbuat buruk kepada mu, Aku hanya ingin menanyakan berita mengenai pertarungan Akbar yang akan di gelar di ibukota ke kaisaran, dan kurasa kau pernah mendengar berita itu bukan?" tanya Shio Zen.
"Aku pernah mendengar berita itu dari para pengunjung, kalau tak salah pertarungan Akbar itu akan di gelar 3 Minggu dari sekarang," jawab pemilik rumah makan.
"Sepertinya waktu kita sangat mendesak untuk segera berada di akademi Kunlun, ada baiknya kita melanjutkan perjalanan kembali," ucap Shio Fang yang di iyakan oleh seluruh anggota dalam kelompoknya.
__ADS_1
Bersambung