
Kebahagiaan yang di rasakan Bima dan Galuh ternyata tidak berhenti di sana saja. Orang yang menghubungi Bima dengan nomor baru adalah ayah dari Galuh.
Prayan. Lelaki tua itu mengatakan semua yang telah terjadi di luar negeri. Mia, ibu dari Galuh dan Maya mengalami sakit parah.
Tapi setelah berobat sekitar satu setengah tahun di luar negeri tanpa pemberitahuan pada Maya dan Galuh. Akhirnya ibunya berhasil di sembuhkan.
Sekarang, orang tua Galuh mengeluh tidak punya uang untuk kembali ke tanah air. Bahkan dia tidak memiliki uang sekitar satu Minggu ini.
Hanya memanfaatkan makanan rumah sakit dan tidur di ruang tunggu.
"Pa, kirim rekening. Nanti Bima transfer uang untuk pulang. Dan jangan mengatakan ini pinjaman, aku menantumu. Selama ini Galuh sudah memberikan hidup yang aku mungkin tidak pernah dapatkan dari orang lain. Dan ada peran papa dan mama Mia juga di balik kebaikan Galuh." kata Bima membelai rambut Galuh penuh kasih sayang.
"Tapi nak, papa malu. Kamu baru memulai usaha, tapi papa sudah membuatmu memberikan uang yang lumayan besar. Papa janji, kalau sudah kembali ke perusahaan. Uangmu akan papa ganti."
Prayan tidak tau menahu tentang siapa jati diri menantunya yang sesungguhnya. Selama ini, Prayan menyukai Bima karena dia bisa memperlakukan Galuh selayaknya ratu.
__ADS_1
"Terserah Papa saja, tapi Mama sudah sembuh total? Apa mau Bima rekomendasikan dokter hebat untuk merawat mama?" tutur yang halus dan sopan, siapa yang sangka jika Bima dulu adalah seorang pemuda begajulan yang sering di hina orang dengan sebutan tak memiliki masa depan yang cerah.
"Galuh mana?" tanya Prayan yang sudah sangat merindukan Putri tercintanya.
Di antara kedua putrinya, Prayan hanya dekat dengan Galuh. Itu semua karena anak gadisnya ini suka sekali dengan yang namanya pekerjaan cowok.
"Galuh tidur pa, mau bicara sama Galuh? Dia sudah harus bangun." kata Bima menunjukkan jika istrinya itu sudah terlalu lama tidur hari ini.
"Kalau tidak mengganggu, Papa juga mau."
"Sayang, sudah lama sekali kamu tidur. Bangun yuk, nanti kamu bakalan susah tidur malam kalau kelamaan tidur."
Galuh bangun, tapi dia masih enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Dan lagi, dia malah memeluk Bima dan ingin mendapatkan kehangatan lagi.
"Emmm, tapi aku masih males." suara serak Galuh membuat Bima panik.
__ADS_1
"Sayang, sayang papa kamu telfon." segera Bima memberikan gawai yang ada di tangan sebelah kiri.
"Papa?" dengan gembira, Galuh menerima ponsel pintar terbaru keluaran dari apel di gigit itu.
Bima memanfaatkan kesempatan ini untuk keluar dan membuatkan makan malam untuk sang istri. Makanan sehat khusus ibu hamil tentunya.
Kebahagiaan Bima tidak bisa dilukiskan dengan apa pun saat ini. Lelaki itu jauh lebih bersemangat untuk membuat makanan untuk istrinya yang tengah berbadan dua.
Makanan sehat di sediakan olehnya untuk Galuh. Pada saat dia tengah memasak, istrinya itu tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Bima Fedrik, aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku sampai kapan pun." kata Galuh dengan nada riang.
"Tentu, aku tidak akan meninggalkan dan berhenti mencintai Galuh Rameswari Fedrik." Bima mengangkat Galuh dalam gendongannya.
"Kok Fedrik? namaku kan cuma Galuh Rameswari aja." kata Galuh bingung.
__ADS_1
"Karena kamu adalah nyonya muda Fedrik. Kamu harus terbiasa akan hal ini, ok?" Senyum manis Bima tidak pernah lepas setiap kali menatap wajah Galuh yang sudah mencuri hatinya hingga tak bersisa.