Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Perkara tas


__ADS_3

Bima berhasil membujuk Galuh untuk pulang bersama dengan dirinya. Tapi, sepanjang perjalanan, Bima dan Galuh terjebak pada pikiran masing-masing.


Suasana hening, membuat Dewangga, bayi aktif itu merasa tidak nyaman. Bayi berusia tujuh bulan itu seharusnya merangkak saat ini, di rumah nenek kakaknya.


Tapi, karena kecemburuan sang mama. Dia harus sabar dan ikut kembali pulang dengan orang tuanya. Sebagai gantinya, Dewangga tidak tenang selama perjalanan.


"Dewangga, kamu kenapa gerak-gerak terus? mama kualahan nahan kamu." Galuh sedikit mengeluh.


Dari keluhan Galuh inilah Bima menyadari, jika ibu dari putranya tengah menangis. Kediaman Galuh, rupanya hanya untuk menyamarkan tangisannya.


Bima menepikan mobilnya, dia tidak berpikir panjang lagi. Istrinya adalah segalanya.


"Kamu kenapa menangis? kalau aku ada kesalahan, katakan sayang. Aku pasti akan perbaiki kedepannya." ujar Bima.


"Hikz, aku gak suka kamu terlalu ngobrol sama Vio. Kamu lupa, dia yang buat kita hampir cerai. Aku benci wanita itu." Tangisan Galuh semakin menjadi.


Mendengar apa yang di katakan istri tercinta. Seketika kepala Bima menjadi sakit. Bagaimana bisa dia tak berkomunikasi dengan Vio? sedangkan dia, istri dari adik kandungnya. "Ok, ini kali terakhir aku menyapa dia."


Tak ada pilihan lain, Bima hanya bisa menuruti apa yang di katakan oleh Galuh. Vio memang istri dari adiknya, tapi yang menemani hingga ajak menjemput. Hanya Galuh seorang.


Galuh mungkin percaya, bagi Bima. Tapi Galuh, sama sekali tidak percaya dengan apa yang di katakan Bima. Kediaman Galuh hanya kata mengerti, tidak untuk mempercayai.


Bima dan Galuh kembali ke rumah. Di depan rumah, sudah ada dua mobil yang terparkir rapi, siapakah dia?


Ternyata tamunya Fairus, dosen killer yang paling terkenal di kampusnya dulu.

__ADS_1


"Bima. Sini." Teriak Fairus kala mendengar suara mobil Bima memasuki area garasinya.


"Oh, ada pak Ishak. Selamat pagi pak, tumben mampir?" Bima masuk ke dalam pekarangan rumah bersama istri dan putranya.


"Wah, itu rumah kamu Bim? Hebat!" orang yang selalu membantu Bima selama kuliah.


"Ah, bapak bisa saja. Saya bisa terus bekerja sambil kuliah kan juga atas pengertian bapak." Bima menemani Fairus berbincang dengan kepala rektor. Sedangkan Galuh, dia memilih masuk ke dalam rumahnya dan segera membebaskan putranya di kasur lantai.


Merangkak, Gilang guling ke sana kemari, Galuh hanya menemani di sampingnya. Bermain ponsel, berbelanja online. Hitung-hitung meredakan emosi yang sejak kemarin membakar jiwanya.


Pilih ini, pilih itu. Sepertinya Galuh sudah kalap, dia bahkan tidak menimbunnya dulu dalam keranjang. Tapi langsung check out saja semua belanjaannya.


Total belanjaan yang lumayan, bagi orang yang hanya rebahan saja di atas kasur. Galuh rupanya sudah menghabiskan uang sebanyak enam juta rupiah lebih.


Barang yang di beli Galuh sebenarnya barang-barang remeh. Aksesoris yang harganya tidak lebih dari lima puluh ribu satu barangnya. Tapi, kenapa begitu mahal?


Uangnya, sama dengan uang Galuh, bukan? Jadi Bima santai dan kembali mengobrol.


setelah tiga puluh menit, Bima kembali mendapat notifikasi dari bank dengan nominal yang cukup mencengangkan. Empat puluh delapan juta sekian, Bima yang kaget pun pamit pulang.


Apalagi yang di beli istrinya pagi-pagi begini? oh Tuhan, lancarkan lah rejeki Bima untuk memuaskan nafsu belanja sang istri.


"Sayang, Galuh.... Uang segini banyak, kamu pakai beli apa? Ok, pertama enam juta, aku tidak masalah. Tapi ini, empat puluh juta lebih sayang, kamu pakai apa?" Bima mencari Galuh, hatinya sebenarnya sudah tidak kuat menahan emosi. Tapi, demi wanita tercintanya ini, Bima hanya bisa membelai lembut dan bertutur kata yang paling Alus pada istrinya.


"Aku beli tas Balmain ini sayang. Lihat, bagus bukan? Sekali lihat saja aku sudah jatuh cinta sekali." Galuh menunjukkan katalog yang ada di ponselnya.

__ADS_1


"Tiga ribu lima ratus dolar, sayang. Ini...."


"Masih ada kembalian, sayang." ucap Galuh membenarkan harga yang memang kurang empat puluh satu dolar saja menyentuh harga tiga ribu lima ratus dolar.


Bima tak berani membalas ucapan Galuh dan membuat istrinya marah padanya. Dia hanya mengusap keningnya dan....


"Kamu keberatan? Ya sudah aku batalkan saja." Melihat raut muka Bima saja, Galuh sudah tau. Kalau suaminya tak menyukai itu.


"Tidak, tidak.... Aku tidak keberatan sama sekali, asal kamu bahagia, sayang."


Mulut berkata tidak keberatan, tapi otakmu berpikir keras. Itulah yang Galuh pikirkan.


Galuh diam saja, dia punya uang lebih dari itu dari pemasukan cafe miliknya. Tapi dia memilih untuk memakai uang Bima.


Galuh merasa sedikit kecewa, diam-diam dia mengembalikan uang yang tadi di pakainya untuk membeli tas. Lima puluh juta, Galuh mengembalikan pada Bima.


Lagi-lagi Galuh membuat Bima tak mampu berpikir. Otaknya benar-benar beku saat ini, apa yang di pikirkan istrinya?


"Kenapa di kembalikan? Bukankah aku sudah mengatakan tidak...."


"Ini tas yang hanya bisa aku pakai, memang tidak selayaknya aku memakai uangmu."


"Apanya yang uangku uangmu? Apa aku seperhitungan itu di mata kamu?"


"Tidak-tidak... hanya aku yang cukup keterlaluan. Sudah, jangan bahas masalah ini. Aku mau mandi dulu, gantian jaga Dewangga." Galuh tak ingin berdebat lagi.

__ADS_1


Memang dia punya uang, dan sebelumnya juga Galuh yang menggaji Bima. Apa yang salah dengan ini? hanya sebuah tas, nggak akan membuat Galuh kelaparan, bukan?


__ADS_2