
Selesai makan, Bima langsung ke ruang kerjanya untuk mengoreksi berkas yang di bawa oleh Ririn. Cukup lama Bima mengerjakannya, karena dia memang sangat teliti.
Namun, tepat di tiga puluh menit berada di ruang kerjanya. Tiba-tiba Bima dan Ririn yang duduk di depan meja kerjanya mendengar sebuah piring pecah.
Prang...
"Astaga, Galuh." itu kalimat yang keluar dari mulut Bima sebelum meninggalkan ruangan begitu saja.
Benar saja, dengan menggunakan celemek dan sarung tangan. Galuh memegang busa cuci yang masih penuh sabun dan sebuah piring yang sudah menjadi serpihan di lantai.
"Aduh, kenapa kamu cuci piring? Aku bisa lakukan sendiri. Sekarang, kamu lepas semua ini."
Bima melepaskan semua yang di pakai Galuh untuk mencuci piring. Bahkan, Bima juga mendorong Galuh keluar sebelum membersihkan pecahan piring.
__ADS_1
Ririn hanya menyaksikan dan tidak berniat membantu Bima sama sekali. Walau dia bawahan Bima, dia tetap tamu di rumah bos-nya.
"Bu Galuh tidak bisa mencuci piring?" tanya Ririn dengan ekspresi sedikit mengejek.
"Bima tidak membiarkan aku menyentuhnya." jawab Galuh polos.
"Ya jelas lah tidak boleh menyentuhnya. Lihat motif dan lambang di piring saja sudah terlihat kalau itu mahal. Pasti pak Bima juga tidak mau rugi. Aku dengar, piring H itu harganya jutaan, satu set. Jadi...."
"Jangankan harga jutaan, kalau pun Galuh membakar rumah ini pun, aku tidak keberatan. Asal dia selamat! Sepertinya aku terlalu lunak terhadap karyawan ku selama ini. Lebih baik, kamu jangan kerja lagi mulai besok. Berkas ini, biar aku sendiri yang membawanya ke kantor, kamu bisa pulang. Terima kasih dua bulan ini kamu berkontribusi di perusahaan ku. Aku yang akan mengirimkan dua kali gajimu dan di tambah kompensasi pemecatan dariku."
Mungkin ini bukan masalah kritikan, tapi siapa yang di kritik. Bima tidak pernah bermasalah dengan kritikan yang di tujukan pada dirinya. Namun, jika sudah menyangkut Galuh.....
Bima tidak akan pernah tinggal diam.
__ADS_1
"Apa dia yang membuat kamu menangis, kemarin?" Bima memeluk istrinya menenangkan.
"Tidak,"
"Pak, ini jelas tidak adil bagi saya. Kalau bapak tidak mengizinkan karyawan bapak mengkritik istri anda. Seharusnya anda tidak membawanya ke kantor dan mengganggu pemandangan. Saya yakin, bukan hanya saya yang merasa terganggu. Karena istri bapak selalu mondar-mandir dan tangisan anak bapak juga terlalu bising. Mengganggu konsentrasi." Ririn merasa dirinya benar, dia tak segan mengatakan apa yang ia pendam selama dua bulan ini.
"Ya, inilah yang adil. Kamu kerja saja di tempat orang lain yang tidak ada istriku di sana. Pulanglah."
Ririn pun keluar dari rumah mewah bos-nya. Dirinya yakin jika bos-nya ini berlaku tidak adil padanya. Dan lagi, orang manja itu tidak cocok untuk Bima. Biar bagaimana pun, dialah yang merasa sangat cocok bersanding di samping Bima.
Mandiri, tegas, pemberani dan yang paling penting. Dia bisa melakukan pekerjaan rumah tangga, selain dirinya merasa cantik.
"Sudah pendek, manja, jelek di tambah tak bisa apa-apa. Apa-apaan ini? Oh astaga, Tuhan sepertinya melupakan keterampilan saat menciptakan dia. Cantik pun tak di bekali oleh Tuhan, tapi kenapa Engkau mengirimkan lelaki sempurna untuknya?" Ririn menggerutu saat keluar dari rumah Bima.
__ADS_1
Baginya, Tuhan sangatlah tidak adil padanya.