Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Piala bergilir


__ADS_3

Mata Galuh masih sangat sulit untuk di buka. Rasanya lengket sekali, tapi dia harus segera ke bandara kalau tidak mau ketinggalan pesawat. Bima sendiri sudah terlihat rapi dan juga wangi saat dari rumah.


Galuh memang memakai baju santai, tapi outfit yang ia kenakan tak memalukan suami dan putranya. Dua lelaki itu memang selalu fashionable sekali.


Penampilan Bima dan Dewangga yang kece dan rapi itu tidak lepas dari pengawasan Galuh. Tapi wanita itu sendiri terlihat masa bodo dengan dirinya.


Dres bunga-bunga di bawah lutut dengan blazer warna senada dengan dasar baju. Sepatu kets yang membuat Galuh terlihat jauh lebih santai.


"Sayang, kenapa kamu memajukan penerbangan jadi pagi, sih? Bukannya semalam katanya sorean?" tanya Galuh.


"Ya, seharusnya memang sore. Tapi besok pagi-pagi sekali aku harus meeting pemegang saham. Jadi masih ada waktu untuk istirahat kalau pulang pagi. Kamu masih ngantuk sekali, ya?" Bima memperlakukan Galuh begitu lembut.


Padahal, di dalam hatinya masih ada sebuah emosi yang tersimpan rapi. Entah apa pemicu emosi itu bersemayam dalam hati Bima.

__ADS_1


"Enggak, aku cuma mau berduaan saja sama kamu." Galuh memeluk suaminya yang memangku Dewangga saat itu.


"Ya sudah, nanti kita langsung ke Villa saja. Biar kita masih bisa menikmati waktu berdua." Jika Galuh sudah membuka mulut, apa pun itu, sebisa mungkin di wujudkan oleh Bima dengan senang hati.


"Paling cinta sama Bima ini, tapi aku mau ikut ke kantor. Pokoknya aku mau bersama suamiku tercinta ini." Bima senang bercampur geli mendengarkan pernyataan sang istri.


"Hahaha iya, tapi sepertinya kamu harus segera terbiasa tidur tanpa Dewangga lagi. Karena bisa di pastikan, mama akan menjemput dan membawa pulang Dewangga." Kata Bima mengingatkan.


"Nggak apa-apa, biar mama muda ini menikmati papa muda dengan sesuka hati." Ada-ada saja jawaban Galuh yang membuat Bima semakin geli.


Pertama kali Bima dan Galuh mendarat di tanah air. Mereka berdua sudah di sambut oleh empat orang tua yang sangat merindukan mereka.


"Galuh, sayang. Bagaimana kabar kamu, nak?" Rosmia dan Mia yang merupakan ibu juga ibu mertua Galuh sudah menyambutnya.

__ADS_1


"Kabarku baik, ma. Apa kalian merindukanku?" Tanya Galuh saat memeluk keduanya.


"Sangat, mama kesepian tanpa kamu, nak." Mia selaku ibu kandung Galuh, beliau merasa kerinduan yang begitu mendalam.


"Galuh kan cuma berlibur saja, sekarang Galuh sudah pulang. Mau di kasih apa?" Tanya Galuh memeluk ibunya lebih erat.


"Kebalik, mama yang seharusnya minta oleh-oleh. Ini kok malah kamu yang minta oleh-oleh dari kami yang sibuk bekerja." Kali ini Prayan yang sudah menggendong Dewangga pun angkat bicara.


"Hmmm, ya sudah deh. Ini untuk papa dan mama." Galuh membongkar barang bawaannya dan memberikan bingkisan yang sama pada keempat orang tua yang menjemputnya.


Sebenarnya Galuh sudah menyiapkan lebih dari yang dia berikan pada empat orang tua itu. Tapi, semua oleh-oleh itu ada di bagian dalam koper. Tidak mungkin, kan harus di buka sekarang?


"Ma, pa. Kami mau pulang ke villa di tepi pantai. Apa kalian mau mengantar?"

__ADS_1


"Tidak, tapi kasih kami giliran membawa pulang Dewangga." Tebakan Bima tepat, Rosmia dan Mia tak mau kalah untuk membawa pulang sang cucu.


"Dewangga adalah piala bergilir."


__ADS_2