Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Khilaf kok milih!


__ADS_3

Kemanjaan Raya sengaja di pertontonkan pada semua mahasiswa yang kuliah di Universitas yang sama dengannya. Raya juga tidak segan untuk mengusap-usap perutnya di dalam kelas. Dia sepertinya memang sangat menikmati kehamilannya.


Gadis yang di kenal dengan julukan duo koplak bersama dengan Galuh pun menjadi pusat perhatian teman sekelas. Tetapi, bukan Raya namanya kalau tidak menjadikan hal ini sebagai lelucon.


"Kenapa? Kalian pengen juga?" tanya Raya pada orang-orang yang memperhatikan secara berlebihan.


"Lo itu hamil? Kok bangga sih?" celetuk salah satu teman Raya.


"Bangga dong, gue bisa kasih keturunan buat laki gue. Emang elu di pakek berame-rame tapi kagak bunting-bunting. Mon maap mau tanya, elu gak subur apa kagak ada telur?" pertanyaan Raya sungguh mengagetkan.


"Jaga itu mulut ya!" geram temannya itu, namun dengan cepat Galuh menghadang agar tidak mengenai Raya saat teman itu hendak memukulnya.


"Gimana caranya jaga? Di pagerin! Lu kalo ngomong ya...."


"Raya! Jangan terlalu emosi, ingat ada yang harus kamu jaga!" bentak Fairus saat masuk ke kelas Raya dan mendapati istrinya tengah di keroyok.


"Tapi sayang...." rengek Raya yang malah mendapat tatapan tajam dari Fairus.


"Sudah, sekarang kalian buka bukunya. Mau ikut mata kuliah saya atau tidak? Yang tidak, silakan keluar saja." ucap tegas Fairus.


Tidak ada yang berani dengan Fairus, dosen Killer tetaplah dosen killer. Mau sama istri atau murid berprestasi pun tidak ada pengaruhnya.


Di tengah-tengah mengajar, Galuh sudah sangat bosan. Rasanya dia hanya ingin bertemu dengan Bima saja, entah sejak kapan suaminya itu bisa menjadi candunya seperti ini.


"Ray, gue kangen Bima." rengek Galuh yang langaung mendapat pukulan di lengan.

__ADS_1


"Ege mane teh, sudah tau ada herder di depan. Masih aja mau maen-maen." Raya mengingatkan.


"Eh Ray, emang garang gitu ya kalo di ranjang juga?" bisik Galuh agar tidak terdengar oleh yang lain. Tetapi keadaan sangat-sangat sunyi, tidak mungkin tidak terdengar.


"Bukan cuma garang Luh, tapi hot. Beh kalau di bayangin itu perutnya aja udah bikin mules." Raya memang tidak bisa mendeskripsikan apa yang ia lihat dari suaminya.


"Lah, kok bisa? Berak dong kalau mules." Jawab Galuh masih berbisik.


"Iss kau ini, bukan mules mau berak. Tapi kaya ada kompor di dalem perutku. Mendidih gimana gitu," Raya juga punya rasa gemes juga dengan pernyataan sahabatnya.


"Panas dong perut elu?"


"Bukan gitu, ah serah elu deh."


Saat mereka kembali ke pelajaran, seluruh kelas memperhatikan keduanya yang duduk di pojokn belakang. Tanpa tau apa yang terjadi.


"Gosipin bapak di ra.. mmmpppp" Fairus langsung membekab mulut istrinya yang hampir membongkar pernikahan tersembunyinya.


Bukan berniat untuk menyembunyikan, hanya saja tidak ingin ada yang memanfaatkan istrinya demi nilai. Biar bagaimana pun Raya Samantha itu wanita yang sangat polos. Di tambah dengan Galuh yang punya sifat bobrok pasti bertanya yang membuatnya penasaran.


Seperti saat ini, dia tengah rindu dengan sang suami dan di depannya ada suami sahabatnya. Jelas pertanyaan ranjang menjadi topik hangat pengusir jenuh.


Fairus melepaskan bekapan mulut Raya bersamaan dengan bel matakuliah berakhir. Raya yang tidak suka pun langsung melempar tatapan sadis pada dosen killernya.


"Gila berani sekali Raya mandang pak Fairus begitu." bisik-bisik mulak terdengar.

__ADS_1


Sebaliknya, Fairus malah menatap Raya dengan tatapan memohon. Seperti anak anjing yang minta untuk di belai, sungguh pemandangan yang sangat langka.


Raya keluat setelah Fairus keluar kelas tiga puluh menit yang lalu. Bukan ngambek, tetapi dia hanya sedikit merasa sesak napas. Galuh bersama Bima sudah menemani Raya di bangkunya. Hingga merasa sedikit baikan, Galuh dan Bima mengajak Raya pulang.


"Oh ini mahasiswa yang merebut pak dosen darimu Nin?" Anindia berjalan dengan salah satu dosen juga yang sedikit memiliki ketertarikan pada pak Fairus.


"Biar saja, Fairus juga sudah menjadi gembel. Lihat penampilan dia setelah aku campakkan, sungguh tidak sedap di pandang." cibir Anindia.


"Heh bu dosen cantik, gak sadar kamu sudah di buang? kalau tidak memilikk janji menikahimu, pak Fairus tidak akan pernah melirikmu dan tetap setia padaku." Raya menarik rambut Anindia yang di kuncir kuda.


"Aduh, bar-bar sekali kamu jadi cewek ya! lepaskan rambut ku!" Anindia merasa kesakitan karena rambutnya di jambak.


"Gue bar-bar hanya untuk orang yang berusaha menyakiti gua. Gara-gara elu, gue hampir jadi janda! Emang dasar wanita gak berpendidikan! Katanya dosen, tapi kelakuan tidak jauh beda sama yang namanya jalang pinggir jalan!"


Fairus yang melihat kejadian itu pun langsung melerai keduanya. "Sayang, sudah lepaskan rambutnya." Fairus memeluk Raya dari belakang bermaksud untuk memisahkan keduanya.


"Tapi dia mau merebutmu dariku," bela Raya.


"Tidak ada yang bisa merebutku dari kamu. Ok kita pulang, jangan terlalu emosi. Ingat anak kita sayang." Ucapan Fairus membuat banyak dosen dan mahasiswa yang kebetulan lewat pun kaget.


Tidak ada yang menyangka jika Fairus seorang dosen tampan yang terkenal Killer telah menjalih hubungan dengan mahasiswanya.


Di samping itu, Bima yang memegangi Anindia pun berhasil membuat Galuh cemburu. "Terus saja di peluk itu guru ganjen!"


Karena ucapan Galuh, Bima langsung melepas Anindia dan terjatuh ke lantai. "Maaf sayang, khilaf"

__ADS_1


"Khilaf kok milih." !!


__ADS_2