
"Dasar kau, anak tidak berguna! Mau sampai kapan tingkah kamu yang egois begini bisa dirubah? Oh, Astaga. Kenapa ibumu bisa melahirkan anak sepertimu!" Ocehan yang samar-samar di dengar oleh Galuh. Tapi, dia masih belum bisa membuka matanya.
"Maaf, pa. Bima tau salah, Bima panik tidak sengaja mengatakan itu." Kata Bima yang terdengar ketakutan.
"Bim, sepanik apa pun kamu. Ingat! Istri adalah orang yang harus kita utamakan. Terutama di saat seperti ini. Dia pasti merasa sendiri, sakit sendiri dan dia juga tidak mengerti bagaimana menenangkan. Astag, Bima... Bima... papa bahkan bisa membayangkan seberapa panik dan khawatirnya Galuh saat itu."
"Maaf, pa."
"Kalau sampai Galuh tidak bangun lagi, lebih baik kamu keluar negeri saja. Jalani kehidupanmu di sana tanpa embel-embel keluarga!"
"Sudah, kalian berdua jangan bertengkar di depan Galuh yang masih seperti ini. Dokter sudah memberinya obat dan pasti sebentar lagi akan sadar. Dan kamu Bima, ini yang terakhir kalinya." Rosmia terdengar sangat serius dari ucapannya.
Galuh mendengar itu semua, dia ingin sekali mengatakan tidak untuk mengirim Bima ke luar negeri. Dia juga ingin sekali mengatakan jangan memarahi Bima lagi. Tapi sayangnya, dia bahkan tidak bisa membuka matanya.
Dengan mengerahkan segala tenaganya, Galuh barulah bisa menggerakkan tangannya. Hal ini di sadari oleh Rosmia yang sejak tadi menggenggam tangan Galuh.
"Nak, Galuh."
Bima mendekati Galuh dan mencoba yang terbaik untuk istrinya.
__ADS_1
"Galuh, maaf.... sayang, bangun. Aku janji tidak akan melakukan hal yang seperti tadi. Aku bersumpah tidak akan pernah meninggalkan kamu sendirian juga."
Meski sudah bergerak jari tangannya. Tapi Galuh masih belum bisa membuka matanya. Air mata Galuh jatuh setelah mendengar apa yang di katakan oleh Bima.
Galuh tau dan sangat paham, Bima bukan orang yang akan mengatakan omong kosong di saat seperti ini. Dia lebih bisa di percaya di bandingkan Jovan.
Masih sangat lama setelah pergerakan jari Galuh tadi. Namun mesin belum juga bangun, Bima mulai panik.
"Jangan ikutan panik, anak kamu ini tau suasana hati orang tuanya. Lihatlah lelaki kecil ini, dia bahkan ikut menangis. Tenangkan dia," ujar Rosmia mengangkat cucunya yang mulai rewel.
Sejak tadi Dewangga hanya tidur pulas. Pada saat Bima mulai panik lah Dewangga ikut rewel. Bayi kecil itu seperti di cubit oleh kepanikan sang ayah.
"Ma...."
Suara serak terdengar berat, semua orang mendengarnya. Bima segera mendekat, dia terlihat sedikit lega.
"Di sini, aku di sini...."
"...Ma...." Galuh tampak kesusahan walau hanya untuk mengucapkan sepatah kata.
__ADS_1
"Iya, kami semua ada untuk kamu. Jangan di paksa, mama sayang sama kamu." Rosmia tak ingin menantunya merasa dia sendiri lagi.
Rosmia bahkan memeluk menantunya.
Bima tau ini kesalahannya, dengan bangunnya Galuh. Itu artinya kesempatan terakhir yang langkah di berikan padanya.
Bima menangis tanpa suara, dia meneteskan air mata tanpa ada yang tau. Di dalam hati, Bima terus mengutukki dirinya sendiri. Dia juga mematri janji dan sumpahnya tadi dalam hatinya.
Kesempatan terakhir yang tidak boleh di sia-siakan olehnya.
Tangan Galuh mengangkat ke arah Bima, semua bahagia. Dengan begini, apa yang di katakan dokter tentang lemahnya syaraf Galuh akibat kejadian tadi pun terbantahkan.
Rosmia menampa cucunya dan membiarkan putranya memeluk menantunya. Cucu dan menantu tak ada yang lebih penting dari keduanya. Bahkan harta yang mereka miliki pun tak ada artinya bagi Rosmia dan Yasa.
"Maaf, sudah membuat kamu panik." Ucapan Galuh sangat lirih sekali, terdengar seperti sebuah bisikan.
Bima mengangguk. "Iya, aku tidak panik. Sayang, aku yang salah, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku yang seharusnya menjagamu, bukan kamu yang menjagaku. Aku minta maaf sudah egois sampai meninggalkan kamu tidur di sebelah."
"Jangan tinggalkan aku, Bima." Bima semakin erat memeluk istrinya. Hatinya bagai tersayat belati kala mendengar kata itu dengan sangat lirih di ucapkan oleh istrinya.
__ADS_1
"Nak, temani istrimu istirahat. Biar mama ajak Dewangga."