
Persiapan kemah yang di siapkan dadakan kemarin. Ternyata sudah lebih dari cukup, dari tenda, peralatan masak portabel dan juga kasur lipat dan selimut juga sudah di siapkan.
Bima dan Galuh seharusnya menyewa saja sudah bisa. Tapi mereka memutuskan untuk membeli sendiri semua. Pikirnya, walau tidak ada acara besar, kalau untuk piknik sendiri pasti akan lebih gampang.
Bima dan Galuh segera ke kampus, tempat berkumpulnya para alumni. Bima membawa semuanya di dalam mobil, karena semua sepakat untuk membawa kendaraan sendiri.
Tak sedikit yang menyewa campervan untuk mereka tinggali saat di sana. Dan tak sedikit pula yang membuat tenda seperti Galuh dan Bima.
Yang ikut reuni memang tidak semuanya, tapi ini cukup banyak. Dua puluh lima tenda dan tujuh campervan yang ada di kawasan khusus kemah di tepi danau itu.
Bima sendiri lebih memilih tenda karena sangat praktis menurutnya.
"Bim, masih saja seperti dulu. Bucin." Ejek salah satu teman dekat Bima.
"Hahaha, emangnya Raya sama pak Fairus aja yang boleh bucin?" Bima melirik dua insan yang tengah bersenda gurau dengan istrinya.
"Yah, jangan di samain sama bapak satu itu dong. Tampangnya aja garang, ternyata budak cinta juga." Kata Johanes.
__ADS_1
"Hahaha iya, aku inget pas jenguk Raya lahiran."
"Eh, tapi enggak nyangka juga sih. Orang seperti Raya malah bisa menaklukkan si killer."
"Ya elah, Nan kayak enggak liat bosmu saja. Pak Bima itu orangnya tegas, nyeremin kalo udah nggak suka sama orang. Lihat orang yang naklukkin. Galuh, sahabatnya Raya." Devi berkomentar.
"Dia bosmu juga woe." Seketika gerombolan itu pun tertawa terbahak-bahak.
Tidak ada yang lebih menyenangkan dari pada berkumpul dan mengenang kembali masa yang telah berlalu. Bahkan, kesedihan dulu pun bisa jadi bahan gurauan. Bikin malu orang yang menjalaninya.
Setahu Bima, dia sendiri yang membuat wanita itu tidak bisa kembali lagi ke Indonesia. Tapi, kenapa dia bisa hadir di acara reunian kali ini? Ini cukup membingungkan.
"Ah, itu dia." Devi menunjuk seorang wanita dengan perut besarnya keluar dari salah satu Van mewah.
Dari dalam juga keluar sesosok bule yang terlihat sedikit tidak asing bagi Bima. Siapa dia?
"Oh, itu suaminya? Katanya dia pengusaha Australia pemilik Perusahaan Austin? Tampan juga." Celetuk Devi yang tau kabar itu dari group seminggu lalu.
__ADS_1
Austin? ah, Bima ingat. Dia adalah orang yang di maksud anak buah Bima waktu itu?
Apa dia yang menjadi mantan kekasih Vio? Tapi, bukankah dia suami dari Rosaline? Dan kalau tidak salah ingat, Vio dan Rosaline adalah sahabat. Apa ini maksudnya?
"Galuh, masuk tenda!" Ucapan bima kali ini sedikit tegas. Bisa di katakan jika Bima tidak pernah memperlakukan Galuh seperti ini sebelumnya.
Ada apa ini?
Galuh tidak bertanya, walau dia sama bingungnya dengan beberapa orang di sekelilingnya. Bima ikut masuk ke dalam tenda tanpa pamitan pada teman-teman lainnya.
Adnan dan Devi orang yang paling mengenal Bima pun masih merasa bingung. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Ada apa?"
"Ada Rosaline, kamu masih mau tetap di sini atau kita pulang saja? Sepertinya ada hal yang harus kita hindari."
"Apa suaminya?" Bima hanya mengangguk dan tidak memberi alasan lebih lanjut. "Kita pulang saja."
__ADS_1