Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Air Mata Kekecewaan


__ADS_3

*


*


*


Beberapa minggu sudah berlalu, Aku dan Tiwi semakin hari semakin merubah diri untuk lebih baik ke depannya. Mencoba menghapus segala kesalah pahaman yang selama ini sering terjadi. Sehingga membuat hubungan Kami yang tadi sudah sedikir renggang, perlahan mulai membaik.


🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸


Hari ini merupakan hari terakhirku berada di Kampus yang penuh dengan cerita ini. Ada banyak tangis dan tawa yang tercipta. Cukup berat rasanya untuk beranjak pergi dari Kampus ini, namun semuanya harus di ikhlaskan. Dimana setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan kita harus melanjutkan perjalanan selanjutnya.


Sesuai dengan rencana Aku dan Tiwi, kami berdua wisuda dalam waktu yang bersamaan. Perjalanan menuju sampai titik ini tidaklah hal yang mudah, jatuh bangun sudah Kami alami. Dari sekian banyak kegagalan yang terjadi baik itu di saat melakukan penelitian maupun dalam proses pembuatan skripsi membuat Aku dan Tiwi tidak patah semangat demi sebuah gelar sarjana.


*


Hari ini Aku berangkat menuju Kampus hanya seorang diri saja, orang tua dan adik - adikku sudah terlebih dahulu berangkat menggunakan mobil dari kampung dan langsung menuju kampus.


Menggunakan motor matic yang lebih kurang 4 tahun menemaniku selama di bangku perkuliahan, mulai Aku pacu dengan kecepatan sedang. Menggunakan kemeja berwarna biru dan celana dasar berwarna hitam, membuat Aku terkesan seperti seorang karyawan kantoran yang merupakan salah satu mimpi yang sudah masuk ke dalam list ku setelah tamat kuliah.


Selama Aku berkendara menuju kampus, pikiranku tertuju kepada keluarga Tiwi.


"Apakah nantinya keluarga Tiwi akan senang menerima kehadiranku karena Aku terlahir dari keluarga yang kurang mampu" Aku membathin dan terus memperhatikan jalanan yang sudah cukup padat. Karena di saat wisuda akan dilaksanakan, tentu saja keluarga dari pihak wisudawan/wisudawati akan datang dan akan membuat jalan menjadi sesak.


Upacara wisuda akan dilaksanakan pada pukul 8 pagi ini di Auditorium yang cukup besar di kampusku yang dapat menampung lebih kurang 5000 orang di dalamnya.


Sesekali Aku melirik jam tangan yang selalu menemaniku dari awal perkuliahan sampai saat ini. Jam sudah menunjukkan pukul 07.30. Aku sengaja pergi lebih awal karena tau jika nantinya jalanan akan begitu macet. Sehingga Aku tidak akan terlambat menghadiri upacara wisuda.


Tidak ada pesan yang di kirim Tiwi pagi ini, mungkin saja Dia sibuk dengan keluarganya dan Aku tidak mempermasalahkannya. Keluarga Tiwi yang terbilang cukup berada membuatku berpikir berulang kali untuk bertemu dengan keluarganya. Aku merasa minder dengan keadaanku saat ini.


Namun hal itu harus Aku buktikan terlebih dahulu sebelum Aku menemui keluarganya. Daripada otakku pusing memikirkan hal belum tentu terjadi, lebih baik Aku mencobanya.


*


Setelah cukup lama Aku bergelut dengan lintasan yang sangat padat di pagi ini di bandingkan dengan hari biasanya, akhirnya Aku sampai di Auditorium. Aku segera masuk ke dalam barisan karena acara akan segera di mulai. Sebelum memasuki ruangan Auditorium, kami di kumpulkan terlebih dahulu membentuk barisan yang di susun berdasarkan Fakultas masing - masing. Hal ini bertujuan agar ketika akan masuk ke dalam Auditorium, tidak akan menimbulkan sesak dan terlihat lebih rapi.


Barisan sudah tersusun dengan rapi, satu per satu barisan mulai di arahkan masuk oleh salah seorang panitian wisuda.


"Fakultas Ekonomi silahkah masuk" ucap panitia itu dengan menggunakan TOA.


Karena barisan Fakultasku terletak di barisan yang paling ujung, tentunya Aku harus sedikit bersabar menunggu antrian.


Namun sebelum barisanku di panggil tiba - tiba Tiwi datang dengan wajah yang begitu cantik membuat Aku terdiam sesaat karena Aku memang belum pernah sama sekali melihat Tiwi dengan make up yang sesempurna itu. Tiwi melenggang menuju barisan dengan sepatu highheels yang membuat Tiwi terlihat lebih elegan.


"Rel, kenapa bengong gitu?" ucap Fahrul yang merupakan seniorku yang baru saja di Wisuda tahun ini.


"Ehh.. Pacarku bang" Aku terus menandang Tiwi tanpa berkedip.


"Mana?" ucap Fahrul melihat ke arah pandanganku tertuju.


"Buseeett rel, cantik banget pacarmu" Fahrul juga tercengang atas apa yang sedang dilihatnya sambil menggeleng - gelengkan kepala karena tidak percaya melihat seorang bidadari akan di wisuda.


"Iya dong, pacar Aku" ucapku menyombongkan diri.


Karena Aku dan Juga Fahrul yang sudah bengong menatap Tiwi yang begitu anggun dengan make up yang tidak terlalu menor namun begitu sempurna di mataku membuat Tiwi menjadi heran.

__ADS_1


"Hey rel. Kenapa bengong gitu?" ucap Tiwi menepuk tangannya tepat di depan wajahku yang membuat Aku terkejut.


"Eh Tiwi. Kamu cantik banget wi" balasku sembari terus menatap kecantikan Tiwi.


"Kamu jangan mulai rel" ucap Tiwi menundukkan wajahnya karena merasa malu. Tiwi terlihat salah tingkah karena pujianku.


"Serius wi, baru kali ini Aku melihat Kamu secantik ini walaupun sebelumnya Kamu tetap cantik, tapi kali ini beda" ucapku jujur.


"Udah ah rel" ucap Tiwi dengan rasa malu yang masih ia rasakan perlahan masuk ke dalam barisan khusus wanita.


Selama berada di dalam barisan sembari menunggu untuk di panggil Aku terus memandangi Tiwi yang masih saja membuatku terpesona. Bibir tipis yang dibaluri dengan lipstick berwarna merah jambu, bedak yang cukup tebal namun tidak membuat warna kulitnya terlihat kontras, membuat kecantikan yang ada di wajah Tiwi cukup natural. Tanpa di sadari selama Aku menatap Tiwi dengan penuh rasa kagum, membuat Aku senyum - senyum sendiri seperti orang gila.


Tidak terasa akhirnya giliran barisan dari Fakultasku untuk masuk ke dalam ruangan Auditorium.


"Fakultas Fisip silahkan masuk" ucap panitia pelaksana wisuda.


Segera kami melangkah ke dalam Auditorium dengan perlahan. Di sela - sela perjalanan, pandanganku masih terus mengarah kepada Tiwi namun tetap fokus melangkah. Tiwi juga melakukan hal yang sama, di saat mata kami saling bertemu terpancar sebuah kebahagiaan di balik senyuman yang di berikan Tiwi.


*


Ruangan Auditorium yang begitu besar di penuhi dengan ribuan para wisudawan dan wisudawati serta para orang tua yang memenuhi tribun. Membuat riuh bergemuruh memenuhi ruangan Auditorium ini.


Aku menatap sekeliling Auditorium berniat ingin mencari di mana orang tuaku berada. Namun Aku tak menemukan mereka.


"Di mana ya Ayah sama Ibu?" ucapku terus mataku menyusuri setiap tribun yang berada di ruangan itu.


Perasaanku begitu gelisah di saat Aku tidak menemukan orang tuaku di dalan ruangan itu. Hatiku terus bertanya - tanya. Di rasa memang tidak ada mereka di sekitar ruangan ini, Aku kembali menatap ke arah depan dimana kata sambutan dari Rektor akan disampaikan.


*


*


Di saat Aku mulai berjalan menuju Fakultas akhirnya Aku menemukan kedua orang tuaku sudah menunggu di pinggir lobby yang sudah di penuhi oleh para orang tua dan para pedagang bunga/bucket. Tentu saja membuatku lega dan tersenyum ke arah mereka.


Aku langsung saja keluar dari barisan menuju kedua orang tuaku berada, langsung saja Ibuku memelukku dengan haru hingga menjatuhkan air mata.


"Selamat ya nak, Ibu bangga sama Kamu" ucap Ibu memelukku erat.


"Terima kasih ya bu, ini semua berkat do'a Ibu dan juga Ayah" tukasku membelai kepala Ibu yang membuat mataku berkaca - kaca.


"Sama sama nak" balas Ibu melepaskan pelukannya.


Ayah hanya menatap Aku dan Ibu tanpa sepatah katapun. Tidak lama setelah Aku menemui Ayah dan Ibu, Aku kembali masuk ke dalam barisan untuk kemudian masuk ke dalam ruangan Aula. Sekitar 1 jam acara di dalam Aula berlangsung, mulai dari membaca predikat kelulusan sampai memberikan piagam wisuda telah dilakukan.


*


*


Aku keluar dari Aula mencari dimana orang tuaku berada namun tidak menemukannya, perasaanku mulai tidak enak. Langsung saja Aku mngambil ponselku dan menelepon Ibu namun tidak di angkat.


*Tuuuuuuttt....tuuuuuuuttt*


"Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi"


"Duuuhhh kok gak diangkat sih" cetusku kesal.

__ADS_1


Aku kembali mencoba menghubungui Ibu dan Akhirnya diangkat.


"Bu, dimana sih? Dari tadi Aku cariin gak ketemu?" ucapku sudah mulai kesal.


"Maaf ya nak, Ibu terpaksa pulang duluan karena Ayahmu mau menghadiri acara temannya" jelas Ibu.


"Jadi lebih penting acara teman Ayah daripada Aku ya?" air mataku perlahan menetes


"Bukan gitu nak" ucap Ibu ingin menjelaskan namun Aku langsung mematikan panggilan karena merasa begitu kecewa.


Aku merasa bingung, kecewa, sekaligus marah dengan keadaan ini. Dimana hari yang seharusnya merupakan hari bahagia bagiku dan keluarga, menjadi hari terburuk yang pernah Aku rasakan.


Aku pergi menuju kamar mandi yang terletak tidak jauh dari tempat dimana Aku berdiri. Sesampainya di dalam kamar mandi, Aku menangis sejadi - jadinya.


"Salah Aku apa Tuhan?" umpatku sembari air mataku berjatuhan.


Perasaanku begitu kacau, dimana sebelumnya Aku membayangkan dapat berfoto dan bersenda gurau dengan keluarga di hari yang seharusnya bahagia ini. Namun semuanya menjadi hancur karena sebuah keegoisan.


Merasa tidak ada lagi yang harus Aku cari di Fakultas ini, Aku berniat ingin balik menuju kos. Dengan sisa - sisa air mata Aku menyusuri kerumunan orang yang berada di sana, namun semuanya terasa begitu hampa. Tiba - tiba seseorang memanggilku.


"Rel, mau kemana?" ucapnya kemudian Aku menoleh ke arahnya dan ternyata itu Tiwi.


"Mau balik kos wi" ucapku melanjutkan jalanku dan memalingkan wajah dari Tiwi.


"Kok balik rel?" Tiwi meraih tanganku dan membuat langkahku terhenti.


"Lepas wi, Aku mau balik" ucapku mencoba melepaskan genggaman Tiwi.


"Enggak rel" Tiwi menguatkan genggamannya.


"Udah ah wi, Aku lagi pengen sendiri" ucapku melepaskan genggaman Tiwi yang begitu kuat hingga membuat tubuhnya terdongak ke depan.


Aku pergi meninggalkan Tiwi tanpa menghiraukan perasaannya.


*


Di dalam perjalanan menuju kos - kosan, Aku terus menangis hingga tersedu - sedu. Moment bahagia seketika berubah menjadi menyedihkan karena sebuah keegoisan. Bertahun - tahun Aku menuntut ilmu di negeri orang hanya untuk mendapatkan gelar sarjana dan ingin membuat orang tua bangga, semuanya terasa sia - sia.


Sesampainya Aku di kos, langsung saja Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur masih dalam mengenakan pakaian wisuda. Kembali Aku cucurkan air mata kekecewaan.


Ponselku berdering.


*Tinooonng tinoonng* suara pesan masuk namun tak Aku hiraukan.


Sekitar 4 pesan yang masuk berturut - turut tanpa sedikitpun Aku meresponnya. Namun ketika suara panggilan masuk, Aku segera merogoh sakuku untuk mengangkat panggilan yang masuk dan tenyata itu Tiwi.


"Halo" ucapku dengan nada suara berat.


"Rel, Kamu dimana?" tanya Tiwi.


"Aku di kos" balasku singkat.


"Kenapa di kos rel? Kamu sekarang wisuda loh, banyak yang nanyain Kamu di sini" ucap Tiwi terdengar samar - samar karena sepertinya sedang berada di tengah kerumunan orang.


"Udah wi, Aku gak peduli" ucapku kemudian mengakhiri panggilan dari Tiwi.

__ADS_1


Tidak tau harus berbuat apa, dunia terasa begitu tidak adil. Umpatan demi umpatan Aku ucapkan untuk meluapkan kekesalan ini. Namun apa daya, semuanya sudah terjadi dan tidak akan bisa kembali seperti biasa.


Bersambung.


__ADS_2