Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Takut kehilangan


__ADS_3

Lelah, hari ini Bima lembur sampai jam setengah sepuluh malam. Galuh masih bermain dengan Dewangga yang saat itu baru terbangun. Galuh tampak lelah juga, namun dia tak bisa mengadu pada siapa pun.


"Kamu belum tidur?" Kaget Bima kala melihat istrinya masih bersenda gurau.


"Gimana bisa tidur? Lihatlah putra tersayangmu ini. Masih main sampai jam segini." Kata Galuh sembari mengajak bercanda Dewangga.


"Dewangga sayang, bobok ya. Nanti papa belikan mainan kalau kamu mau bobok." Bima menggendong Dewangga.


Walau badannya terasa sangat lelah dan letih karena kerjaan. Tapi, melihat istri dan anaknya, seketika lelah itu sirna.


"Kamu mandi dulu saja sana." Galuh mengambil alih putranya.


Bima menurut, memang badannya terasa sangat lengket sekali. Seharian dia di kantor, tak mandi atau membersihkan diri. Sedangkan Galuh, dia berusaha menidurkan putranya.


Dewangga memang baru bangun, tapi dia juga pasti lelah setelah seharian di ajak jalan-jalan oleh Omanya. Sehingga, tak membutuhkan waktu yang lama, Dewangga kembali terlelap.

__ADS_1


"Cepet sekali dia tidur?" Bima keluar dengan mengenakan jubah tidurnya berbahan sutra asli yang dingin jika di kenakan.


"Dia mungkin kelelahan, mama bilang di ajak ke Bandung. Entah apa yang di cari mama mu itu, apa enggak kasihan cucunya apa?!" Galuh menggerutu pelan. Biar bagaimana pun, Dewangga masih belum genap setahun.


"Ya sudah, besok aku yang akan bilang. Kamu sudah makan? Aku mau buat roti, kamu mau?" Bima rupanya belum makan, tapi Galuh sudah memakan habis makan malamnya.


Dengan rasa bersalah, Galuh mendekati Bima setelah menidurkan Dewangga di boksnya.


"Maaf sayang, tadi aku makan habis semuanya."


"Hmmmm, aku mau roti sobekmu saja." Bisik Galuh. Mata Bima melotot, dia tidak mengira akan mendapat pernyataan yang begitu vulgar dari istrinya.


"Mulut ini minta di kasih pelajaran, ya. Makin berani aja Lo." Bima mengecup bibir Galuh sekilas.


Geli mendengar istrinya begitu berani padanya. Tapi Bima juga suka dan gemas sekali dengan tingkah pola Galuh belakangan.

__ADS_1


"Ya sudah, makan sepuasmu."


Sepertinya, malam ini Bima juga akan begadang lagi. Maka dari itu, dia harus menyiapkan stamina yang terbaiknya untuk sang istri.


Malam ini kembali berlalu dengan panas. Tapi, di tengah tarian indah di atas tempat tidur. Bima melihat ada sebercak darah yang menetes di atas tempat tidurnya.


"Sayang, apa kamu sakit? Kenapa keluar darah?" Tanya Bima kaget melihat darah segar yang sepertinya baru menetes itu.


Galuh melihat ke arah noda yang di tunjuk oleh Bima. "Tidak!" Ada rasa takut, tapi Galuh tetap memegang dan ingin merasakan sendiri itu darah apa. "Sepertinya, aku datang bulan."


"Lagi?" Bima tak tau harus berkata apa. Karena hal ini dulu pernah terjadi. Sepertinya, siklus menstruasi Galuh tak bisa menunggu nanti atau besok. Maunya keluar sekarang, ya sekarang keluar. Ini cukup membuat Bima takut. Pikiran Bima kembali kepada di mana Galuh mengalami keguguran beberapa waktu lalu.


Keguguran sebenarnya bukan hal baru bagi Galuh. Karena sudah sering sekali Galuh keguguran setelah kecelakaan itu. Tapi, jika membuat Galuh tak sadarkan diri lagi. Jelas Bima sangat takut.


Bima takut kehilangan Galuh.

__ADS_1


__ADS_2