Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Cemburunya Dewangga


__ADS_3

"Dewangga, mau ikut acara makan-makan akhir pekan ini? Biasanya kami Adain acara makan-makan bersama akhir pekan." Lidya secara aktif mendekati Dewangga.


Lidya terlihat sangat hangat dan juga banyak membantu Dewangga dalam segala hal pekerjaan. Seperti dia ini orang polos yang baik hati.


"Akhir Minggu ini sepertinya masih belum bisa. Kakak tau sendiri aku anak sekolahan yang baru magang. Keuanganku masih belum stabil." elak Dewangga sopan sebelum meninggalkan ruangan, karena sudah waktunya pulang.


Lidya masih di ruangan, dia memang tidak sendiri. Tapi, rekan kerjanya sama sekali tidak peduli dengannya.


"Hah! Siapa yang percaya keuanganmu tidak stabil. Kalau saja mereka tau siapa kamu sebenarnya. Pewaris tunggal perusahaan Fedrik, tidak punya uang? Lucu sekali!" gumam Lidya tanpa ada yang mendengar.


Lidya sudah mencari tau keluarga Bima sebelum dia masuk bekerja. Entah apa yang dia pikirkan awalnya. Tapi yang jelas, setelah melihat rupa calon bosnya. Sasarannya tertuju pada satu cowok yang sangat mirip dengan bosnya. Yaitu Dewangga Fedrik.


Sosok Utari juga ada dalam foto satu frame. Keterangan yang tertulis adalah dia putri tersayang keluarga Fedrik. Jadi, bisa di simpulkan jika Utari ini adalah adik dari Dewangga.


Ternyata, Dewangga lah yang polos di sini. Dia bahkan tidak memiliki pemikiran jelek sama sekali mengenai rekan kerjanya yang hangat ini.

__ADS_1


Dewangga santai mengendarai mobilnya. Dan siapa yang menyangka, jika dia akan terjebak macet. Padahal, sekarang sudah jam setengah tujuh malam.


Dewangga teringat dengan janjinya pada Utari yang akan pulang sebelum jam tujuh malam. Tapi? Siapa yang sangka dia terjebak macet.


"Utari sayang, kakak lagi di jalan, kena macet. Kamu mau di bawain apa?" Tanya Dewangga yang takut istrinya akan marah padanya.


"Kakak cepet pulang aja, Utari udah seneng. Ini Utari di rumah mama, tadi di jemput kak Narendra sama mama. Lihat itu papa lagi masak ikan goreng saus mentega kesukaanku." Utari menunjukkan pada Dewangga jika dirinya ada di rumah orang tuanya.


Dia juga menunjukkan papanya yang tengah masak. Ada juga Narendra yang membantunya. Selain itu, Galuh. Ibunya tengah mengutek i kuku Utari.


"Begini?" Bima mencium pelipis Utari dengan satu tangan memegang spatulanya.


"Atau begini?" Di susul Narendra yang juga ikutan mencium pipi adiknya.


"Kalian ini!" Siapa yang menyangka, Dewangga yang biasanya cuek pada Utari jika di tempat umum. Dia begitu posesif terhadap Utari saat sudah menjadi istrinya. Memang dasar pencemburu.

__ADS_1


"Hahaha, makanya cepat pulang."


"Narendra, awas kau. Lepaskan tanganmu, bandit." Dewangga benar-benar emosi melihat Narendra memeluk istrinya.


"Bandit? Dia adik kandungku we! Hahahaha...." Narendra malah semangat menjahili adik angkat sekaligus adik iparnya ini.


"Lagian, Dewangga ini aneh. Kamu nggak sadar apa, kamu itu berapa tahun menyita perhatian istriku? Sekarang, baru aja di cium istrinya. Sudah kesetanan." Bima berkomentar.


Komentar ini malah membuat Galuh tergelitik dan ikutan tertawa. "Apa aku salah?" kata Bima melihat Galuh tertawa.


"Tidak salah, tapi kalau kamu cemburu sama anakmu. Itu yang salah, kan Dewangga ada karena kamu yang mau. Coba kamu nggak mau, kan enggak jadi." Jawab Galuh.


"Kamu yang tengah malam....."


"Papa!" teriak Galuh karena malu.

__ADS_1


"Papa, mama kalau malam. Buka selimut juga?"


__ADS_2