
"Bayinya tidak terpengaruh. Hanya ketahanan sang ibu sangat lemah, kami bahkan menyarankan untuk menggungurkan kandungannya. Melihat kondisi ibu si bayi sangat lemah." Dokter berucap setelah memeriksa keadaan Galuh.
Bima ragu dalam mengambil keputusan, karena Galuh terlihat sangat menyayangi calon bayinya itu. "Aku tidak bisa memutiskan, mungkin besok Dokter yang harus menyampaikan hal ini pada istriku sendiri."
"Tetapi, keadaan ibu dari bayi sungguh sangat lemah. Hal ini harus segera di lakukan, sebeluh hal buruk terjadi." Dokter itu sedikit memaksa Bima untuk menyetujui apa yang di sarankan.
"Maaf Dok, saya tetap tidak ingin mengambil keputusan sepihak." Bima lebih kekeh dengan pendapatnya.
"Baik, saya yang akan mengambil keputusan untuk hal ini."
"Dokter macam apa anda ini? Saya akan melaporkan anda pada pihak beraajib jika melakukan sesuatu di luar jalur!" Bima kaget dengan pernyataan Dokter tersebut.
"Tapi ini membahayakan istri Tuan."
"Aku tidak peduli!"
Bima menggendong kembali Galuh untuk di pindah raqak ke rumah sakit lain. Tetapi Dokter tersebut menghalangi Bima. Dengan memanggil keamanan, Dokter tersebut membawa Galuh kembali ke ruangan rawat darurat.
"Jangan membuat saya emosi! Saya sudah bekerja di rumah sakit ini belasan tahun lamanya. Jangan pernah meragukan apa yang menjadi keputusan saya." Dokter itu tampak sangat emosi.
"Apa anda seorang tirani? Di mana hati nurani anda? Jika anda menyentuh istri saya, saya pastikan anda di lepas jabatan saat itu juga." ancaman Bima hanya di anggap sebagai gertakan sambal saja.
__ADS_1
Senyum sinis yang dokter itu tunjukkan membuat Bima mendidih. Dokter tersebut masuk ke ruang rawat lalu menguncinya dari dalam.
Bima gelap mata langsunh mendobrak pintu kaca tebal itu. Bima mendapat perlawanan dari pihak keamanan, namun dia masih berusaha melawan dan ingin menyelamatkan istri dan calon bayinya.
"Apa kalian gila!!! Dia hendak menggugurkan bayi ku dengan alasan tidak jelas. Dia tidak membutuhkan persetujuanku untuk mengaborsi bayiku. Di mana hati nurani kalian!!" Mendengar hal itu keluar dari mulut Bima.
Pihak keamanan itulah yang mendobrak pintu untuk menyelamatkan pasien maalpraktik. Pihak keamanan juga memanggil polisi untuk menangani hal ini dengan benar.
"Terima kasih pak, kalian bisa bertindak dengan benar. Saya secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih." Bima mengucapkan terima kasihnya dengan sedikit membungkuk.
"Kami yang seharusnya meminta maaf pada Tuan. Tidak seharusnya kami menghalangi untuk membawa istri ke rumah sakit lain. Terima kasih sudah mengatakan yang sejujurnya pada kami." Kepala keamanan merasa malu dengan apa yang terjadi baru saja.
"Kalau begitu, saya akan membawa istri saya ke rumah sakit lain." Izin Bima.
Bima membawa Galuh yang sudah tersadar ke rumah sakit lain. Galuh juga merasa jika dirinya seperti menerim suntikan mati rasa di beberapa titik tubuhnya.
Mobil Bima melaju tidak terlalu kencang, juga tidak terlalu pelan. Tetapi karena merasa ada yang membuntuti mobilnya, Bima sedikit menaikkan kecepatannya.
Di saat mobil itu melaju sedikit kencang, mobil di belakang menabrakkan dengan kecepatan sangat kencang. Bima kehilangan kendali dan mobil berputar-putar sebelum akhirnya menabrak pembatas jalan.
Mobil Bima tidak terbalik seperti si penabrak, bahkan Bima masih bisa menggapai Galuh yang berlumuran darah sebelum akhirnya hilang kesadaran.
__ADS_1
Entah berapa lama sudah mereka berdua di rumah sakit, di tolong orang pun keduanya sudah tidak tau lagi.
Bima melihat Galuh duduk di dekatnya berbaring, dengan perban di kepala yang terlihat sudah mengering. Bima mencoba menggerakkan tangannya untuk menggapai wanitanya.
"Jangan bergerak dulu, lukamu masih belum mengering." Galuh tampak tegar setelah kejadian naas itu.
"Galuh, maaf kan aku. Aku mungkin sudah melakukan kejahatan padamu...."
"Sudah jangan banyak omong, sekarang yang terpenting kamu sembuh dulu. Kita akan bicara nanti saat sudah di rumah." Galuh tampak sedikit dingin padanya saat memotong pembicaraannya.
"Baiklah." Bima mematuhi apa yang Galuh perintahkan.
Seminggu sudah Bima di rawat setelah kesadarannya pulih. Galuh selalu menemani dan merawat dirinya dengan penuh kasih sayang.
Hari ini Bima di izinkan keluar dari rumah sakit, dan menjalani rasat jalan. Bima sudah tidak sabar untuk kembali beraktifitas seperti biasanya.
"Kita tidur di kamar tamu saja," Bima tau jika kakinya masih belum bisa bergerak dengan benar, mengingat Honda city miliknya hancur menabrak pembatas jalan.
"Anak kita?" itulah kalimat pertama Bima saat Galuh duduk di sampingnya.
"Sudah lah, mungkin kita belum bisa menjadi orang tua yang baik. Jadi Tuhan kembali mengambil dari perutku." pedih tapi melihat Galuh sudah biasa saja, mungkin dirinya harus bisa lebih menerima keadaan.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bisa menjaga nya." Air mata Bima jatuh membasahi tangan Galuh yang di genggamnya.
Galuh menghapus air matanya yang ternyata ikut jatuh melihat ke rapuhan Bima. "Kita mulai dari awal, jangan pernah meragukan ku lagi."