Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Mati


__ADS_3

*


*


Kejadian pada malam itu sungguh masih sangat membekas di pikiranku yang selalu membuat Aku menjadi sulit lagi untuk mempercayai Tiwi. Samakin hari perasaanku pada Tiwi semakin memudar. Padalah perlakuan Tiwi setelah kejadian itu masih sama seperti sebelumnya, bahkan lebih terlihat begitu peduli denganku.


Setiap Aku membutuhkannya, Dia selalu ada di sampingku. Namun tetap saja karena kepercayaan yang sudah cukup lama Aku bangun, sudah hancur begitu saja karena sebuah kejadian yang belum pernah Aku pikirkan sebelumnya.


Sikapku yang sudah mulai dingin dan terlihat cuek, sama sekali tidak membuat Tiwi menghilangkan perhatiannya walaupun sedikit. Begitu terasa kalau Tiwi ingin memperbaiki semuanya termasuk kepercayaanku.


Ibarat memecahkan sebuah gelas kaca yang dibuat dengan sepenuh hati, tentunya tidak akan mudah untuk menyatukan semua kepingan itu. Seperti itulah yang saat ini ku rasakan. Berulang kali Aku mencoba untuk kembali mempercayai Tiwi, namun seketika hatiku langsung mematahkannya.


🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸


Hari ini Aku bermaksud melanjutkan untuk membuat skripsi yang sudah lama terbengkalai karena memang moodku belum sepenuhnya baik. Kemarin Tiwi mengajakku untuk membuat skripsi bersama, dengan berat hati Aku mengiyakan ajakan Tiwi. Karena walau bagaimana pun, Aku harus tetap mendapatkan gelar sarjana dalam waktu dekat ini walaupun pikiranku sedang sangat kacau.


*Tinnnuunng tiinuuuung* nada dering panggilan masuk.


Aku meraih ponsel yang cukup jauh Aku letakkan dari kasur tempat Aku sedang rebahan.


"Halo assalamualaikum" ucap Tiwi mengawali percakapan.


"Waalaikumsalam. Iya wi" balasku singkat.


"Kita jadi kan ngelanjutin bikin skripsi rel?" tanya Tiwi


"Iya wi" balasku sekenanya saja.


"Jam berapa rel?" ucap Tiwi


"Terserah Kamu aja wi" balasku cuek.


"Kok terserah sayang?" ucap Tiwi mencoba merayuku namun percuma.


"Iya terserah Kamu aja wi" balasku dingin.


"Yaudah jam 10 aja ya, Aku siap - siap dulu" ucap Tiwi dengan penuh rasa sabar menghadapi sikapku selama beberapa hari ini.


"Oke" jawabku singkat dan langsung mematikan telepon.


Aku meletakkan ponsel di samping kasur dan merebahkan tubuhku kembali mencoba beristirahat sambil memandangi langit - langit kamar.


"Maafin Aku ya wi, Aku gak ngerti dengan perasaanku" gumamku dengan tatapan kosong ke arah langit - langit."Ini semua bukan kehendakku".


Otakku begitu kacau, makan tidak teratur, tidurpun tidak pernah tepat waktu sehingga membuat tubuhku begitu kurus. Sering sekali terjadi di saat Aku ingin makan, namun di saat makanan itu masuk ke dalam tenggorokan dan seketika Aku teringat kejadian itu. Spontan makanan yang ingin Aku telan keluar begitu saja. Seperti tidak menerima untuk di isi. Kejadian ini terus terjadi berulang kali setelah kejadian itu.


"Sampai kapan Aku seperti ini" gumamku masih terus menatap langit - langit kamar meratapi nasib."Kalau Aku begini terus, ujung - ujungnya Aku bakalan mati kelaparan".


Aku mengumpati diriku yang terlihat begitu bodoh hanya karena urusan wanita. Perasaan yang semakin hari semakin memudar membuatku berulang kali memikirkan untuk segera berpisah dengan Tiwi, namun bathinku menolak. Walaupun sakit hati yang sudah begitu hebat di berikan Tiwi kepadaku, Aku masih tetap ingin bersamanya. Semua harapanku sudah begitu banyak Aku gantung kepada Tiwi, itu salah satu alasan kenapa sampai saat ini Aku tidak mampu untuk berpisah dengannya.


Bahkan tidak jarang di saat kesendirianku, mengingat kejadian itu. Air mataku secara tidak sadar mengalir dengan sendirinya. Memang benar, hubungan akan semakin kuat jika bisa melewati semua masalah dengan sabar. Namun di sisi lain, Aku selalu berpikir "Apakah suatu saat Tiwi akan mengulanginya lagi. Jika kepercayaanku sudah kembali, apakah Tiwi bisa menjaganya?" pertanyaan yang terus timbul di benakku di saat Aku mencoba untuk kembali mempercayainnya.


Cukup lama Aku termenung di atas kasur yang entah sejak kapan tidak Aku ganti bed covernya, karena memang mood yang begitu hancur membuatku malas untuk berkegiatan.


Di saat waktu sudah menunjukkan pukul 9, Aku mencoba bangkit dari tempat tidur dan mulai membersihkan diri. Tubuhku yang begitu lemas dan tidak bertenaga, membuat Aku kesulitan untuk berjalan, kepalaku pusing seakan dunia begitu terasa perputarannya. Perlahan Aku bimbing tubuhku sembari memegangi tembok agar tidak terjatuh, Aku pikir diriku kekurangan darah karena memang tidak banyak asupan yang Aku terima selama kejadian itu.


Setelah sampai di dalam kamar mandi, Aku mengguyur air dari atas kepala menikmati dinginnya air yang sudah tercampur dengan udara sejuk pada pagi itu. Guyuran demi guyuran mengalir di tubuhkj sembari Aku memejamkan mata sambil berpikir "Aku harus bangkit dari keterpurukan ini, ini tidak baik untuk diriku" Aku mencoba memotivasi diri yang terasa begitu tidak berdaya.


Setelah selesai membersihkan diri, Aku merasa sedikit lebih baik baik dari sebelumnya. Aku mengenakan pakaian seadanya, karena baju - bajuku kebanyakan belum dicuci.


*Tinooong. Tinooong* suara pesan masuk.


"Rel, Kamu udah siap?" pesan masuk dari Tiwi.


"Udah wi, Aku ke sana" balasku singkat.


Segera Aku pergi menuju kos - kosannya Tiwi. Tubuhku masih terasa belum ada gairah menghadapi hari - hari yang biasanya begitu bersemangat jika ingin bertemu dengan Tiwi, namun kali ini begitu jauh berbeda. Seperti terpaksa namun harus melakukannya.


Aku mengendarai motor dengan pikiran yang entah kemana tujuannya. Tidak berani Aku memacu motorku dengan kecepatan tinggi, takutnya nanti jika terlalu cepat bisa saja akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan karena pikiranku memang tidak begitu fokus.


Sekitar 15 menit perjalanan, Aku sampai di depan kosan Tiwi.


"Rel" ucap Tiwi melihat wajahku yang tampak lesu.


"Iya wi" balasku singkat.


"Kamu sakit?" tatap Tiwi heran.


"Enggak kok wi, yuk berangkat" ucapku sedikit tersenyum palsu agar terlihat baik - baik saja.


"Iya rel" balas Tiwi kemudian naik ke atas motor.


"Udah siap wi?" tanyaku di saat Tiwi sudah berada di jok belakang.


"Udah rel" balasnya singkat.


Aku segera memacu motorku dengan kecepatan sedang. Tidak ada percakapan selama beberapa saat.


Cuaca pada saat itu sedikit mendung, sangat mewakili perasaanku pada saat ini.


Karena perlakuanku yang begitu dingin kepada Tiwi, hingga Dia tidak berani untuk memelukku yang biasanya tanpa aba - aba tangannya langsung saja melingkar di pinggangku. Namun kali ini tidak berani untuk melakukannya.


"Rel" panggil Tiwi dengan nada pelan.


"Iya" balasku singkat mencoba tetap fokus mengendarai motor.


"Kamu beneran baik - baik aja?" tanya Tiwi khawatir namun raut wajahnya tidak terlihat olehku, karena kali ini kaca spion tidak langsung mengarah ke wajahnya.


"Iya, memang kenapa?" ucapku dingin.


"Hmmmm... Kamu pucat banget rel" ucap Tiwi


"Aku baik - baik aja kok" balasku terus menyusuri jalan yang terasa begitu hampa.

__ADS_1


"Kalau gak kuat, Kita balik aja ya" Tiwi begitu mengkhawatirkanku.


"Maksud Kamu?" tanyaku sedikit emosi.


"Ya kalau kesehatan Kamu sedang gak baik, mendingan Kita pulang aja. Daripada nanti sakit Kamu makin parah" jelas Tiwi.


"Dari tadi kan sudahku bilang, kalau aku baik - baik aja. Jangan banyak tanya" ucapku kesal sekaligus emosi. Aku merasa begitu tempramen semenjak kejadian itu.


"Hmm..iya rel" jawab Tiwi dan terdiam.


Untuk kali ini Aku tidak peduli sedikit pun apa yang sedang di rasakan Tiwi. Mau Dia sakit hati ataupun menangis sekalipun, Aku merasa itu bukan urusanku. Mungkin hanya tubuhku saja yang sedang bersamanya, namun hatiku tidak tau kemana arahnya. Mungkin saja pada saat ini hatiku sudah tidak ada lagi karena sudah hancur berkeping - keping.


Hingga sampai di tempat Aku dan Tiwi ingin melanjutkan skripsi, tidak ada sedikitpun percakapan yang timbul. Tiwi hanya berdiam diri di belakang, sampai - sampai Aku tidak merasakan lagi keberadaannya sebab Tiwi sama sekali tidak menyentuh tubuhku. Sehingga Aku merasa kalau sekarang Aku sedang sendirian di atas motor.


Setelah sampai, Aku meletakkan motorku di tempat biasa dan perlahan berjalan menuju tempat duduk yang sedikit memojok.


"Duduk dimana rel?" tanya Tiwi yang berjalan di belakangku.


"Di situ aja" ucapku menunjuk ke arah bangku yang terletak di paling pojok.


Aku dan Tiwi berjalan menuju tempat duduk itu dengan posisi Aku lebih mendahuluinya. Namun tiba - tiba kepalaku terasa pusing membuat jalanku sedikit oleng.


"Ehh rel" Tiwi meraih tubuhku yang hampir saja terjatuh.


"Aku gak apa - apa wi" ucapku mencoba kembali berjalan.


"Rel, Aku khawatir sama Kamu" ucap Tiwi mencoba menggandeng tanganku karena melihat jalanku sedikit oleng.


"Udah jalan aja" ucapku jengkel.


Tinggal beberapa langkah lagi sampai di tempat duduk yang Aku tunjuk tadi, tiba - tiba tubuhku terjatuh ke atas lantai tanpa sempat di raih oleh Tiwi hingga kepalaku terhempas cukup kuat.


"Reeeeeellll" teriak Tiwi melihatku tergeletak di atas lantai namun Aku masih sadar.


"Wi kepalaku pusing" ucapku menatap Tiwi namun tidak begitu jelas karena penglihatanku berkunang - kunang.


Kepalaku berada di pangkuan Tiwi, terlihat beberapa orang mulai menghampiriku.


"Kenapa kak?" ucap salah seorang yang sedang mengerumuniku.


"Fareeell" terdengar suara Tiwi mulai berat.


"Di bawa ke puskesmas aja kak" ucap seorang pria yang Aku tidak tau siapa. Karena terlihat hanya wajah Tiwi namun samar - samar.


Aku tidak mampu berdiri sama sekali, hingga beberapa orang mencoba membantuku. Di saat 2 orang lelaki yang tidak Aku kenali itu membopongku menuju motor, tiba - tiba Aku jatuh pingsan tak sadarkan diri.


*


*


*


*


*


"Farelll. Kamu udah sadar" ucap Tiwi memegang pipiku dengan berlinang air mata yang berada di sampingku.


"Aku dimana wi?" tanyaku heran dengan tubuh yang begitu lemah.


"Kamu di Puskesmas rel." ucap Tiwi terus mengelus - elus wajahku dengan penuh perasaan.


"Sejak kapan?" tanyaku sambil menatap Tiwi yang terus saja mengusap wajahku dengan linangan air mata yang entah sejak kapan.


"Sudah 5 jam lebih Kamu gak sadarkan diri rel. Kamu kenapa gak mau bilang kalau Kamu sedang sakit?" tanya Tiwi begitu lembut dan di sambut dengan rintihan tangis.


Aku terdiam, mencoba untuk bergerak namun tidak bisa. Tubuhku terasa begitu lemah tidak berdaya. Hanya tangan dan mulut saja yang dapat Aku gerakkan.


"Tunggu sebentar ya rel" ucap Tiwi pergi meninggalkanku.


Aku membalasnya dengan kedipan mata.


*


*


Beberapa menit kemudian, Tiwi datang dengan membawa seorang suster.


"Sus, coba diperiksa lagi. Farel sudah sadar" ucap Tiwi kepada suster itu.


"Baik buk, Saya periksa dulu. Silahkan tunggu di luar" ucap suster dengan sopan.


"Baik sus" balas Tiwi meninggalkan Aku dan suster di dalam kamar pasien yang terasa cukup dingin.


Suster itu mulai mengecek tubuhku dengan stetoskopnya, mulai dari bagian dada hingga perut semua di rabanya menggunakan stetoskop itu. Aku hanya terdiam sambil menutup mata.


"Sepertinya bapak harus diberi Vitamin penambah darah" ucap suster itu setelah selesai memeriksaku.


Aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun, tidak peduli apapun penyakit yang sedang Aku derita.


"Saya panggilkan ibuknya dulu ya pak" ucap suster itu kemudian beranjak meninggalkanku.


*


*


"Terserah mau sakit apa, mau mati sekalipun Aku tidak peduli" ucapku dalam hati. Karena merasa hidupku tidak ada artinya lagi.


Kemudian Tiwi dan Suster kembali masuk ke dalam ruangan dimana Aku di rawat.


"Jadi gimana sus?" tanya Tiwi khawatir.


"Sepertinya Pak Farel kekurangan darah karena kecapekan dan kurang asupan gizi." ucap Suster yang Aku belum tau siapa namanya.

__ADS_1


"Hmmm... Farel" ucap Tiwi mendekatiku dengan wajah sendu.


"Kalau begitu nanti saya bawakan obatnya ya buk, saya permisi dulu" ucap Suster pergi meninggalkan Aku dan Tiwi.


"Baik sus" ucap Tiwi mengangguk.


Aku hanya terdiam tidak peduli apapun yang sedang terjadi pada diriku. Hidup yang terasa seperti sebuah sampah yang pantas untuk segera di buang, membuat Aku pasrah apapun yang terjadi setelah ini.


"Farell" Tiwi duduk di sampingku dan mengelus - elus kepalaku dengan perlahan."Kamu jangan siksa diri Kamu seperti ini terus. Aku gak mau Kamu kenapa - kenapa" ucap Tiwi menatapku dengan penuh harap agar Aku segera sembuh.


Mendengar Tiwi terus berkata - kata, Aku tetap saja terdiam tanpa respon sedikitpun.


"Aku harus apa agar Kamu tidak seperti ini terus rel?" tanya Tiwi perlahan menjatuhkan air matanya.


"Aku baik - baik aja kok wi" ucapku tersenyum. Namun Tiwi tau jika senyum yang Aku berikan bukan karena Aku senang.


"Fareeell... Pliss rel" air mata Tiwi mengalir begitu deras hingga jatuh mengenai wajahku.


"Sudah wi, Kamu gak usah khawatirin Aku lagi ya. Sebentar lagi gak bakalan ada yang bikin Kamu nangis seperti ini lagi kok". ucapku mulai ngawur.


"Maksud Kamu apa rel?." tanya Tiwi.


"Ya Kamu tunggu aja deh" ucapku santai karena merasa hidupku tidak akan lama lagi.


"Fareelll.. Kamu jangan asal bicara dong" tangis Tiwi semakin menjadi - jadi karena mendengar ucapanku yang sudah mulai aneh.


Aku membalas tangisan Tiwi hanya dengan sebuah senyuman yang Aku yakin membuat Tiwi semakin hancur. Namun Aku yang sudah merasa putus asa atas apa yang sedang Aku alami. Membuat Aku tidak peduli apapun yang sedang Tiwi rasakan.


*Tookk tookkk*


"Permisi" ucap seseorang dari luar pintu kamar.


"Iya masuk" ucap Tiwi sembari menghapus air matanya.


Suster yang memeriksaku tadi membawa secarik kertas dan sebuah plastik bening yang berisi obat - obatan yang Aku yakin itu obat untukku.


"Buk ini obatnya dan biaya administrasinya langsung saja ke meja resepsionis ya" ucap Suster memberikan obat dan secarik kertas.


"Baik sus." ucap Tiwi sambil meraih pemberian dari suster itu." Farel harus di rawat dulu apa sudah bisa langsung pulang ya sus?" tanya Tiwi


"Untuk hari ini lebih baik bapak Farelnya di rawat dulu saja buk, soalnya kondisi fisiknya masih sangat lemah untuk berjalan" terang suster itu.


"Baik kalau begitu sus, nanti saya selesaikan dulu administrasinya. Terima kasih" ucap Tiwi


"Sama - sama buk" ucap suster kemudian kembali pergi meninggalkan Kami berdua.


Setelah menerima obat yang di berikan suster, Tiwi meletakkannya di atas lemari yang terletak di samping ranjangku.


"Rel, Kamu tunggu di sini sebentar. Aku mau ke resepsionis dulu" ucap Tiwi ingin pergi.


"Iya wi, nanti kalau Aku sudah sembuh. Uang Kamu bakalan Aku ganti" ucapku yang Aku yakin membuat Tiwi merasa dirinya sebagai orang asing di hidupku.


"Apaan sih rel. Kamu jangan ngomong yang aneh - aneh lagi. Gak ada kata ganti - ganti" ucap Tiwi tegas dan pergi meninggalkanku karena tidak ingin mendengar kata - kataku yang tidak dapat Dia terima.


Aku mencoba memejamkan mata selama Tiwi pergi. Tubuhku yang begitu lemah dan tidak bisa banyak gerak, membuat Aku tidak tau harus melakukan apa. Mataku memang terpejam, namun pikiranku selalu mengarah pada kematian sangkin Aku merasa hidupku sudah tidak ada artinya lagi.


"Kenapa gak mati aja ya sekalian" ucapku dalam hati sembari memejamkan mata."Gak ada lagi gunanya Aku hidup kalau hanya membuat orang lain susah seperti ini".


Kata - kata putus asa selalu terlintas di benakku. Aku terus berpikir jika Aku sudah tidak ada lagi di kehidupannya Tiwi, Dia akan merasa bahagia dan bebas menjalin hubungan dengan pria yang mampu memenuhi semua kebutuhannya. Karena dengan keadaan Aku yang serba kekurangan ini. Aku merasa Tiwi tidak akan pernah merasakan bahagia, baik dari segi materi maupun bathin. Apalagi kejadian beberapa hari yang lalu membuat Aku sangat yakin kalau Tiwi memang membutuhkan seseorang yang lebih dari segi ekonomi agar nanti hidupnya tidak terlantar.


Selama bersamaku, Tiwi tidak pernah sama sekali menerima barang - barang yang terbilang cukup mahal. Karena memang ekonomiku yang serba kekurangan ini yang membuatku hanya mampu memberikan itu untuknya. Walaupun di hadapanku Tiwi terlihat begitu bahagia menerima barang - barang murah yang Aku berikan, namun di balik itu semua Aku masih belum tau apa yang di pikirkannya. Apakah Dia memang bahagia Atau hanya sekedar ingin menghargai apa yang sudah Aku berikan.


*Cekreeekk* suara pintu di buka dan membuat Aku terkejut di sela lamunanku. Tiwi berjalan ke arahku.


"Rel, semuanya sudah beres. Untuk malam ini Kita tidur di sini dulu ya" ucap Tiwi yang sudah berada di sampingku.


"Iya wi" balasku singkat kemudian sesekali menatap wajahnya yang terlihat cukup lelah.


"Cepat sembuh ya rel" Tiwi menggenggam erat tanganku dan menempelkannya ke arah pipi Tiwi yang masih terasa lembab karena air mata.


"Do'akan aja" ucapku tidak peduli.


Cukup lama Tiwi menggenggam tanganku, hingga tiba - tiba Tiwi kembali menangis. Entah apa yang sedang di pikirkannya. Tubuh Tiwi terlihat bergetar menahan tangis.


"Kamu kenapa wi?" tanyaku heran dan mulai khawatir, walau bagaimana pun. Sedikit perasaan cemasku akan Tiwi tetap ada walaupun hanya sedikit.


"Hehehe.. Aku gak apa - apa kok rel. Aku hanya merasa begitu jahat sama Kamu"ucap Tiwi dengan sebuah senyuman namun air matanya terus mengalir sangat deras.


"Sudah, jangan di pikirkan lagi. Aku pantas nerima ini semua kok" Aku membalas senyuman palsu Tiwi dengan hal serupa.


"Gak rel, ini semua harusnya terjadi sama Aku bukan sama Kamu" ucap Tiwi semakin erat menggenggam tanganku.


"Sudah ya wi, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Gak baik juga buat Kamu nantinya" ucapku mulai lembut karena merasa kasihan melihat Tiwi yang entah berapa kali menjatuhkan air mata hari ini.


"Hmmm.. Iya rel. Kamu pokoknya jangan lama.- lama sakitnya. Katanya mau wisuda barengan sama Aku" ucap Tiwi perlahan menghapus air matanya dan menatapku dalam.


"Iya wi. Besok Aku bakalan sembuh kok" balasku mencoba membuat Tiwi menghapuskan rasa bersalahnya.


"Kamu janji?" ucap Tiwi mengarahkan jari kelingkingnya.


"Iya Aku janji" balasku menyambut jari kelingking Tiwi yang di arahkannya padaku.


Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Aku dan Tiwi belum makan sama sekali.


"Rel, Aku beli makan dulu ya. Kamu harus minum obat juga" ucap Tiwi mengingat Kita berdua belum makan sama sekali.


"Hmmm.. Iya wi" ucapku.


"Aku titip ponselku ya" ucap Tiwi meletakkan ponselnya di samping ranjangku tepat dimana Tiwi meletakkan bersamaan dengan obat - obatanku.


"Iya wi" balasku kemudian Tiwi pergi meninggalkanku sendirian di dalam kamar.


Selama Tiwi pergi untuk mencari makanan, Aku hanya terbaring diam tanpa ada kegiatan sama sekali. Aku hanya bisa menatap langit - langit kamar yang terlihat sudah mulai menguning termakan usia. Lampu kamar yang terlihat redup, membuat suasana di kamar itu terasa tidak enak. Aku mencoba memejamkan mataku beberapa saat.

__ADS_1


Sudah 15 menit berlalu namun Tiwi tidak kembali, di sela - sela lamunanku. Terdengar suara nada dering dari ponsel Tiwi. Aku mencoba meraihnya namun tidak sampai. Aku terus memaksakan tubuhku bergerak hingga pada akhirnya Aku melihat panggilan yang ternyata dari seseorang yang tidak terasa asing. Dia adalah.....


Bersambung...


__ADS_2