
Makan malam ini menunya tetap seafood. Sedangkan Raya ingin makan makanan daratan. dia benar-benar ingin makan sate ayam yang pernah dia makan waktu ke puncak.
"Bima, aku lagi enggak nafsu makan. Aku kepingin makan sate ayam yang di Deket villa keluarganya Fairus." rengek Raya yang tidak enak pada Bima.
"Tidak apa-apa Raya, mau aku buatin?"
"Tidak, aku mau yang dari sana langsung. Sayang, bisa...?" dengan menunjukkan Poppy eyes nya, Raya meminta pada Fairus.
"Sayang, perjalanan dari sini ke sana tiga jam bolak-balik Lo. Nyampek sini bisa tengah malam, nggak pa pa?" tanya Fairus mengingatkan.
"Sayang, seandainya mulutku yang mau. Aku juga tidak ingin kamu tinggalkan begitu lama.Tapi ini baby kita yang mau, kamu mau punya anak ileran?" rengek Raya kembali mengingatkan jika dirinya tengah membawa buah hatinya bersama Fairus.
"Ya, tapi harus di makan."
"Ok."
Sebagai suami yang baik dan bertanggung jawab, Fairus langsung mengambil jaket dan segera pergi mencari sate untuk istri tercinta.
"Pak, aku ikut." Kata Bima yang juga tidak membiarkan mantan dosennya itu pergi sendiri.
__ADS_1
Bima memikirkan kesehatan Fairus. Jika lelah, dia bisa menggantikan mengemudi mobil. Namun, karena Galuh tidak ingin di tinggal. Dia pun langsung memeluk tangan suaminya.
"Aku juga ikut."
"Aku gimana, dodol!" Protes Raya.
"Ikut, lah."
Mendengar apa yang di katakan sahabatnya. Raya pun ikut memeluk tangan suaminya.
"Hmmm, terus maunya gimana? kita semua tidur di Villa sana aja gimana? Udah malam juga." Usul Fairus langsung di setujui oleh Bima dan Galuh.
Hitung-hitung refreshing dadakan.
Perjalanan satu jam setengah, seharusnya. Tapi karena membawa ibu hamil dan bayi kecil, mereka berada di jalan selama dua jam.
Makan malam yang sangat telat di warung sate, Bima ternyata cukup menyukai satenya. Dia menambah satu porsi sate, sedangkan Galuh dan Raya menambah gulai.
Dewangga yang masih kecil, dia hanya di beri makanan pendamping bubur saja.
__ADS_1
Setelah semuanya kenyang, Fairus membelokkan mobilnya ke Villa besar yang hanya berjarak dua gerbang saja dari tempat sate itu.
Villa ini cukup luas, di tambah dengan lapangan bermain milik pribadi. Sepertinya memang ini Villa keluarga.
"Sayang, aku ngantuk banget." kata Galuh berbisik pada Bima.
"Pak, di mana kamarnya? Galuh kekenyangan, makanya mengantuk." Kata Bima jujur.
"Hmmm, dua orang ini sama aja. Itu di sana kamar kalian, Raya juga sudah tidur di sofa. Tu kalo tidak percaya." Fairus menunjukkan keberadaan istrinya yang sudah mengorok halus.
"Astaga, ya sudah pak. Selamat malam."
Ucap Bima masuk ke dalam kamar yang di tunjukkan oleh Fairus tadi. Kamarnya luas, Bima membuka tirai besar dan langsung melihat pemandangan indah.
Balkon yang langsung tembus taman, rupanya kamar ini adalah kamar tamu utama. Kamar di lantai satu yang cukup indah.
Galuh memeluk lengan besar Bima setelah menidurkan Dewangga.
"Sayang, apa kamu tidak dingin? Aku kedinginan." kata Galuh seakan memberi kode untuk memeluknya.
__ADS_1
Bima tersenyum, tanpa kata dia membawa Galuh ke depan dan memeluknya. "Apa sudah hangat?"
"Ya, hanya kamu yang mampu memberiku kehangatan luar dan dalam."