
Rumah Bima jam setengah lima sore. Galuh duduk di ayunan menikmati cilok bersama bumil. Sedangkan Dewangga di biarkan main di teras.
"Dasar bumil suka nyemil, kau ya. Kalau begini terus, aku bisa jadi bola bekel." Mulut mengomel, tapi jari terus memencet makanan berbentuk bulat-bulat kecil itu dan memasukkan ke mulut.
"H8lih, mulut Lo aja juga ngunyah! Eh, Luh. Inget si Irma nggak kamu?" tanya Raya yang baru saja ingat kabar terbaru.
"Irma siapa? Si Irma kecil item tu? Yang suka nyinyir di sosmed?" Seketika otak Galuh terfikir satu temannya.
"Mulut... mulut... Mana aku enggak boleh mengumpat, lagi. Tapi bener, iya itu orangnya. Katanya kawin sama si Roby, inget nggak sama Roby?" Raya tak boleh mengumpat karena dia tengah hamil. Tapi ucapan Galuh benar, memang Irma yang itu.
"Hahahaha sabar, emang kamu mau anakmu item kayak si Irma?"
"Heh, amit-amit lah. Eh tapi beneran, dia mau nikah sama Roby. Kamu di undang juga kok, tapi undangannya ketinggalan di kantor suamiku."
"Tadi kawin, sekarang nikah. Yang bener mana?" Raya seketika langsung nge-lag.
"Astaga, apa bedanya Galuh nasi rames?"
__ADS_1
"Sialan, nasi rames. Mulutmu itu lemes, moga-moga anakmu nurun Ama aku."
"Amin." jawaban Raya ini malah bikin ngakak keduanya.
Galuh merasa tak memiliki beban, dia bahkan lupa akan masalahnya kemarin. Emosi karena Vio pun terlupakan, selama Raya datang mengajaknya bercanda.
Namun, pada saat Bima pulang, senyum Galuh akan sedikit memudar. Bima tau itu, karena semua masalah saat ini juga karena dirinya.
"Galuh, kita menikah sudah lebih dari lima tahun. Banyak sekali rintangan yang kita lalui bersama dan kamu, istriku, tetap berada di sampingku. Aku harap, jangan pernah berubah karena masalah ini."
"Bima, aku punya uang nggak banyak, tapi pingin beli mobil. Tapi uangku enggak cukup, tapi....."
"Banyak tapinya kamu ngomong. Ya aku tambahin, kamu mau beli mobil apa?" Bima gemas sekali dengan apa yang di ucapkan Galuh. Minta di tambahin beli mobil saja muter-muter.
"Emmmm aku mau mobil ini, yang warna merah sepertinya bagus. Kamu beneran mau nambahin, kan?" Galuh menunjukkan foto di ponsel dan memastikan sekali lagi pada Bima.
"Iya, aku tambahin....."
__ADS_1
"Hallo mas, kirim sekarang. Untuk administrasi bisa di sini, kan?"
"Ok, saya tunggu."
Dengan senyum merekah, Galuh menyerahkan dompetnya pada Bima. Membuka pelan dan mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompetnya.
"Dua ribu lima ratus? Galuh, ini mobil harganya empat ratus enam puluh sekian juta, Lo. Kamu ngasih uang dua ribu lima ratus?" Bima benar-benar bingung di buat Galuh.
"Sayang, tadi aku ngomong apa? Aku punya uang sedikit, ya itu sedikit." Bima mengingat kembali apa yang di katakan oleh istrinya.
Benar, istrinya memang mengatakan uangnya sedikit. Tapi, Bima tidak berpikir kalau uangnya benar-benar sedikit.
"Tapi sayang, tabungan kamu juga banyak, bukan?"
"Memang, tapi aku bilang uangku. Artinya kan uang yang aku pegang sekarang, bukan tabungan yang aku bilang, kan? Apa aku salah?" Galuh memang tidak mengatakan masalah tabungan. Licik, sejak kapan istrinya ini bisa selicik ini?
"Ok deh." Tak marah, Bima malah tersenyum akan kelicikan istrinya.
__ADS_1