
Setengah jam sudah perjalanan mereka menuju kediaman Bima dan Galuh. Baru masuk ke area perumahan saja, Prayan sudah merasakan ada yang aneh.
Mobil dan rumah yang berada di kawasan elit? Apa ini benar menantunya yang dua tahun lalu masih makan di rumahnya karena tidak punya uang?
Meski merasa aneh, Prayan enggan untuk mengeluarkan suara. Jika Bima mengkredit rumah untuk hunian mereka sekarang. Bisa di pastikan, jika menantunya ini ingin memanjakan putrinya. bukankah itu bagus?
Rumah dua lantai dengan cat putih, tampak sangat elegan. Rumah ini tidak murah. Di lihat-lihat juga seperti ada yang lain dari perumahan sekitarnya.
Rumah ini lebih mewah.
Mobil bagus, rumah mewah dan di depan ada seorang yang membukakan pintu pagar sebatas dada orang dewasa. Apa dia pembantu yang di sewa Bima untuk membantu putrinya mengurus rumah?
Berapa uang yang harus di keluarkan setiap bulan? Apa Bima tidak merasa keberatan? Ah, Prayan kembali mengingat berapa uang yang di transfer oleh menantunya kemarin.
Tiga puluh juta, mungkin baginya uang itu tidak ada artinya. Mengingat setiap bulan dia bisa menghasilkan tiga juga dolar. Tapi, bagi Bima yang baru memulai bisnisnya? Bukankah itu cukup besar?
__ADS_1
"Bima, ini rumah siapa?" tanya Prayan ragu-ragu.
"Ini rumah Galuh," jawab Bima tersenyum tipis.
"Ini terlalu besar untuk kalian. Apa kalian masih punya tabungan untuk calon anak kalian? Yang yang kemarin di transfer juga sepertinya sangat besar. Apa kamu masih punya pegangan, sekarang?" tanya Prayan hati-hati.
"Papa, uangnya Bima buanyak. Jadi jangan takut kehabisan. Sudah ayo masuk, tadi Bima masak banyak dan enak-enak." kata Galuh bersemangat.
Bima uangnya banyak? Bagaimana bisa? Ini jelas aneh. Tapi, Prayan tetap tenang. Mungkin menantunya habis menang lotre.
Prayan mengenal lelaki tapi itu, karena orang itu sangat terkenal di dunia bisnis. Dia, siapanya menantunya? Kenapa bisa berada di rumah ini?
"Pa, Ma. Ini orang tua ku," Bima menjelaskan pada Prayan yang tak bisa menyembunyikan rasa bingungnya.
"Tapi,"
__ADS_1
"Maaf, dulu mereka mau saya lebih mandiri. Dan sekarang gantian adik-adik saya yang merasakan bekerja tanpa bantuan orang tua." Bima menjelaskan.
"Pantas saja kamu memberiku pinjaman yang sangat besar. Mobil yang bagus, juga rumah mewah untuk putriku." Prayan sedikit merasa malu di hadapan menantunya.
Dia tidak pernah mengira, jika menantunya itu seorang milyarder muda. Sedangkan dirinya? Dia menggadaikan perusahaan yang di bangun oleh keluarganya demi pengobatan istrinya.
"Mama sudah capek, sayang. Jangan di ajak ngobrol terus." Galuh membawa ibunya duduk di sofa.
"Kamu juga, ini sekarang makan buah. Lanjut minum suplemen, tadi mama mampir beliin kue kesukaan kamu juga." Rosmia membawakan kue yang memang kesukaan Galuh.
Mia tau itu kue kesukaan Galuh, sedangkan putrinya tidak akan pernah mengatakan apa yang dia sukai.
Senyum Mia mengembang, dia merasakan ketulusan keluarga Bima. Apa yang di tanam Galuh saat dulu untuk Bima, rupanya tidak membuatnya sengsara di akhir.
Bima secara tidak langsung selalu menunjukkan cintanya pada Galuh. Persis seperti yang di katakan oleh Maya, kakak Galuh.
__ADS_1
Kehidupan rumah tangga Galuh dan Bima di jalani tidak seperti membalikan telapak tangan. Selain kehadiran Jovan yang sangat meresahkan. Galuh juga menikah, tidak dengan rasa cinta.