Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Buntut dari tas


__ADS_3

Siang hari, sebelum Bima masak. Ada seorang kurir makanan mengantar makanan ke rumahnya. Ternyata Galuh memesan makanan yang cukup pedas. Makanan yang menjadi pantangan bagi ibu hamil dan menyusui.


"Galuh, kenapa kamu memesan makanan dari luar?" tanya Bima mendapati Galuh membeli makanan yang tak di anggap sehat olehnya.


"Lagi pingin saja, kenapa sih ribet banget?" Ucapan Galuh terdengar dingin, kembali dingin seperti awal pernikahan.


Bima mulai panik, inikah buntut dari tas tadi pagi?


"Galuh, ada apa dengan kamu?"


"Aku kenapa? Aku enggak apa-apa." jawab Galuh seadanya.


"Galuh, apa.... kamu mau pergi dari aku?" tanya Bima sedikit cemas.


"Aku punya anak dan aku di sini, aku bisa pergi kemana?" ucapan Galuh saat ini terdengar seperti orang yang putus asa. Ini tidak baik untuk hubungan pernikahan mereka.


"Galuh, apa aku ada salah?"


"Tidak."


Bima tak mendengar lagi rengekan manja Galuh. Dia bahkan tidak mendengar namanya di sebut. Kenapa Galuh kembali seperti semula?


"Apa gara-gara tas tadi? Aku tidak keberatan sama sekali, sayang. Jangan begini.... Ayolah jangan buat aku takut begini."

__ADS_1


Bima yang takut, berhadapan dengan Galuh yang cuek. Ini berbanding terbalik dengan apa yang sudah terjadi semalam.


Perasaan dingin Galuh, bukan karena tas yang mampu ia beli sendiri. Tapi, Galuh tak ingin lagi sakit hati karena terlalu mencintai suaminya. Bahkan, dia bisa secemburu itu pada Vio.


Apa yang di lakukan Vio, tidak akan pernah di lupakan oleh Galuh. Wanita yang berani menggoda suaminya.


Galuh selesai makan, dia segera memompa ASI dan meninggalkan rumah. Dalam keadaan seperti ini, kemana Galuh akan pergi? Bima tak bisa menahan, dia juga tak bisa membujuk amarah Galuh yang sudah menyesakkan.


"Galuh, kamu kemana?"


"Kerja!"


Galuh meninggalkan rumah, dia kembali kerja? Apa cafe terlalu penting bagi Galuh saat ini? Padahal Bima memilih untuk bekerja di rumah untuk menemaninya.


Sial, Galuh kenapa seperti ini? Bahkan Galuh mengembalikan sampai tiga kali, uang yang di berikan oleh Bima.


Bima mencoba memberi ruang pada Galuh untuk sendiri. Biar bagaimana pun, waktu sendiri adalah obat yang paling di perlukan oleh mereka saat ini.


Bima mengalah, tapi dia mulai khawatir. Itu karena Galuh belum kembali hingga jam makan malam.


"Dewangga, nenek sama kakek datang. Lihat, kami bawa apa..." Rosmia bersama dengan Yasa datang membawa begitu banyak belanjaan.


Tidak ada yang menyahut, padahal Bima ada di ruangan yang sama. "Kamu kenapa?"

__ADS_1


"Galuh maksa kerja." jawab Bima lesu.


"Kenapa kembali kerja? Apa keluarga kita sudah tidak mampu membiayai dia?" Rosmia sedikit emosi juga saat ini.


Ibu mana yang tega melihat putranya seperti orang setres? Bima benar-benar seperti orang linglung. Dan ini karena Galuh


"Ini salah Bima, nggak seharusnya menanyakan untuk apa dia memakai uang begitu banyak. Aku tau dia di besarkan oleh orang tuanya dengan kemewahan dan kenyamanan. Tapi denganku, dia masih mendengar pertanyaan untuk apa uang segitu banyak?"


Bima menyalahkan dirinya sendiri, itu karena dia merasa bersalah sudah bertanya seperti itu.


"Memangnya untuk apa?" Yasa sedikit jengkel mendengar putranya bercerita.


"Untuk beli tas itu, dia mengembalikan uangnya melebihi yang ia gunakan. Setelah itu, dia juga membeli makanan di luar sebelum berangkat kerja." Bima menunjukkan tas yang baru di antar sore oleh kurirnya.


"Apa aku harus menjual perusahaan hanya untuk membelikan menantuku tas seharga kurang dari lima puluh juta ini? Kenapa kamu bodoh dengan bertanya?" Yasa sangat emosi melihat tingkah putranya.


Bagaimana bisa, dia menanyakan kemana larinya uang seharga tas kecil itu? Memang benar-benar konyol.


"Sayang, ssttt... tas itu lima puluh juta hanya kurang beberapa ribu saja...."


"Itu harganya Empat puluh delapan, ma. Memang kurang kalau lima puluh juta. Tapi Galuh mengembalikan uangnya sebesar lima puluh juta. Tiga kali aku kembalikan, tiga kali pula di balikin ke aku. Aku takut, Galuh meninggalkan aku pa."


"Sudah pasti itu! Lagian kamu ini, cuma empat puluh delapan saja jadi perkara. Sekarang kamu susul istrimu, biar Dewangga kami ajak pulang, nginep di rumah." Yasa sangat jengkel sekali dengan putranya.

__ADS_1


"Ya pa."


__ADS_2