Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Sumpek


__ADS_3

Pernikahan tanpa cinta berjalan dengan lancar. Acara ijab dan resepsi di lakukan di sebuah hotel mewah. Namun, Candra menolak untuk menginap di kamar hotel.


Pengantin baru itu pulang, begitupun dengan keluarga yang lain. Namun, ada yang berbeda dengan Bima dan Galuh.


Selama ini, Bima sama sekali tidak pernah menginap di rumah keluarga besar Fedrik. Rumah yang di huni oleh paman dan bibi Bima.


Sedangkan orang tua Bima, pulang bersama dengan Candra dan menantu barunya.


"Bim, rumah ini peninggalan nenek kamu?" Tanya Galuh takjub melihat rumah yang begitu besar dan megah.


"Iya, cuma papa enggak mau tinggal di sini. Sumpek," ujar Bima membawa masuk Galuh ke dalam rumah besar tersebut lewat pintu samping.


"Sumpek? Apa papa fobia dengan warisan?" Tanya Galuh heran.

__ADS_1


Rumah sebesar ini masih terasa sumpek bagi mertuanya?


"Kalau fobia, mana mungkin papa mau menjalankan perusahaan? Nanti kamu juga akan tau kalau sudah ada di dalam rumah. Tapi, jangan lunak terhadap mereka, mengerti?" Bima berpesan untuk tidak lunak terhadap paman dan bibinya?


Apa Bima ini sedang sakit? Atau memang keluarganya yang sangat keras?


Galuh masuk mengikuti Bima dari belakang. Rasa penasaran Galuh langsung terjawab pada saat mereka baru menginjakkan kaki di rumah utama.


"Wow, selamat datang Bima si anak emas. Tumben pulang, apa mau ambil rumah ini juga?" ucapan sengit dari istri paman Bima ini cukup mengagetkan Galuh.


Bima hanya tersenyum mendengar sambutan dari keluarga papanya. Hal ini cukup jelas setelah kedatangan Candra di perusahaan. Awalnya, paman dan bibi Bima kurang begitu tertarik dengan pekerjaan. Tapi, setelah Weni atau ibu dari Vio yang merupakan saudara jauh mereka menjadi besan seorang Yasa Fedrik. Jelas itu mengancam posisi mereka berdua.


"Paman, apa yang perlu paman takutkan? Bahkan, tanpa bekerja keras paman masih bisa menikmati kekayaan dari perusahaan..."

__ADS_1


"Jelas, karena itu peninggalan papa dan mamaku. Apa kalian juga akan menutup mata akan hal ini?" paman Bima terlihat sangat berapi-api akan pengakuan ini.


"Paman tau, berapa uang yang di gelontorkan oleh papa untuk membangun kembali perusahaan? Apa paman lupa dengan cara apa, membuat perusahaan hampir gulung tikar?"


Bima membalas perkataan pamannya dengan mengungkit kejadian dulu. Paman Bima diam, dia tidak bisa menjawab lagi.


"Dan bibi, apa bibi lupa dengan kejadian di mana keluarga mertuamu menggadaikan rumah ini? Mereka bahkan tidak berniat membayar gadaian itu sama sekali. Siapa yang menebus rumah ini? Papa ku! Kalau pun rumah ini di ambil alih oleh papa, itu masih wajar. Karena papa bisa di katakan sudah membeli rumah ini."


Bima meninggalkan orang-orang tua itu dan naik ke atas. Bima memilih kamar paling atas di lantai tiga. Lantai tiga yang masih cukup luas itu ternyata khusus milik keluarga Bima.


"Ini kamar papa sama mama, dan dua ini kamar Nanda juga Candra. Sedangkan kamarku dan Mimi ada di ujung sana. Ini semua bagian papa, jadi anggap rumah sendiri." kata Bima duduk di sofa yang ada di tengah-tengah ruangan.


"Kayaknya aku tau kenapa papa bilang sumpek. Jelas bukan karena ruangan, tapi penerimaan keluarga.yang lain." Galuh duduk di pangkuan Bima yang masih mengenakan baju formal.

__ADS_1


"Kamu memang pintar."


__ADS_2