
Jika di rumah Bima terjadi malapetaka, maka lain halnya dengan yang terjadi di kediaman sang dosen. Terlihat Raya yang tengah sibuk menggoda tidur suami yang memiliki rambut aneh di wajahnya. Terlihat sekali wanita itu menikmati rambut-rambut itu sebagai mainan barunya.
"Kau suka?" tanya Fairus.
"Suka, lebih garang. Gherr." jawab Raya sambil menirukan suara binatang buas, tapi terdengar sangat lucu di telinga Fairus.
"Dengar kata dokter kemarin kan? Kamu harus makan yang banyak dan tidak boleh emosi. Ada si kecil di dalam." Fairus membelai rambut lurus pendek milik Raya.
"Kalau begitu, buatkan aku bubur." pinta Raya yang semakin manja pada suaminya.
"Sesuai keinginan mu sayang. Aku tidak ingin kamu terpengaruh oleh apa pun tentang gosip diriku dan dia lagi. Okey?" kecup kening sang ciuman di pipi membuat Raya tak pernah menanggapi gosip. Karena pada dasarnya dosen killer itu sudah tunduk pada cinta Raya.
"Kalau kamu tidak menunjukkan kalau gosip itu benar. Aku akan percaya."
Merasa tidak ada lagi yang di pertanyakan, Fairus melepas pelukan hangat untuk istrinya. Dia segera membuatkan bubur yang beberapa hari di minta Raya.
Kebahagiaan seakan menyelimuti keluarga kecil Fairus dan Raya. Mereka melupakan restu orang tua yang tak di dapat karena perbedaan usia yang terlampau jauh.
"Sayang, buburnya sudah siap. Mau makan di kamar apa di meja makan?" tanya Fairus lembut membelai rambut Raya.
"Di meja makan saja, tapi gendong." Rengeknya.
"Dengan senang hati, sayang."
__ADS_1
Bahagia sekali guru dan murid ini, seakan tak ada yang menghalahi mereka untuk tersenyum. Ya memang tidak ada yang menghalangi, karena mereka sudah saling mencintai.
Fairus menggendong Raya selayaknya menggendong bayi Koala. Dengan hati-hati menuruni tangga dan membawa gadisnya ke ruang makan.
Baru saja turun dari tangga, Fairus di kagetkan oleh seorang wanita yang melahirkan dirinya tengah menikmati bubur untuk Raya.
"Mama!"
"Jadi begini kelakuan kamu? Benar-benar seperti merawat anak bayi." cibir Aini Anola Ibrahim.
"Karena saya mau, kenapa Mama jadi tersinggung?" Raya sudah berontak ingin turun, tetapi Fairus enggan untuk menurunkannya.
"Kamu juga perempuan kecil, berani sekali main-main sama guru! Dasar tidak tau malu." Aini memandang Raya dengan tatapan jijik.
"Jangan beralibi kamu, mana mungkin gurumu bisa di pergoki di kamar muridnya. Jika tidak di undang masuk?" Aini masih memojokkan Raya.
"Mama! Jangan langkahi batasan mu, dia menantu mu. Istri pilihan ku." Geram Fairus.
Dia kembali mengingat kalau Ainilah yang dulu terus menjodohkan Fairus dengan anak sahabatnya yang usianya di bawah Raya. Tetapi dia tidak ingat itu, karena gadis itu selalu mengenakan riasan maupun baju yang menyerupai orang dewasa saat menemuinya. Fairus tadinya juga terkecoh, tetapi saat melihat dia masih mengenakan seragam sekolah. Barulah dia sadar kalau dia umurnya jauh lebih muda.
Tetapi hal itu di sembunyikan oleh Fairus, karena tidak may menyakiti hati Mama dan sahabatnya itu. Tapi kini? Dia menghina istrinya, jelas dia tidak terima.
"Sebaiknya Mama pulang dan kembali ke kantor. Mau seperti apa juga, Fairus tidak mau kembali. Sebelum Mama menerima Raya dengan tulus.
__ADS_1
"Anindia jauh lebih sempurna dari anak kecil ini! Dia bahkan pintar masak dan merawat suami. Lihatlah dirimu sekarang! Kau tampak seperti lelaki setengah abad lebih dengan brewok di pipi dan dagumu." Cibir Aini.
"Selama istriku senang. Aku tidak masalah. Aku juga tidak mau membuatnya setres, percayalah kau malah membuatnya menahan marah." jawab Fairus.
"Apa yang salah dengan itu? dia bisa marah sesuka hatinya. Aku pun tidak akan pernah menganggap dia ada." Aini sungguh keras kepala.
"Karena jika dia marah, maka akan mengganggu janin yang ada di dalam kandungannya." ucap lirih namun tegas Fairus mengatakan perihal kandungan Raya.
Diam sejenak, Aini seakan menelisik ke arah Raya sebelum kembali berujar. "Ya kau harus senangkan, tapi aku juga punya hak ke sini untuk melihat anak dan menantuku. Jangan marah atau menahannya kalau tidak boleh. Sudah kalian sarapan saja!"
"Tunggu, Kau mengakui Raya menantu?" Tanya Fairus sedikit tersenyum.
"Terserah kau saja!" sepertinya memang sudah melunak.
Satu kata bisa melunakkan hati orang tua. Sungguh di luar prediksi, jika kata kandungan bisa meluluhkan hati Mama nya. Fairus masih harus menahan senyum dan bahagianya. Begitu pun dengan Raya.
"Tapi Ma, kau sudah menghabiskan bubur permintaan Raya. Dia tidak bisa makan pagi selain sama bubur." Goda Fairus dengan nada sedikit di permainkan, sepayaknya dia menyesali sesuatu.
"Ambilkan saja lagi. Kenapa kau tidak ingin melayani Mama mu juga? Apa kau pikir setelah menihak, boleh melupakan ibu?" Fairus semakin ingin tertawa melihat ekspresi Mamanya.
"Tapi Fairus hanya buat sedikit dan habis sekarang."
"Sudah jangan manja, biar Mama yang buat. Kalian siap-siap saja." Aini langsung masuk ke dapur dan membuat beberapa makanan juga bubur yang sama untuk Raya.
__ADS_1