
Hujan deras di dalam rumah mewah, jelas tidak terdengar. Namun, matinya lampu membuat Galuh dan bayi kecilnya ketakutan.
Bima yang melihat lampu rumah padam, dia segera berlari mencari dua mahluk yang paling ia khawatirkan.
"Kalian pasti ketakutan." Bima memeluk Galuh yang menggendong Dewangga.
"Huhuhu kamu dari mana saja? Lampunya mati sangat lama. Aku takut." Galuh menangis sesenggukan.
"Maaf, maafkan aku. Siniin Dewangga, biar aku yang gendong. Kamu peluk aku saja, aku bawa hp bisa menerangi kalian." Bima menyalakan senter dalam ponselnya.
Dari arah luar terdengar sebuah langkah terburu-buru menuju kamar mereka. "Nyonya, ini lilinnya sudah saya belikan."
Mbak yang membantu Bima dan Galuh datang dengan baju yang sedikit basah. Sepertinya dia keluar rumah hanya untuk mencari lilin. Mbak pun menyalakan beberapa batang lilin besar itu di beberapa sudut kamar Galuh.
"Sisakan beberapa untukmu mbak, bawa ke kamarmu." Kata Bima melarang pelayannya menyalakan semua lilin untuk Galuh di kamar.
"Baik, den."
Pelayan meninggalkan kamar Bima dengan sebatang lilin yang menyala dan beberapa yang masih belum di nyalakan.
"Kamu pasti panik sekali tadi, maaf ya sayang." Bima merasa bersalah sekali sudah meninggalkan istrinya sendiri di kamar.
__ADS_1
"Kamu dari mana? Kenapa tidak bilang? Pasti ketemu selingkuhan kamu, ya?" Tuduh Galuh yang ternyata sudah berpikir negatif terhadapnya.
"Mana mungkin, aku keluar beliin kamu nasi goreng. Itu di meja, ah lupa berikan pada mbak. Telfon dong sayang."
Melihat kresek yang teronggok di atas meja riasnya. Hati Galuh luluh seketika, dia tidak berpikir jika suaminya benar-benar mencari nasi goreng untuknya.
Tapi, jika di ingat lagi, gara-gara nasi goreng lah dia menjadi jengkel dan memiliki pemikiran negatif pada suaminya.
"Maaf, aku pikir kamu tidak mencintai aku lagi karena sudah keriput. Dan mencari wanita lain yang lebih cantik dan muda dari aku." Galuh memeluk erat suaminya. Dia merasa bersalah, bagaimana bisa dia berpikiran jelek terhadap suaminya. Sedangkan lelaki itu, bahkan tidak membiarkan dirinya bekerja.
"Mana ada? Bagiku kamulah bidadari dalam hidupku. Siapa yang bisa menandingi kecantikanmu? Usia itu hanya angka, sayang. Tapi bagiku, kamu tetap sama."
Bima menidurkan Dewangga yang sudah kembali terlelap dalam pelukannya. Sedangkan Bima membawa Galuh makan di bawah bersama pelayannya.
"Di Deket rumah mama papa kamu."
"Jauh sekali. Tapi ini enak." Galuh kembali makan nasi gorengnya. Sedangkan pembantunya terlihat sangat sungkan, makan satu meja dengan majikannya. Sepertinya, dalam mimpi pun dia tidak berani.
"Mbak, jangan sungkan begitu." Kata Bima mencoba mencairkan suasana.
"Anu tuan, maaf. Sepertinya saya memang tidak terbiasa, apa boleh saya makan di kamar saja? Nggak kenyang saya makan di sini tuan." Jujur pembantunya.
__ADS_1
"Oh, ya silakan. Ini krupuknya di bawa saja, Galuh kurang suka kerupuk." Kata Bima memahami kesulitan pembantunya.
Belum sempat berdiri dari duduknya, lampu sudah menyalah. "Aaaa, syukurlah sudah menyala." Kata Galuh kegirangan.
"Ah, iya nyonya. Oh ya den, mau saya matikan lilinnya apa sekalian Aden, nanti?" tanya pembantunya.
"Biar saya saja, kamu istirahat saja. Selesai makan bisa langsung tidur, ini juga sudah malam."
Makan tengah malam pun berakhir. Bima segera mengajak Galuh untuk masuk ke dalam kamar.
"Bima, kamu kenyang banget nggak?" tanya Galuh seraya melepas luaran baju tidurnya.
"Iya aku kenyang banget. Tapi kalau untuk memakanmu, aku sediakan tempat khusus." Bisik Bima.
Napas hangat menyentuh leher Galuh, seakan menggelitik seluruh tubuhnya. Membangunkan bulu-bulu halus yang sebelumnya tertidur.
Bima menyentuh pipi merah Galuh, meraba dan menyusuri seluruh wajahnya. Bima tersenyum melihat ekspresi istrinya yang terlihat jelas menyukainya.
Sentuhan yang selalu di suka oleh Galuh. Bima akan menyentuh seperti kala dia menginginkan dirinya di malam hari. Sebelum mencium kedua kelopak matanya, pipinya, hidungnya, keningnya, janggutnya dan berakhir di bibir tipis miliknya.
Pada saat seperti ini, Galuh selalu duduk di atas pangkuan Bima. Meraba perut dan dada bidang milik Bima.
__ADS_1
"Malam ini dingin sekali."