Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Galuh kerasukan.


__ADS_3

"Bima! Bima! istrimu sudah gila, kerasukan jin, setan gentayangan. Cepet ke sini, Bima!" Raya yang ketakutan terus memegangi Galuh agar tak melakukan hal buruk lainnya.


Bima mendengar semua dari dalam, karena dia bekerja di ruang tengah sambil mengawasi sang putra bermain. Tapi teriakan Raya malah membuatnya sedikit panik.


Bima bergegas berlari menghampiri istrinya. Istrinya memang kesetanan, tapi tidak kerasukan setan. Raya sepertinya sedikit hiperbola kala menanggapi Galuh yang tengah emosi.


"Galuh, sudah!" Bima memeluk Galuh dan membiarkan Raya melepas istrinya.


"Memang gila adik iparmu itu, sumpah, bikin aku ingin membungkusnya saja!" Ternyata bukan cuma Galuh yang emosi, tapi Raya juga emosi tingkat tinggi saat ini.


"Astaga, inget kandungan kamu, Ray. Emang kamu mau kalau anak mu mirip Vio?" Bima mengingatkan tetangga yang sekaligus sahabat istrinya.

__ADS_1


"Ya ampun iya, ih amit-amit jabang bayi jangan nurun anakku. Cukup di dia saja! Lagian itu kelakuan manusia apa setan sih? Nggak punya otak deh kayaknya." Setelah di ingatkan, Raya hanya ingat sebentar saja lalu kembali menghardik adik ipar Bima.


"Memangnya, enggak ada yang tau kamu pulang?" Tanya Galuh setelah dia sedikit tenang. "Apa jangan-jangan, yang di katakan mama itu benar? Terus, rumah ini akan di rebut Vio?"


"St, jangan banyak mikir, ah. Mama sama papa tau kok aku pulang kemarin. Tapi mungkin, Candra sama Vio enggak tau. Dan kalau masalah rumah ini, kamu jangan khawatir. Rumah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perusahaan. Ini murni uangku sendiri." Bima menenangkan Galuh.


"Kalau Mama kamu tau, kalau kamu pulang. Kenapa malah ngelepas iprit ini Sampek ke sini?" Raya adalah orang pertama yang tau akan semua masalah Galuh. Selain keluarganya sendiri.


Bima memindahkan tempat bermain Dewangga di teras. Tepat di samping Galuh dan memanjang sampai di depan Bima bekerja. Dewangga adalah bayi yang termasuk beruntung. Karena dia tidak akan pernah mengalami pelatihan seperti Bima dulu. Itu semua kesepakatan Bima dengan Galuh.


Walaupun Dewangga seharusnya melalui tahap itu untuk mewarisi perusahaan Fedrik. Tapi Galuh memilih untuk mengajarinya dengan metode lain.

__ADS_1


Keras tak selanya bisa membangun anak, karena keras kadang malah membuat anak depresi.


Dewangga duduk di tepi pagar bermainnya, lebih tepatnya di samping Galuh duduk. Dewangga di beri buah jeruk yang sudah di kupas oleh Galuh. Terlihat lucu saat bayi itu menyesap jeruk yang terus mengucur kebawah itu.


"Lihat anak kamu tu, ih lucu banget." Kata Raya yang anaknya tengah di bawa oleh ibu mertuanya.


"Hahaha iya, pipinya bikin gemes. Entah mirip siapa Dewangga ini. Badannya gemuk kayak ulet bulu bule. Pipinya merah-merah sudah seperti buah peach." jawab Galuh memberi lagi buah jeruk pada putranya.


Bima yang fokus bekerja pun tak tahan untuk tidak melihat putranya. Pipi merahnya terlihat memang sangat lucu. Bahkan hidung yang sebenarnya mancung itu pun terlihat tenggelam.


Tertutup dengan pipi semu merahnya, bibir Dewangga lebih terlihat seperti bibir itik. Oh tidak, Dewangga padahal sudah mulai turun berat badan. Mungkin karena dia terlalu aktif belakangan. Tapi tidak apa-apa, karena Dewangga sudah mulai belajar berdiri.

__ADS_1


"Sayang, kok aku di tinggal sendirian sih?"


__ADS_2