Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Baju aneh


__ADS_3

"Bim, Bima, bangun dulu sebentar dong. Lihat baju baru yang aku beli kemarin." Galuh membangunkan suaminya yang masih tertidur pulas.


Bima tidak langsung melihat senyum istrinya, tapi dia melihat jendela yang semalam ia buka. Bintang dan bulan masih terlihat menghiasi gelapnya malam. Tapi kenapa istrinya malah menyuruhnya bangun?


Menunjukkan baju baru, katanya. Tapi, kenapa kamarnya masih terlihat gelap?


"Bajunya enggak terlihat, sayang. Nyalain dulu lampunya." Kata Bima berusaha bangun untuk menuruti keinginan sang istri.


"Bagus tidak?" Tanya Galuh setelah Bima menyalahkan lampu kamar.


"Aduh, lampunya sudah terang tapi aku masih tidak bisa melihat, Sayang." Bima menutup matanya setelah menyalahkan lampu kamarnya.


Benar-benar penyesalan tengah malam.


"Bima, lihat aku jangan di tutup matanya begitu." Ucap Galuh yang berusaha membuka mata Bima.


"Hais, Ya Tuhan. Kenapa istriku begitu jail begini? Sayang, AC nya dingin banget. Pakai baju dulu sana, lagian kenapa kamu malah beli baju aneh begitu?" Bima berusaha menutupi tubuh Galuh dengan selimut tebalnya.

__ADS_1


"Aku enggak kedinginan, Bima. Lagian kalau dingin, aku bukan butuh selimut begini. Tapi butuh pelukan kamu!" Galuh melempar selimut yang di lilitkan padanya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi lagi.


Baju dinas yang sangat transparan warna pink Galuh tidak menarik di mata Bima. Dia bahkan melihatnya seperti sebuah keanehan yang di lakukan Galuh.


Namun, setelah mengatakan hal itu. Bima sedikit paham, dia keterlaluan barusan pada istrinya. Bima bukan orang yang peka, bagaimana dia bisa tau apa yang di inginkan istrinya?


Seharusnya Bima tau, sih. Bukankah Galuh selama ini suka menggodanya? Kenapa sekarang malah tidak peka?


"Sayang, maaf...." Galuh keluar dengan menggunakan celana dan baju panjang dan tebal. Dia juga memasukkan baju yang ia kenakan tadi ke dalam tong sampah di depan Bima.


Galuh menurunkan suhu AC kamarnya, itu karena dia pasti merasa kepanasan dengan bajunya. Sedangkan Bima? Dia mengenakan baju tidur dari sutra yang dingin.


Ini benar-benar sial bagi Bima, tapi tenang, dia bisa memeluk Galuh untuk mencari kehangatan, bukan?


Jawabannya, bukan. Itu karena Galuh tengah merajuk sekarang dan itu juga karena Bima sendiri.


"Sayang, aku kedinginan..."

__ADS_1


"Keluar saja, di ruang tengah bukannya ada perapian? Lagian ini di Indonesia, bukan negara Eropa yang memerlukan perapian. Hal aneh di katakan wajar, tapi hal wajar di katakan aneh." Sindir Galuh sangat lancar.


"Sayang, maaf...."


"Jangan berisik, ini masih subuh aku ngantuk." Kata Galuh, seakan dia lupa siapa yang membangunkan Bima.


Apa yang terjadi sekarang? Bima malah di katakan berisik dan mengganggunya yang mengantuk.


"Tidur saja, nanti kalau kamu bangun sudah dalam keadaan compang camping. Ya jangan salahkan aku." Ucap Bima sebelum memunggungi Galuh.


Melihat apa yang di lakukan Bima, Galuh semakin jengkel. Tidakkah dia merasa berdosa pada istrinya yang cantik ini? Sekuat tenaga ingin menyenangkan suaminya, tapi malah di abaikan.


Memang dasar gunung es, bagaimana bisa dia mencair dengan sehari di lintasi matahari? Ah, bodo amatlah, Galuh sudah mengantuk dan dia segera tidur kembali.


Galuh cepat sekali terlelap, dia bahkan tidak terbangun kala Bima yang terus mengganti posisi tidur karena gelisah. Bukan gelisah sebenarnya, tapi menahan sesuatu.


Bima melihat istrinya yang memunggungi dirinya. "Tidak masalah, yang penting kamu tidak bangun saja."

__ADS_1


__ADS_2