Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Rumah sakit rasa restoran


__ADS_3

Malam hari setelah makan malam, Bima mengerjakan kerjaannya yang belum selesai. Dengan seorang Galuh yang tidur di pangkuannya di atas sofa.


Pada saat mereka berdua asyik dengan dunianya sendiri. Tiba-tiba Galuh bangun. "Bim, aku terkencing."


Bima melihat air yang keluar membasahi kaki jenjang istrinya langsung kaget. "Itu bukan air kencing, ayo ke rumah sakit."


Bima langsung menggendong Galuh dan membawanya ke rumah sakit. Galuh tidak merasa ada tanda-tanda mau melahirkan. Seperti yang di ceritakan oleh Rena atau kakaknya.


Galuh hanya menurut, karena yang dia tahu. Jika air ketuban sudah pecah, dia harus segera melahirkan.


Bima yang panik, dia terlihat tak bisa di ganggu. Galuh tetap diam. Nah, dalam diam inilah Galuh mulai merasakan betapa sakit perutnya.


"Aw... Bim, sakit sekali perutku." Galuh tiba-tiba merasa sakit yang begitu dahsyat. Tapi dia tidak tau dari mana datangnya rasa sakit itu. Galuh hanya tau, sakitnya berpusat pada perut dan pinggangnya.


"Sayang, yang mana sakitnya? Tunggu sebentar lagi, kita akan sampai di rumah sakit." kata Bima semakin panik.

__ADS_1


Bima sudah memasuki area rumah sakit, tapi pada saat dia hendak masuk. Bima di hadang oleh beberapa dokter.


"Maaf pak, apa anda sudah melakukan reservasi? jika belum, pulanglah. Buat janji dulu, lalu kembali lagi."


Reservasi? Apa Bima salah tempat?


"Istri saya mau melahirkan! Tolong nyawanya dan anak saya." kata Bima sedikit memelas.


"Dia istri anda dan juga putra anda, apa ada urusannya sama kami? ini prosedur rumah sakit, harap di patuhi."


Perkataan dokter yang terlihat lebih dewasa itu cukup membuat hati Bima mendidih. "Rumah sakit Hati Bunda, cepat beli sekarang juga!"


Sepuluh menit sudah Bima menunggu dengan berusaha menenangkan Galuh yang kesakitan. Yasa dan Rosmia datang dengan membawa beberapa anggota medis.


"Bima..."

__ADS_1


"Ini akte pembelian rumah sakit ini! Silakan kalian berdua keluar! Sisanya akan aku urus nanti." dengan keangkuhan yang masih tersisa, Bima mengeluarkan dua dokter itu secara tidak hormat.


Bukan hanya itu saya, Yasa juga membawa seorang pengacara untuk mengurus dua orang yang sudah membahayakan hidup menantunya.


"Saya mau, ijin praktek nya di cabut." Ucap Bima lagi membawa Galuh masuk rumah sakit.


"Siapkan ruang operasi, bayinya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi." Teriak seorang dokter yang di bawa oleh Yasa pada staf di rumah sakit ini.


Semua staf langsung gerak, tak ada drama seperti yang di depan tadi. Bima cukup puas dengan ini.


Sebagai suami, Bima hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Galuh. Dia istrinya tercinta, satu-satunya wanita yang selalu memanusiakan dirinya.


Wanita yang tengah berjuang idup demi anaknya ini adalah istri yang dulu tidak mencintainya. Bayangan Jovan yang dulu menyakiti Galuh, selalu terbayang di benaknya.


Itu di gunakan Bima sebagai acuan dirinya untuk memberi Galuh kebahagiaan penuh. Galuh tak pantas mendapat perlakuan seperti itu. Tidak dari Jovan maupun keluarganya.

__ADS_1


"Bim, Galuh pasti baik-baik saja. Sekarang kamu makan dulu sedikit untuk nanti bisa menggendongnya lagi." Rosmia menyodorkan roti untuk putranya.


"Makasih, Ma."


__ADS_2