Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Belanja


__ADS_3

Di dalam sebuah Mall, Galuh langsung menarik Bima ke sebuah toko yang menjual baju-baju musiman. Dari tempat, sudah bisa di lihat jika gerai itu memiliki nama yang sangat terkenal.


Galuh tidak berpikir saat masuk ke dalam, karena suaminya sudah menyuruhnya menghabiskan uang yang ia miliki.


Keduanya tidak mengenakan baju bermerek kali ini. keduanya juga tidak terlihat seperti pasangan dari keluarga kaya. Galuh punya baju branded, tapi dia lebih suka memakai pakaian yang biasa saja jika untuk sekedar ke Mall.


"Bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan yang menyambut mereka ketika baru masuk.


"Ah, ya. Saya mau cari baju sama sepatu." jawab Galuh dengan mata berbinar seperti baru pertama kali masuk toko brand ternama.


"Masi silakan, sebelah sini." ramah sekali pelayan pramuniaga itu. Galuh menyukainya.


Pada saat yang lain, salah satu teman dan juga seorang pramuniaga di toko itu tiba-tiba memanggil. "Rina, jangan terlalu ramah ke pelanggan yang belum tentu mampu membeli barang di toko kita."


Bima kaget dengan apa yang di katakan oleh pramuniaga tersebut. Tapi, Bima hanya bisa menahan diri untuk tidak terpancing emosinya. percayalah, Bima adalah orang yang paling sabar di dunia. Tapi, ketika orang menyentil Galuh sekecil apa pun itu, Bima tidak akan pernah memberi ampun.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, siapa yang tau kalau mereka menginginkan satu barang. Akan membelinya suatu hari nanti." jawaban yang menenangkan.


Beruntung gadis yang melayani Bima memiliki etika yang bagus dalam menerima tamu. Tidak tergoda oleh teman lainnya yang tengah bermalas-malasan.


"Sayang, aku mau baju itu." Galuh menunjuk gaun malam yang tengah terpajang di sebuah manekin di dalam etalase.


"Halah, sok-sok an milih yang limited edition. kaya mampu saja membayar, beli yang biasa aja juga masih belum tentu mampu. Kalian itu anak muda yang bisanya hanya menghabiskan uang orang tua untuk pasangan aja, sok kaya." cibir pramuniaga itu lagi.


"Maaf kak, tolong jangan dengarkan kata-katanya. Saya akan mengambilkan baju itu untuk di lihat."


Selama Galuh mencoba gaun itu di dalam ruang ganti. Bima memilih beberapa dress untuk di pakai sehari-hari. Juga kemeja putih dan hitam untuknya kerja.


Galuh keluar dengan mengenakan gaun malam berwarna coklat susu dengan beberapa bunga timbul di bagian rok pun membuat Bima tak berpaling darinya. "Kamu sangat cantik sayang. Ah, aku sudah memilihkan sepatu yang cocok untukmu. Cobalah juga, ini senada dengan gaun mu."


Semua mata tertuju pada Galuh yang tampak sangat cantik, meski tidak memakai polesan make up.

__ADS_1


Sempurna.


"Mau di bayar sekarang?" tanya Rina dengan wajah yang tetap cerah seperti awal dia menyambut Galuh dan Bima.


"Ya, tapi saya pakai debit ya. Uang cash saya tidak cukup." ucap Bima sedikit pelan.


"Tidak apa-apa, sama saja menurut saya." Rina membungkus beberapa kemeja dan juga dress rumahan yang dipilihnya untuk Galuh.


"Baiklah, totalnya enam puluh tujuh juta delapan ratus sekian. Benar ya kak, silakan pin nya." Rina masih merapikan belanjaan Bima dan Galuh memasukkan ke dalam paper bag.


"Terima kasih," ucap Rina saat mengantar Galuh dan Bima keluar dari toko tersebut.


"Aku lapar, kita ke toko aksesoris ya." kata Galuh buat Bima sakit kepala mendadak.


"Apa kamu akan kenyang dengan makan kalung dan cincin? Kita akan ke restoran dulu baru ke toko aksesoris." putus Bima dan menyeret istrinya ke restoran terdekat.

__ADS_1


__ADS_2