Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Kepergian Bima dan Galuh


__ADS_3

Berlibur untuk memperbaiki suasana hati? Bima bukan orang yang suka dengan liburan ataupun jalan-jalan. Waktu santainya hanya ia habiskan bersama Galuh di rumah, atau membuka pekerjaan yang sudah lama ia tinggalkan.


Warung misalnya, dan itu membuatnya buntu saat ini.


"Sayang, kamu mau liburan kemana?" Tanya Bima.


Galuh merasa heran dan aneh, dia yang ngajakin liburan. Tapi dia pula yang menanyakan akan liburan kemana. Seandainya dia Jovan, pasti Galuh hanya perlu duduk manis dan mengikuti kemana lelaki itu membawanya.


Tapi suaminya adalah Bima. Orang yang bisa di katakan sebagai workaholic. Galuh menutup mata sejenak dan menormalkan perasaannya.


Bahaya jika dirinya masih merasa kalau Jovan jauh lebih unggul dari Bima.


"Sayang, aku butuh ketenangan. Apa kita bisa ke tempat yang di mana hanya ada kita berdua?"


Bima kaget dengan jawaban yang Galuh berikan. Haruskah dia membeli sebuah pulau pribadi? Tunggu, apa bisa secepat esok hari berganti? Tidak, jadi Bima harus memikirkan kemana dia harus membawa Galuh.

__ADS_1


Lebih tepatnya, ke negara mana membawa suasana busuk ini.


Bima berpikir sejenak, tapi otaknya benar-benar buntu. Dia tidak ingin mengecewakan Galuh, karena suasana hatinya sedang buruk. Bisa-bisa, Galuh lebih marah dari pada sekarang.


"Baiklah, kamu mau ke Austria apa ke Swiss?" Pilihan Bima jatuh ke kedua negara ini.


Bukan tanpa alasan, Bima rupanya ingin memiliki rumah di salah satu negara ini. Namun, hal itu telah lama terkubur semenjak dia diasingkan.


"Kalau pilih keduanya, apa tidak bisa? Sepertinya dua negara itu cukup untuk menata hati lagi." Galuh benar-benar tak ingin pergi ke tempat yang bisa di katakan sebagai surga hiburan.


Galuh memilih keduanya, entah apa yang ada di otaknya saat ini. Apakah sama dengan yang ada di dalam kepala Bima? Mungkin saja.


Setelah melakukan pembelian sebuah rumah kecil di daerah lereng gunung Alpen. Bima memastikan istrinya untuk mau di ajak tinggal sekitar satu bulan minimal.


"Gimana?"

__ADS_1


"Ya sudah, kalau sudah kamu putuskan membeli. Ya lebih baik kita tinggal di sana lebih lama. Lagian aku juga butuh suasana baru." Jawaban Galuh melukis senyum indah di bibir Bima.


Merasa sudah memberi kebahagiaan bagi Galuh. Walau kecil, namun terasa juga aura mendung itu sedikit demi sedikit menyingsing.


Dua hari telah berlalu, Bima dan galuh akhirnya berangkat ke negara tujuan. Galuh membawa Dewangga bersama mereka. Mau bagaimana pun, Galuh ingin menghabiskan waktu dengan ketiga orang ini.


Rosmia merasa keberatan awalnya. Karena dia begitu menyayangi Dewangga. Tapi, ini semua juga demi kebaikan Bima dan Galuh. Terutama dengan mental Galuh yang memang harus segera dimurnikan.


Hari keberangkatan tiba, Bima bersama Galuh di antar kedua orang tua mereka masing-masing. Kabar keguguran Galuh untuk yang kesekian kalinya. Memang menyedihkan bagi pihak keluarga.


"Mama, papa. Jaga diri kalian baik-baik, ada kak Maya bersama kalian. Maaf, aku jadi anak tidak bisa berbakti. Aku jadi anak yang...."


"Kamu ngomong apa? Bima cukup baik pada kami. Lihat kamu sekarang, semua ini juga karena Bima. Kalian ini sudah membantu kami, sudah berbakti. Sekarang, kamu harus fokus pada kesehatan saja. Jangan lama-lama di sana." Prayan tak kuasa menahan air mata yang terus mendorong ingin keluar.


"Aku akan selalu menjaga Galuh, pa. Makasih sudah membesarkan wanita yang begitu tangguh, untukku."

__ADS_1


"Kamu juga jaga diri di sana."


"Bim, jangan buat Dewanggaku kesepian ya. ingat, Galuh dan Dewangga putri dan cucu tersayangku. Kalau secuil aja kamu menyakiti Galuh, aku sendiri yang aman bertindak." Ucapan Rosmia terdengar begitu sadis di telinga Bima. Namun, ucapan itu adalah ucapan paling menyejukkan bagi ibu dan ayah Galuh.


__ADS_2