Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Rindu papa mama


__ADS_3

Jam setengah dua dini hari, Bima baru masuk ke dalam kamar. Awalnya dia mengira Galuh sudah tidur, setidaknya dia tidak begitu merasa bersalah. Tapi kenyataannya, Galuh menunggu Bima dengan linangan air mata.


"Galuh, kamu kenapa?" tanya Bima masih bingung. "Maaf, tapi kerjaan itu ternyata urgen banget. Awalnya aku hanya mau menyelesaikan satu sampai dua saja. Tapi, ternyata...."


"Nggak usah ngomong lagi, aku ngantuk. Tidurlah!" ucapan Galuh terdengar sangat dingin sekali.


Bima tau, Galuh kecewa padanya. Tapi, dia tidak tau sedalam ini kekecewaan yang ia berikan.


"Maaf, sekali lagi aku mengecewakanmu...."


"Tidurlah, sudah dini hari. Terserah kalau kau mau mati muda, nggak usah tidur juga enggak masalah." Galuh memunggungi Bima dan segera memejamkan mata.


Yang Bima pikirkan jauh lebih banyak saat ini. Dia melakukan kesalahan, tapi Galuh sama sekali tidak mengucapkan pemaafan untuknya. Bima tidur tepat di belakang Galuh, dia memeluk istrinya erat.


jika Bima melepaskan pelukannya, belum tentu dia bisa memeluknya di masa depan.


Sedangkan Galuh, dia lelah memikirkan suaminya yang begitu susah di atur. Sudah berulang kali Galuh mengatakan jika Bima tidak boleh lembur lebih dari jam sebelas malam. Tapi sekarang? Dia malah lembur lebih dari jam dua belas malam.

__ADS_1


Ini membuat Galuh merasa tak ada artinya lagi dia berucap. Tak ada artinya berucap artinya tak ada artinya dia ada menemaninya.


Pagi yang hanya kurang beberapa jam saja dari mereka memejamkan mata, akhirnya tiba. Bima yang kelelahan, dia tidak bangun hingga jam delapan pagi. Galuh yang sudah kelaparan, dia beranjak dan mencari makanan sendiri.


Galuh mencari makanan di dapur, dia hanya menemukan telur dan roti. Dia berdiri di depan kompor yang sudah menyala dengan teflon ada di atasnya.


"Nyonya! Mau buat apa?" tanya pembantu itu yang melihat asap dari atas teflon tersebut.


"Mau bikin sarapan, tapi aku bingung apa dulu yang harus aku masukkan lebih dulu." jawab jujur Galuh yang memang tidak pernah tau memasak.


Galuh menunggu sarapannya dengan menikmati susu dan sereal di meja makan. Tak berapa lama menunggu, Galuh sudah mendapatkan sarapan yang dia mau. Sandwich telur mayo yang biasa di buat mama dan kakaknya dulu untuknya.


"Seperti ini?" Galuh mengangguk seperti anak kecil.


Melahap gigitan demi gigitan, Galuh bertingkah seperti anak kecil. Apa nyonyanya ini merindukan suasana rumah? Pikir pembantu itu.


"Nyonya rindu orang tua? Lebih baik nyonya pulang saja sebentar. Pasti orang tua nyonya juga rindu." ucap pembantu itu iba.

__ADS_1


"Bener juga, kenapa aku enggak kepikiran begini. Makasih ya, ini aku sudah selesai makan." Galuh menyerahkan piringnya yang sudah bersih dari makanan.


"Iya nyonya."


Galuh bergegas ke kamar dan membersihkan diri. Dia membersihkan diri sebersih mungkin dan menggunakan sabun yang sangat harum itu tak beraturan. Galuh mencari baju baru yang terlihat bagus untuk pulang.


Menggunakan dres bunga-bunga selutut tanpa lengan dan gardigan polos warna senada dengan bunga menutupi lengannya. Mengepang rambut sepunggung miliknya dan memoleskan sedikit lipstik coral di bibir tipisnya membuat dia terlihat sangat segar.


Harum menusuk hidung Bima yang masih tidur. Sedangkan Galuh sudah berlenggak lenggok di depan kaca memantaskan penampilannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Bima kaget melihat istrinya sudah begitu cantik.


"Pulang ke rumah orang tuaku. Kenapa? Keberatan dan menahanku?" perkataan Galuh begitu frontal. Dia yang memikirkan orang tuanya dengan hati yang gembira. Berbanding terbalik dengan perasaan Bima yang was-was dan panik.


"Tunggu aku."


"Tidak perlu, aku lebih nyaman ke sana sendiri. Tunggu mama bawa Dewangga, aku sudah memeras asinya, cukup sampai sehari."

__ADS_1


__ADS_2