
Galuh adalah tempat pengaduan dan peraduan bagi Bima. Dia tidak enak hati dengan apa yang di katakan oleh Mutiara. Wanita itu dengan berani menyinggung Bima, tapi lelaki ini tidak bisa bertindak sesuka hati.
Semua ini di lakukan karena Galuh. Bima berjanji pada istrinya untuk menjadi lebih baik. Sebisa mungkin dia melepas kehidupan kelamnya demi Galuh.
Tapi jiwa iblis dalam diri Bima tidak mati. Bima tidak pernah memandang dia wanita atau pria, jika sudah berani menyinggungnya. Galuh adalah bidadari tak bersayap baginya, jadi dia tidak ingin satu kata buruk terlontar untuk istri tercinta.
"Galuh, sudah makan?" tanya Bima saat melihat Galuh hanya duduk di kantin sendirian.
"Malas, aku mau membuat perhitungan dengan satu teman kamu." kata Galuh mengeluarkan cincin yang selama ini hanya menjadi penghuni tasnya saja.
Cincin yang terbuat dari besi berjajar empat. Cincin yang mampu merobek wajah sekali pukul.
"Jangan macam-macam. Biar aku yang membuatnya untuk kamu." kata Bima yang tau siapa yang di maksud.
"Dia perempuan, jadi dia lawan ku." tidak bisa berkata lagi selain mengiyakan apa yang menjadi keinginan Galuh.
__ADS_1
"Hati-hati."
Bima tau jiwa Galuh, sama seperti dia yang menahan emosi selama ini. Ini susah, tapi bagi Bima ini baik. Asalkan dia melalui dengan Galuh.
"Ya sudah, kita pulang yuk. Kepalaku pusing," kata Galuh memegang kepalanya.
"Mau di gendong?" tawar Bima memberikan senyuman hangat untuk Galuh.
"Mau, gendong belakang." memang dasarnya bucin, mendengar ingin di gendong pun Bima langsung siap sedia.
Bima itu sosok lelaki yang jarang sekali menunjukkan senyum. Terutama pada gadis atau orang yang tidak ia kenal.
Sekarang? Lihatlah, Bima tersenyum manis dengan menggendong Galuh di punggungnya.
"Jangan senyum, nanti aku kehilangan kamu." bisik Galuh di leher Bima.
__ADS_1
"Apa hubungannya senyum sama kehilangan, sayang?" tanya Bima lembut.
"Ada dong. Senyum kamu itu udah mengalahkan es teh, manis banget. Nanti kalau yang lain jatuh cinta gimana? Kan aku yang sakit hati dan cemburu." jelas Galuh cemberut.
Meski tidak melihat langsung, dari suaranya saja. Bima bisa memastikan, jika istri ya ini sudah merajuk padanya. Bibir akan maju hingga lima senti dan matanya juga di mainkan karena tidak suka. Gemas.
"Sayang, yang suka itu mereka, bukan aku. Jadi kamu jangan takut dan cemburu yang berlebihan. Aku suka kamu cemburu, tapi aku lebih suka kamu manis-manis ke aku." Bima berkata.
"Ok, kamu memang mungkin gak suka. Tapi siapa yang tau? Bima, Sekarang itu udah banyak kejadian. Cinta di tolak, dukun bertindak. Aku gak mau, ya. Jadi janda di usia dini." jawab Galuh seraya turun dari gendongan.
"Terlalu banyak pikir. Sudah, ayo kita pulang. Aku sudah merindukan kamu." kerling mata Bima menggoda, membuat Galuh tersipu malu.
Tidak ada yang bisa menolak kelembutan dari seorang suami. Selain pahala, juga bisa membuat awet muda dan lebih fresh.
Apalagi Bima sungguh lembut dalam setiap gerakan. Berbeda dengan orang lain, meski dalam memegang tangan Galuh.
__ADS_1
Tangan Bima lebih lembut sekarang dari pada dia masih sekolah beberapa tahun lalu. Ini membuat Galuh semakin melayang akan sentuhan Bima.