Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Dia masih perawan!


__ADS_3

Jam pulang sekolah hari ini, paling di benci Utari. Dia melihat kakaknya yang sudah mempersilakan Tata masuk ke dalam mobilnya. Dengan berat hati dan senyum yang di paksakan. Utari menolak ajakan kakaknya.


"Aku bareng kak Dewa saja."


Padahal, Dewangga sudah pulang lebih dulu mengantar Nimas. Mengingat rumah Nimas berlawan arah dengan rumah mereka.


"Hati-hati, nanti telfon kakak kalau kamu ada apa-apa." pesan Narendra.


Dengan hati yang berbunga-bunga, Narendra meninggalkan adiknya dan mengantar gebetannya pulang. Narendra seperti orang gila, dia tidak berhenti tersenyum. Padahal, giginya sudah mengering.


Utari ke parkiran motor, dia tidak melihat motor kakak angkatnya. Dengan demikian, bisa di simpulkan. Jika Dewangga sudah pulang lebih dulu.


"Kamu Utari, bukan? adik dari Dewangga dan Narendra." tanya seorang cowok yang di kenal Utari sebagai teman sekelas Dewangga.


"Benar, kak. Ada apa, ya?" tanya Utari polos.


"Pasti kamu nyari Dewangga ya? Tadi motornya di bawa sama Yono, buat beli kertas Manila. Dia di gudang lagi nyelesaiin prakarya kelompok. Makanya dia minta aku nyari kamu." kata-kata kakak kelas yang pasti di percaya oleh Utari.

__ADS_1


Utari ikut saja dengan kata-kata teman sekelas kakak angkatnya. Tanpa curiga, dia pun ikut masuk ke dalam gudang gelap tanpa penerangan.


Gudang yang di maksud itu ada di belakang. Ruangan itu sedikit terisolir dari siswa. Karena tempatnya yang sedikit jauh dari jangkauan. Gudang itu juga tidak di gunakan lagi.


Di sana ternyata ada matras sobek-sobek yang terlihat bersih. Mungkin ini di gunakan oleh anak-anak bandel untuk membolos. Tapi, sejauh mata memandang, selain kegelapan saja. Utari juga tidak melihat sosok yang dia cari.


Brak!


Pintu tertutup. Utari secara naluri ingin berlari menuju pintu itu. Tapi sayangnya, dia di tahan oleh orang yang tadi mengajaknya.


"Kakak, kakak mau apa? apa aku punya salah ke kakak? Maafkan aku, kak." Utari tidak bisa berkata dengan benar.


Bibirnya sudah bergetar dan bisa di pastikan jika dia tengah ketakutan. cara bicaranya juga tidak selancar biasanya.


Plak.


Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Utari. Ujung bibirnya berdarah, seluruh tubuhnya bergetar. Utari ketakutan, ini pertama kali dia rasakan. Ingin sekali dia berteriak, tapi sayangnya, suaranya tidak mau keluar.

__ADS_1


"Kamu memang tidak berbuat salah padaku. Tapi Dewangga yang berani mempermalukan kekasihku. Kamu, kesalahan kamu hanya satu. Siapa suruh kamu menjadi adik tersayang Dewangga. Jadi, kamu harus menerima ini gadis cantik."


Lelaki muda yang menggunakan seragam yang sama dengan Utari. Siapa yang sangka jika orang itu memiliki otak yang tidak seperti seorang siswa.


Dia binatang, dengan bringas merobek seragam Utari yang sudah di tindih oleh dua rekannya. Melihat kulit putih dan lembut milik Utari, lelaki buas itu semakin liar.


"Ikat, aku ingin menikmatinya sendiri!" Utari di ikat dengan dasi milik lelaki itu. Tubuh yang sudah bergetar, jangankan untuk bangun dan melawan. Untuk sekedar berteriak saja, Utari sudah tidak punya tenaga karena ketakutan.


"Sial kau Patra, kalau di bandingkan dengan Siska. Jelas gadis kecil ini lebih mulus, bagaimana bisa kamu mau menikmatinya sendiri? Kamu juga mau." kata seorang temannya yang juga melihat tubuh Utari.


"Banyak omong! Pergi kalian!" Lelaki yang bernama Patra itu sudah melucuti bajunya dan berusaha menerobos Utari. Dia masih marah pada saat berusaha, karena terus terbayang tadi.


Siska, kakasihnya yang berusaha merendahkan Nimas. Namun malah Siska yang di permalukan oleh Dewangga.


Tapi, pada saat dia sudah berhasil dan mendapati Utari pingsan. Dia merasa ketakutan.


"Sial, dia masih perawan!"

__ADS_1


__ADS_2