Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Janji adalah hutang


__ADS_3

Jam pulang sudah berbunyi sejak tiga jam lalu. Tapi Utari masih menunggu di luar ruang OSIS. Dia menunggu Dewangga dengan patuh, seperti janjinya tadi.


Dia terus berbalas pesan dengan Narendra yang saat ini berada di kantor bersama Fairus. Kakak yang satu ini selalu memantau Utari sebisa dia.


Mendengar adik tersayangnya menunggu Dewangga rapat OSIS. Narendra memilih meninggalkan pekerjaannya dan menemani adiknya berbalas pesan.


"Apa sangat lama? Maaf, kami harus mendiskusikan pemilihan ketua OSIS periode depan." Dewangga keluar dengan di iringi oleh beberapa anggota lainnya.


"Emmm, apa aku bisa masuk jadi kandidat ketua OSIS? Sepertinya akan keren." Utari seperti tengah merengek pada Dewangga. Tapi sebenarnya tidak, dia tengah menggoda Dewangga yang sudah membuatnya menunggu.


"Sayangnya tidak, aku tidak mungkin tidak memilihmu. Tapi di sekolah ini tidak di izinkan untuk KKN. Jadi, lebih baik jangan mencalonkan diri."


Di saat tengah berdiskusi santai di sepanjang koridor kelas. Nimas yang tadi juga ikut meeting OSIS, berlarian mengejar Dewangga dan Utari.


"Dewangga, tunggu... hos... hos... hosss..."

__ADS_1


"Kenapa kamu berlarian? Kamu itu punya asma, kalau kambuh gimana?!" Secara tidak sadar, Dewangga menunjukkan perhatiannya lagi pada Nimas.


"Bukan, aku.... aku mau minta maaf pada Utari. Aku tau, mungkin kesalahanku sangat besar. Tapi... aku tidak berpikir panjang. Kalau kamu adik tersayang Dewangga.... Aku, sebagai calon kakak ipar kamu. Seharusnya lebih simpatik dan sadar situasi. Bukan malah membuat mu menjadi pusat perhatian karena provokasi dari Siska itu."


Panjang lebar sekali Nimas berkata, Utari merasa tidak nyaman. Bukan karena masalah tadi, tapi karena Nimas menyebut dirinya sebagai calon kakak ipar. Dan Dewangga sama sekali tidak menghentikannya.


"Ya, aku tau...."


"Nah, kamu sudah maafin aku, kan? Jadi kita bisa pulang bersama lagi kan? Papa kepingin ketemu kamu, katanya mau ada yang di sampaikan. Ayo kita mampir dulu ke rumah, kamu tidak keberatan kan, Utari?" Nimas sesuka hati masuk di antara mereka berdua. Utari bisa apa? Jika Dewangga tidak menghentikan Nimas sama sekali?


"Ah, kak. Kalau kakak mau nganterin kak Nimas, aku biar di jemput kak Narendra saja. Aku capek...."


Tapi, mengatakan di depan gadis lain. Sungguh itu melukai harga diri Nimas. Ya, walau kata itu di sampaikan di depan adik Dewangga.


"Dewa, tapi kamu sudah janji waktu itu. Kamu mau membantu ayahku yang mau mencalonkan diri ketua umum di salah satu perusahaan yang dibawah naungan Fredrik holding."

__ADS_1


"Masalah pekerjaan, seharusnya kamu tidak mencampur ke dalam urusan sekolah. Masalah papamu, biarlah papa yang bergerak. Aku masih belum seratus persen menggantikan papa ku." Dewangga dengan jelas memisahkan pekerjaan dengan kedekatannya dengan Nimas sejak awal.


Namu, keluarga Nimas seperti tidak mau tau hal itu. Mereka terus mendorong putri semata wayangnya untuk terus mendekati Dewangga. Terlepas dari Nimas memang menyukai Dewangga sejak pertemuan keluarga pertama kali.


"Tapi...."


"Minggir, adikku mau masuk. Dia lelah, jadi jangan bahas kerjaan lagi kalau sama aku."


"Ok, aku akan menagih janji itu pada om Bima."


Utari sepertinya pernah mendengar, jika kakaknya ini di jodohkan dengan putri salah satu rekan bisnis papanya. Apa itu Nimas? Sungguh malang nasib Utari jika itu memang benar.


Janji adalah hutang, jadi, apa mungkin Dewangga juga akan menikahi Nimas?


Utari diam seribu bahasa, dia tidak tau harus berbuat apa sekarang. Papanya, Fairus. Mungkin dia akan lebih lega kalau bertanya ini padanya.

__ADS_1


Tidak, ini masalah perasaannya. Sampai sekarang, Utari tidak tau perasaan apa yang ada di hatinya untuk kakaknya ini.


Dewangga adalah suaminya, bukan sekedar kakak angkat lagi untuknya.


__ADS_2