Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Cuek tapi perhatian


__ADS_3

Gadis cantik, berseragam putih abu-abu. Berbadan kecil di banding dua lelaki yang juga memakai seragam yang sama. Utari, turun dengan rambut Curly nya, menyambut keluarga kandung dan angkatnya.


 


“Selamat pagi, mama dan papa-papa ku. Selamat pagi juga kedua kakak ku yang tampan.” Sapa Utari dengan anggunnya, bak putri kerajaan.


 


“Nggak usah sok cantik, ini sudah siang. Aku udah mau telat gara-gara menunggumu.” Kata Narendra, kakak kandungnya.


 


“Itulah, sarapanmu sudah aku kotakin. Buruan!” Sahut Dewangga.


 


“Kejam nian kalian berdua. Di rumah, kalian berdua bisa sesuka hati menindasku. Tapi di sekolah?! Jangan harap kalian berlagak sok kenal denganku.” Gerutu Utari yang tidak pernah berani berkata lantang di hadapan Narendra, kakak kandungnya.


 


Mungkin ini semua karena Narendra di besarkan oleh ayahnya yang kejam. Sampai-sampai, dia mengikuti Fairus yang sering berkata pedas.


 


“Terserah kau, sekarang ayo cepet. Kakak mau ujian, kalau nilai kakak sampai jelek. Itu semua salah kamu!” ucap Narendra lagi karena dia yang selalu membawa adik kandungnya berangkat sekolah.


 


“Kalau nilaimu jelek, bukan karena aku. Tapi kamunya yang bodoh.”

__ADS_1


 


“Masih ngomel? Aku tidak akan membawamu!”


 


“Iya kak, iya. Ini mau naik motor bebek merahmu! Motor jelek aja sok keren. Sama-sama merah, kalah saing sama kak Dewangga.”


 


Bagaimana bisa Utari membandingkan motor legendaris milik abangnya dengan motor Bugatti milik Dewangga? Jelas kalah saing.


 


“Kalau untuk memboncengmu, motor ini sudah cukup. Nanti kalau aku membawa pacarku, aku pakai Ferrari milik papa di rumah.” Jawab Narendra santai lebih melukai hati kecil adiknya.


 


 


Karena hal ini sudah setiap hari di katakan oleh adik kecilnya. Narendra lebih memilih bersenandung dari pada mendengar ocehan adiknya. Sungguh malang telinga Narendra di pagi hari. Selalu mendengar ocehan yang sama.


 


Besar di keluarga kaya raya, ternyata tidak membuat Narendra, Dewangga dan Utari silau dan sombong. Mereka bahkan lebih sering menyembunyikan jati dirinya. Walau memakai motor yang begitu mahal, Dewangga kadang menampik menjadi putra seorang Bima Fredrik.


 


“Kalian dari tadi brisik aja sih! Ini. Sudah di sekolahan, jangan kayak kucing dan anjing begitu, lah. Malu di lihatnya.” Tegur Bima di parkiran sekolah.

__ADS_1


 


“Ya, pacarmu kasih tau. Jangan chat aku terus!” kata Narendra yang selalu risih dengan chat dari seorang wanita yang menjadi teman dekat Dewangga.


 


“Dih, siapa juga yang mau pacaran sama anak gatel itu.” Jawab Dewangga ogah-ogahan.


 


Selain mereka bertiga, ada seorang cewek lagi yang selalu hadir di antaranya. Ya itu Nimas, teman satu kelas Dewangga.


 


“Inget, kalian jangan sok kenal. Aku ke kelas dulu.”


 


Padahal, tanpa mereka berdua bilang, semua siswa juga tau kalau Utari ini adik dari kedua lelaki ini. Tapi, sekali lagi. Utari tidak ingin di kenal sebagai kerabatnya, karena dia malas meladeni cewek-cewek yang suka menitipkan hadiah pada keduanya.


 


Utari berlenggak-lenggok berjalan tebar pesona di area sekolah. Wajahnya yang cantik bak sekuntum bunga mawar yang baru mereka, jelas menarik kumbang-kumbang di sekitarnya.


 


Dewangga dan Narendra hanya bisa memperhatikan adiknya dari belakang. Secuek dan sepedas apa pun perkataan mereka berdua. Narendra maupun Dewangga tidak sekali pun melupakan pesan dari papa-papanya untuk mengawasi adiknya.


 

__ADS_1


Tiga bersaudara angkat ini memiliki tingkatan yang berbeda. Narendra sebagai kakak tertua, dia kelas tiga SMA. Sedangkan Dewangga yang satahun lebih muda pun ada di kelas dua. Sedangkan si bontot, masih kelas satu SMA.


__ADS_2