
Tiga Minggu itu sungguh lama sekali. Apalagi jika di jalani dengan kebiasaan baru yang sangat melelahkan. Dewangga kembali ke sekolah hari ini.
Seperti biasanya, Dewangga berangkat bersama dengan Utari. Setelah tiga Minggu menggunakan kemeja putih dan celana hitam. Kembali memakai putih abu-abu, rasanya aneh sekali.
"Kakak, nanti jangan deket-deket sama kak Nimas, ya." pesan Utari setelah turun dari motor matic Dewangga.
"Janji. Ya sudah, ayo ke kelas." Dewangga menggandeng tangan Utari seperti biasanya.
Eh bukan tangan Utari sih, yang di gandeng Dewangga biasanya. Tapi Nimas.
Semua mata tertuju pada mereka berdua. Pemandangan ini, membuat orang yang tidak suka sebagai ajang kesombongan. Tidak tau malu, komentar mereka.
"Aku yakin, pasti Utari sudah sempet keguguran. Secara, dia itu nikah karena kejadian di gudang, katanya."
"Iya-iya! Pasti pernah menggugurkan kandungan. Secara, Dewangga itu anak dari pengusaha berlian. Mana mau dia membesarkan anak dari orang yang bukan keturunannya sendiri."
"St, jangan kencang-kencang. Nanti kau di amuk Dewangga!"
"Eh, tapi ya. Dari melihat Dewangga yang tinggi dan besar gitu. Otakku langsung tanya, apa Utari sanggup? Hahahahaha...."
__ADS_1
"Dasar otak mesum."
"Jangan munafik, orang seperti Dewangga itu banyak di haluin cewek-cewek. Badannya yang besar dan tinggi. Memang kau melihat perut buncitnya? Aku rasa, dia setiap hari nge-gym deh."
"Iya, nge-gym angkatin Utari, hahahaha...."
Dewangga sebenarnya sangat-sangat terganggu dengan apa yang didengarnya. Tapi dia berusaha tidak mendengar karena Utari terus menggandeng tangannya.
sesampainya di kelas Utari, Dewangga langsung meninggalkannya begitu saja. Utari tidak keberatan, karena dia sedikit malu di lihat teman sekelasnya.
Tidak, seharusnya dia bangga, bukan? Sudah memiliki suami yang begitu baik dan perhatian padanya.
"Sebulanan kayaknya, kenap?"
"Tidak, aku cuma tanya aja. Aku penasaran, pernah tidak, kamu kehabisan beras, gas, air, token bunyi secara bersamaan? Tapi kamu sama Dewangga lagi nggak punya uang?" Pertanyaan teman Utari ini aneh.
"Eh, kamu pikir kehidupan Utari sama kita sama? Hahahaha jangankan mengalami itu semua, setidaknya kamu tanya. Utari, masakan apa yang pertama kamu buat untuk Dewangga?" Tanya sahabat Utari.
"Hahaha, kalian bercanda? Mana aku tau apa yang kalian tanyakan? Ini ya aku kasih tau. Jangankan tau beras habis, gas habis atau apalah itu. Tempat beras dan gas aja aku enggak tau. Pada kelewatan kadang kalian bercandanya." Jawab Utari polos.
__ADS_1
"Astaga, jadi kehidupan kalian, di bantu pengurus rumah atau pembantu?" Tanya teman Utari lagi.
"Ya enggak lah, kak Dewa yang masak buat aku. Ini, aku tadi enggak sempet sarapan, aku di bekelin roti ini." Utari dengan sombongnya menunjukkan bekal yang di buat oleh suaminya.
"Astaga anak dodol. Masih jadi princess tapi udah main kawin-kawinan." Sahabat Utari, sekaligus kekasih kakaknya berpendapat.
"Kawin? Enak tau, makanya kak Narendra ajakin kawin...."
"Eh dodol! Tata ini masih anak bawang, mana boleh denger yang berbau kawin-kawinan." Denis membentak Utari yang sepertinya tidak tau, jika hal itu tidak boleh di omongkan secara terbuka. "Tapi, malam pertama kamu sama Dewangga gimana?"
"Hilih, penasaran juga. Ogah cerita ah, takut nanti kamu menirunya." Jawab Utari menoyor kepala teman satu kelasnya yang menjadi ketua kelas.
"Bukan gitu, aku tu cuma penasaran. Punya Patra apa punya Dewangga yang lebih besar, git.... Eh, maaf." Sepertinya Denis lupa akan cerita itu sebenarnya hanya sebuah tragedi yang memilukan.
"Aku coba buat berdamai dengan itu. Sudahlah, tetep punya kak Dewangga yang lebih besar." Kata Utari yang seperti orang terluka, tapi dia tetap menjawab pertanyaan itu.
"Astaga anak ini, di jawab juga."
"Hahahaha Utari gitu loh. Best friend gue."
__ADS_1