Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Kapan lagi


__ADS_3

Badan Galuh terasa remuk, sakit semua karena ulahnya sendiri. Seharusnya, dia tidak menggoda Bima dengan begitu aktif. Itu karena dia sendiri yang akan mendapatkan akibatnya.


Galuh memijat lengannya dengan keadaan masih polos di atas tempat tidur. Dia seharusnya bisa memperhitungkan betapa kuatnya Bima. Apalagi itu menyangkut urusan ranjang.


"Bima sialan, dia itu bukan ukuran manusia kayaknya. Badanku sampai remuk begini, mana pagi-pagi sudah di tinggal begini." Galuh menggerutu mencari handuk yang di lempar Bima semalam.


Kamarnya sudah bersih, pasti sudah di rapikan oleh Bima tadi pagi.


Galuh menyerah mencari handuknya, dia mengambil piyama lengan pendek dengan celana di atas lutut. Penampilannya masih berantakan, tapi dia masih terlihat sangat cantik.


Galuh keluar kamar dan mencari sarapan untuknya. Perutnya sudah sangat lapar saat ini.


"Bima, aku lapar." teriak Galuh pada suaminya yang berada di tengah kolam renang.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu tunggu dulu di sini. Aku buatin kamu sub ayam, tadi sekarang aku angetin dulu." kata Bima keluar dari kolam renang.


Ada saat inilah, sepertinya Galuh kehilangan akal sehatnya. Paha kokoh yang basah terlihat begitu menggoda bagi Galuh. Pahanya saja sudah begitu menggoda, apalagi yang ada di pangkalnya? pikiran Galuh hanya ke kejadian semalam.


Di mana Bima terus menciumi dirinya dan membisikkan kata cinta di sepanjang malam. Bukan hanya itu, keringat yang disinari kilatan cahaya bulan. Membuat wajah Bima jauh lebih menggoda bagi Galuh.


"Bim, antar ke kamar saja. Aku mau mandi dulu, biar lebih harum." Galuh tak menunggu jawaban, dia langsung masuk ke dalam kamar.


Pikiran Bima masih normal, karena memang dia membenci bau busuk. Tapi kalau itu Galuh, sebusuk apa pun itu, Bima tetap menciumnya.


Tapi....


Galuh terlihat menggunakan lingerie warna putih transparan dengan brokat warna hitam di bagian dada. Kesadaran Bima sudah hampir koyak karena ini. Dia pun hampir menjatuhkan nampan berisi sarapan.

__ADS_1


Bima segera mengambil ponsel dan menghubungi papanya. "Pa, suruh mama jemput Dewangga."


"Kamu dan istri kamu kemana?" tanya Yasa kaget, karena tak biasanya menyerahkan putranya tanpa di minta.


"Buat cucu kedua untuk kalian." Bima langsung memutus sambungan telepon dan melempar ponselnya ke sofa.


Galuh tersenyum menggoda, Bima masih menggoda seperti tadi di kolam renang.


"Mendekatkan sayang. Kalau tidak, aku yang akan mendekatimu dan membuatmu tak berdaya." Galuh memanggil Bima dengan ekspresi menggoda.


Galuh tanpa make up saja sudah cantik, apalagi sekarang. Dia menggunakan sedikit riasan di wajahnya. Bibir pinknya kini di poles dengan warna merah merekah. Rambut sepunggungnya juga di tata sedemikian rupa menggoda.


Galuh benar-benar membuat Bima gila. Sebenarnya Galuh kenapa? Tapi Bima tidak peduli lagi, dia harus segera gas dan membuat Galuh semakin terikat lebih dalam dengannya.

__ADS_1


Punya banyak anak, bukan untuk membenarkan pemikiran orang jaman dulu yang menganggap banyak anak banyak rejeki. Tapi, banyak anak hanya untuk mengikat istri agar tidak pergi meninggalkannya.


Bima naik ke atas tempat tidur, dia tak langsung menyentuh istrinya. Tapi dia menikmati penampilan nakal istrinya hingga puas dulu. Kapan lagi Galuh akan berinisiatif seperti ini? Sayang saja kalau di sia-siakan.


__ADS_2