
Hari-hari kondisi Raya semakin mengkhawatirkan, dan selama mereka berpisah, Fairus juga tidak nampak di kampus. Hanya Anindia yang selalu menanyakan keberadaan lelaki itu pada beberapa staf di kampus.
Wajah Raya semakin pucat, di tambah dia juga tidak makan dengan baik. Badannya semakin kurus dan Bima yakin itu akan membuat kesehatannya terganggu.
"Ray, priksa ke dokter yuk. Gue takut lu hamil," Bima mengatakan hal yang tidak ingin di dengar oleh Raya saat ini.
Mungkin dia akan teramat sangat bahagia mendengar kabar itu seminggu yang lalu. Tetapi sekarang? Itu seperti sebuah musibah yang ingin di hindari Raya.
"Gue gak pa-pa kok Bim. Thanks ya kalian berdua sudah merawat gue," Raya terlihat menyedihkan, Galuh pun tak bisa berbuat apa-apa saat ini.
"Kalian memang pantas mendapatkan pelajaran seperti ini. Kalian itu perempuan-perempuan munafik tak tau malu yang pernah gue kenal, Sumpah." Rosaline nyeletuk dari samping membuat darah Galuh mendidih.
"Maksud lo apa?" Galuh maju hendak menyerang Rosaline.
"Beruntung kamu kecelakaan dan keguguran, kalau tidak.... Sudah pasti kamu akan mempermalukan reputasi kampus. Terutama mencoreng nama Bima," Rosaline menantang Galuh yang saat ini sudah sangat sehat untuk meladeni gadis di depannya.
"Jaga bicaramu, dia hamil anak gue dan apa yang salah dengan itu? Dia istri sah gue dan anak itu kami harapkan!" tegas Bima membuat Rosaline memucat seketika.
Jika Bima mengaku Galuh istrinya, kenapa dia tidak pernah mengaku sudah menikah padanya saat itu? Ini sudah pasti hanya permainan atau lelucon hanya untuk melindungi Galuh.
"Jangan berpikir gue akan percaya Bim. Bagaimana bisa lu mengaku sudah menikah dengan dia, tetapi masih berpikir nidurin gue!" Rosaline meninggikan nada suaranya.
Bukan hanya Galuh yang mendengar saat itu, tetapi hampir semua yang ada di taman kampus mendengarnya.
Galuh menegang, dia tidak percaya jika suaminya sebajingan itu. Bima bisa memaafkan dia saat berselingkuh dengan Jovan saat itu. Kini Galuh tidak ingin menjadi egois dengan menyalahkan Bima sepenuhnya.
"Gue percaya laki gue! Kalau lo gak percaya, gue bisa buktikan dengan keabsahan surat nikah gue sama Bima. Dan gue percaya kalau dia bisa naik di ranjang elu itu karena ada masalah dengan gue! Sudah menyerah lah Rosaline. Bahkan Bima sudah mengakui gue di hadapan elu sebagai istri. Apa elu gak malu? Ngaku di tiduri oleh seorang cowok yang jelas bukan sebagai pacar elu?" Galuh tersenyum menghina ke arah Rosaline yang sudah tidak tahu malu mengaku di tiduri pleh suaminya.
__ADS_1
"Kamu sangat bajingan Bima! Gue gak tau kalau elo bakalan melupakan kejadian malam itu." Raya menangis sejadi-jadinya.
"Bagaimana gue melupakan, kalau ingat saja enggak. Lebih baik begini deh, lo bilang ini yang pertama kan? Kita visum ke rumah sakit deh, gue juga gak mau nama baik gue hancur gara-gara masalah malam itu." Ujar Bima.
Galuh setuju dengan apa yang di usulkan Bima. Dia juga percaya kalau suaminya tidak akan pernah sanggup untuk mengkhianatinya. Berbeda jika dia memang sangat sakit hati dengannya. Galuh pun pasrah, agar Rosaline tidak hamil.
Rosaline tampak ketakutan, karena memang tidak terjadi apa-apa malam itu. Rosaline sendirilah yang membuka bajunya dan kemeja Bima saat itu. Mengambil gambar untuk mengancamnya agar menjadikannya seprang istri.
Rosaline tidak pernah punya prasangka jika Bima adalah anak orang kaya. Itu karena penampilang sederhana Bima selama ini.
Ashar terkejut jika Galuh dan Bima sudah menikah. Dia bahkan tidak pernah berpikir lebih dari pacaran, karena mereka berdua selalu terlihat romantis di setiap kesempatan.
"Lo takut? Baiklah, itu sudah menjawab kalau elo itu hanya ingin menjebak Bima dan menggantikan posisi gue!" Galuh menyeret Bima dan Raya meninggalkan taman kampus.
Saat berada di parkiran mereka di sambut oleh Fairus yang tampak lusuh dan penampilannya tidak sedap di pandang. Di sana juga sudah ada Anindia yang sepertinya juga ingin pulang.
"Saya Fairus datang ke sini di hadapan kalian berdua, ingin menanyakan sesuatu. Tetapi sebelum itu aku akan mengatakan sesuatu dulu. Tolong dengarkan dengan baik." Fairus mengambil napas dalam-dalam dan membuangnya ketika sudah di rasa sedikit tenang.
Fairus melirik Raya yang tangannya masih setia dalam genggamannya, Raya pun terlihat tidak keberatan.
"Aku sudah melepas semua yang di berikan oleh keluarga. Dan saya juga bukan lagi pewaris Hotel Anola milik keluarga. Dan saya hanya seorang dosen dengan gaji yang pas-pasan dengan rumah yang masih dalam cicilan. Serta mobil yang aku kendarai sudah di tarik oleh keluarga. Aku tidak punya apa-apa sekarang." Fairus menatap kedua wanita di hadapannya.
Raya memberi tatapan sedikit terkejut, sedangkan Anindia langsung menatapnya tak percaya.
"Jangan omong kosong kamu Fa, ini gak lucu."
"Aku gak sedang melucu, aku berbicara sebenarnya. Dan Anin, aku berhutang pernikahan padamu. Masihkah kamu mau aku nikahi? Jujur aku tidak pernah mencintaimu." Fairus mengatakan dengan rasa percaya diri yang tersisa dalam dirinya.
__ADS_1
"Menikah dengan gembel sepertimu? Jangan mimpi Fa! Kemarin kamu masih selevel dengan ku, tapi hari ini.... Kita beda level." Anindia meninggalkan Fairus dengan keadaan marah.
"Bagaimana dengan kamu? Apa kamu juga akan meninggalkan aku? Aku mencintai kamu dari pertama melihatmu." jujur Fairus.
"Jujur aku terkejut kamu seorang pewaris sebuah hotel mewah...."
"Sekarang tidak, aku hanya ingin mendampingi wanita yang tidak melihatku karena materi. Anindia tau aku pewaris hotel Anola yang di bangun oleh Kakek daei pihak ibu." jujur Fairus.
"Tapi kamu sudah menceraikan aku waktu itu...." cicit Raya membuat Fairus tersenyum puas.
"Kita bisa nikah lagi. Aku akan menikahimu lagi,"
"Percuma kalau kamu akan menceraikan ku lagi." gerutu Raya.
"Tidak akan, aku janji sama kamu."
"Giliran sudah miskin aja kau mencariku!" Cibir Raya. Sumpah ini membuat Galuh dan Bima tersenyum.
"Selama ini kan kamu gak tau aku kaya raya, sudah mau ya?" Rayu Fairus.
"Tapi aku gak mau kamu buluk seperti ini." Raya mengendus Fairus langsung menutup hidung dan hendak muntah di depan dosennya itu.
"Hahahaha, bawa periksa itu istrimu pak. Kelihatanya istrimu tengah berbadan dua." jelas Bima yang menjadi saksi keduanya memperbaiki hubungan.
"Memang ya, hidup itu bagai kali...." kata Galuh menggantung.
"Kanapa yang? Terus mengalir?" tebak Bima.
__ADS_1
"Tidak, banyak tai yang lewat." jawab Galuh.