Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Mengikat yang lebih efektif


__ADS_3

Sore hari, Bima duduk di teras berbincang dengan salah satu tetangga. Siapa lagi tetangga yang suka ngobrol dengan Bima kalau bukan dosen killer takut istri. Fairus.


"Ya mau gimana lagi, Bim. Raya itu semakin hari bikin gemes. Anakku juga sudah setahun, tapi emosi Raya sedikit tinggi. Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit nangis. Gimana nggak gemes?" adu Fairus akan tingkah laku istrinya belakangan.


"Ya sabar pak, mungkin ini bawaan bayi. Kayak bapak udah lupa saja, gimana Galuh hamil." jawab Bima mencoba mengerti keadaan mantan dosennya.


"Iya juga ya, tapi Raya ini beda sama kehamilan yang pertama. Aku kan jadi kaget, Bim." Fairus malah menunjukkan mimik wajah yang tak bisa di artikan oleh Bima sendiri.


Bima melihat, wajah Fairus menceritakan cerita sedikit jengkel itu dengan gurat gemas dan senang. Seperti dia merasa bangga di perlukan dan di inginkan oleh istrinya.


"Tapi bapak bangga, kan Raya hamil lagi?" tanya Bima sedikit menggoda Fairus.


"Jelas, aku bangga. Aku bisa buat Raya kembali hamil dan membuat dia semakin terikat sama aku. Dengan adanya dua anak, Raya pasti akan berpikir ribuan kali untuk meninggalkan aku. Jadi, aku juga bisa semakin mencintai dia." jawab Fairus dengan senyum yang mengembang jelas.


"Iya juga ya...."


"Fairuuuussss, kok aku di tinggal? Huhuhu...." Pada saat Bima mau membenarkan apa yang di katakan dosennya. Di saat itulah Raya berteriak dan menangis.


"Bim... Bim... aku pulang dulu ya, Raya sudah nangis." Fairus dengan cepat berlari mencari istrinya yang sudah menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Bima hanya tersenyum melihat tingkah lelaki tua yang menjadi tetangganya. Galuh baru keluar dan melihat senyum itu pun aneh.


"Kenapa senyum-senyum sendiri? Kaya orang gila saja." Kata Galuh duduk di pangkuan Bima.


"Iya, aku gila karena kamu."


Cup


Bima mencium sekilas bibir Galuh yang terlihat begitu menggoda.


"Bim, kok manis? Kamu habis makan apa?" tanya Galuh mengecap bibirnya.


"Ah, sama aku? Emang bener ya?" kata Galuh seakan tak pernah memakan sang es krim itu.


"Hehehe ya sudah, ayo pergi beli di mini market depan. Tapi jalan aja ya, biar lebih romantis." Bisik Bima seakan dia mencerna ucapan Fairus akan mengikat istrinya.


Sedangkan Galuh, dia hanya mendengar "Lebih Romantis". Dia terlihat jauh lebih bahagia. Mungkin sebelumnya Bima tidak pernah menyadari satu hal. Galuh orang yang sangat mudah di puaskan.


Galuh jelas tipe orang yang akan memberikan apa pun demi cinta. Tapi, dia tidak pernah menunjukkan itu dengan kemanjaannya dan seakan dia memanfaatkan Bima. Galuh juga lebih suka menunjukkan ketegasannya dalam mengambil sikap dari pada mengalah untuk mempertahankan hubungan.

__ADS_1


"Mbak Galuh, mampir." Sapa seorang tetangga yang melihat mereka berjalan-jalan menyusuri jalanan kompleks.


"Iya Bu, terima kasih."


Bima tersenyum melihat keramahan istrinya. Wajah Galuh yang terlihat jutek bagi teman-teman di kampus. Ternyata bisa juga tersenyum ramah pada tetangga.


Sesampainya di mini market, Galuh langsung mengambil keranjang belanja. Bima gemas sekali dengan tingkah istrinya. Bilangnya hanya meminta es krim, tapi kenyataannya?


Hampir setiap jenis ciki yang ada di rak satu lorong itu sudah berada di keranjang belanja, masing-masing satu atau dua.


Galuh kalap melihat jajan begitu banyak di depan matanya. Galuh pecinta makanan, bagaimana bisa dia melewatkan kesempatan untuk mendapatkannya sekarang.


"Bima...." Tatapan mata Galuh pada Bima kali ini seperti seekor anak anjing yang tak bisa di tolak.


"Mau tambah keranjang belanja?" Bukan di stop, Bima malah menawarkan keranjang belanja lagi.


"Bima.... Makin cinta deh." Galuh menyerahkan keranjang belanja yang penuh dengan belanjaan dan menukar dengan keranjang yang kosong.


Galuh kembali beraksi, dia tidak sungkan lagi dalam memilih makanan yang ia inginkan. Setelah rak ciki, Galuh berpindah ke rak kue kering. Sedangkan Bima kembali mengambil keranjang untuk dia mengambil beberapa kotak es krim untuk istrinya.

__ADS_1


__ADS_2