
Selama lebih kurang 4 hari, Tiwi selalu saja melakukan hal yang sama yaitu merawatku dengan penuh perhatian. Hingga aku benar - benar sembuh total dan dapat melaksankan perkuliahan kembali.
Tidak bosan - bosannya aku selalu bersyukur karena Tiwi yang selalu setia menemaniku. Sangat beruntung rasanya sudah dihadirkan sosok wanita seperti Tiwi. Selama masa - masa sulitku tidak pernah sedikitpun Tiwi melewatkannya bersamaku, sungguh dialah wanita idamanku selama ini. Sangat jauh berbeda dengan mantanku dulu, yang hanya ingin dimengerti namun lupa caranya menghargai.
🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸
Beberapa bulan sudah berlalu, Aku dan Tiwi terlihat seperti pasangan yang baru saja jadian. Padahal sudah hampir 1 tahun kami menjalin hubungan, namun selalu hangat dan menjadi pusat perhatian khususnya di Fakultasku. Bahkan cukup banyak dosen yang tau tentang hubungan spesial kami, hingga terkadang menjadi bahan perbincangan dikalangan para Dosen dari yang pernah Aku dengar dari salah seorang temanku.
Pagi ini aku berencana ingin pergi menuju kampus karena ada acara organisasi dimana Aku menjadi salah satu panitia pelaksananya. Aku meminta izin kepada Dosen mata kuliahku pada hari ini untuk tidak masuk dengan memberikan surat izin dari pihak organisasi langsung agar menjadi bahan pertimbangan oleh Dosen yang bersangkutan dan ternyata Aku diizinkan.
Sekitar pukul 10 pagi semuanya sudah berkumpul disebuah Aula yang cukup luas untuk melaksankan acara yang merupakan kegiatan tahunan organisasiku. Aku, Tika dan juga Susi mendapatkan posisi yang sama sebagai panitia acara, hal ini sungguh membuatku menjadi risih jika satu posisi dengan mereka terutama Tika. Junior yang selalu mencoba mendekatiku dengan cara apapun yang membuat Dia bisa mendapatkan hatiku. Namun keteguhanku yang kuat selalu bisa menghalang itu semua karena dihatiku hanya ada Tiwi.
Suasana di Aula itu sangat ramai, namun terasa sangat hampa jika tidak ada Tiwi disini. Kebetulan pada hari ini Tiwi tidak ada jadwal kuliah dan Dia hanya berdiam diri di kos - kosannya saja. Karena memang Tiwi bukan tipe cewek yang suka nongkrong ataupun pergi liburan. Dia lebih memilih untuk rebahan didalam kamar seharian dibandingkan harus pergi keluar hanya untuk sekedar berlibur.
"bang, mic yang mau dipakai udah diambil?" tanya Tika kepadaku disaat aku masih sibuk menyusun kursi untuk para tamu undangan.
"oh iya, bentar - bentar abang ambil dulu ke sekre" ucapku berjalan menuju sekre.
"Aku ikut bang" ucap Tika mengikutiku tanpa ada respon dariku.
Kami berjalan melalui lorong fakultas yang cukup panjang karena memang posisi sekre organisasiku terletak dipaling pojok dan membutuhkan waktu untuk bisa sampai disana. Susi yang masih sibuk membereskan segala sesuatu untuk persiapan acara yang akan dilaksanakan siang ini tidak ikut denganku dan Tika. Jadi, hanya Aku dan Tika yang akan pergi menuju sekre.
"buru - buru amat bang. Pelanan dikit napa jalannya" ucap Tika dengan nafas yang sudah ngos - ngosan mengikuti langkahku yang cukup cepat dibandingkan Dia.
"iya iya" jawabku kesal kemudian Aku sedikit memelankan langkahku.
"oh iya bang, Kak Tiwi kemana? Kok dari tadi gak kelihatan?" tanya Tika entah apa maksudnya yang membuatku curiga.
"katanya cuma dikosan doang sih, kebetulan ga ada kuliah juga hari ini" balasku terus melangkah tanpa menoleh ke arah Tika sedikitpun.
"owh gitu ya" balas Tika singkat." Jangan cuek - cuek gitulah bang, kita kan satu organisasi. Dingin amat kaya batu es" ucap Tika dengan tergopoh - gopoh mengikuti langkahku yang kembali cepat.
"siapa juga yang dingin?" balasku singkat dengan perasaan yang mulai kesal.
"siapa lagi kalau bukan abang" ucap Tika dengan nada sedikit lembut yang membuat Aku menjadi merasa aneh.
"udah ah ka, acara mau dimulai nih" ucapku mencari alasan agar tidak terus berbicara dengannya.
"masih lama kok bang, sekarang aja masih jam 10.30. Kita masih bisa santai - santai juga" ucap Tika yang membuat aku bingung mau mencari alasan apa lagi untuk berhenti berdebat dengannya.
Tanpa menghiraukan ucapannya, Aku terus melangkah hingga pada akhirnya kami sampai didepan sekre dan masuk ke dalam.
"kamu tunggu diluar aja ka" pintaku kepada Tika.
"Aku mau ikut juga bang, mau ngambil sesuatu juga didalam" balasnya kemudian ikut masuk denganku.
Di dalam sekre yang terbilang cukup sepi itu apalagi kami berada dilantai 3 yang tentunya sangat jarang dilewati mahasiswa ataupun dosen. Tanpa pikir panjang, Aku mencari dimana letak mic yang biasanya diletakkan di dalam lemari perlengkapan. Namun Aku tidak kunjung menemukannya.
"Ka , kamu liat ga dimana letak mic nya?" tanyaku pada Tika sembari terus mencari disetiap sudut lemari yang memiliki 2 pintu yang cukup besar dan beberapa laci yang membuatku bingung untuk mencarinya.
"ga tau juga bang, coba liat didalam laci yang di tengah" ucap Tika yang Aku tidak tau Dia sedang melakukan apa karena Aku terlalu sibuk untuk mencari dimana letak mic tanpa sedikitpun Aku memperhatikannya. Kemudian Aku mencoba mencarinya ke arah laci yang terletak persis didepanku dan ketika Aku membukanya ternyata memang disana letaknya.
"Ka, udah ketemu mic nya" ucapku senang dan berbalik badan untuk memberi tau Tika kalau Aku sudah menemukan mic yang dicari. Namun satu hal yang membuatku heran yaitu kenapa pintu sekre tiba - tiba tertutup. Aku hanya terdiam sesaat dan berpikir kalau pintunya tertutup karena tertiup angin.
"Iya bang" ucap Tika perlahan mencoba mendekatiku dengan tatapan yang terlihat seperti ingin memangsa.
"Kamu kenapa ka? Yok kita kebawah." ucapku kepada Tika heran.
__ADS_1
"Nanti aja bang, Aku masih pengen istirahat disini" balas Tika dan kemudian membaringkan tubuhnya diatas karpet tipis tempat kami biasanya duduk dengan posisi tubuh telentang dan membuat tubuh bagian atasnya terbentuk dengan jelas.
"kamu ngapain sih ka?" Aku mulai panik karena melihat gerak - gerik Tika yang terlihat mulai aneh. Kemudian Aku segera berjalan ke arah pintu, namun sialnya pintu sekre itu terkunci.
"mau kemana bang?" ucap Tika masih dalam posisi telentang sambil menoleh ke arahku dengan senyuman tipis.
"siapa yang ngunci ah" ucapku kesal.
Entah setan apa yang sedang merasuki Tika, disaat sedang berada ditempat yang sepi. Dia melakukan hal yang tidak senonoh padahal Dia seorang wanita yang pada dasarnya harus menjaga dirinya dari para lelaki. Namun sangat berbeda dengan Tika saat ini, Dia seperti meinginkan dirinya untuk dinikmati oleh lelaki. Aku tidak tau apakah Dia melakukan ini pada semua lelaki atau hanya dengan diriku saja. Semuanya menjadi tanda tanya didalam benakku.
"bang" Tika memanggilku yang sedang duduk dengan menundukkan kepala tepat didepan pintu yang masih terkunci itu.
"ada apa ka?" kemudian Aku menoleh ke arah Tika dan melihatnya sudah membuka pakaian bagian atasnya, sontak itu membuatku begitu terkejut dan tidak tau harus berbuat apa.
Dengan tatapan yang terlihat ingin menggodaku, bukan membuatku menjadi nafsu akan tindakan yang dilakukannya. Bahkan lebih tepatnya membuatku menjadi takut, karena disana merupakan tempat yang sangat rawan terjadinya kesurupan. Aku cukup tau bagaimana Tika dikampus walaupun Dia terlihat sangat humble dengan teman - teman cowoknya. Namun Aku bisa menilai kalau Dia bukan tipe cewek yang seperti terlihat pada saat ini walaupun Aku belum sepenuhnya tau tentang dirinya.
Dari posisi berbaring, kemudian Tika perlahan mulai duduk dan mulai mendekatiku dengan p******a yang terbuka disalah satu bagiannya. Terlihat tidak ada rasa malu sedikitpun pada dirinya untuk memperlihatkan bagian sensitif itu kepadaku. Aku yang hanya terpaku melihat tingkah laku Tika, hanya bisa menatapnya dan sesekali memalingkan wajahku. Dalam keadaan yang sudah cukup dekat dan Tika sudah tepat berada dihadapanku.
"Kamu mau ngapain ka? Ingat kamu itu cewek lo" ucapku kepada Tika namun tidak ada respon sedikitpun.
Dengan tiba - tiba, Tika meraih tubuhku dan memelukku hingga terguling dengan posisi Aku berada diatas menghimpit tubuhnya Tika dan tubuhku masih didalam pelukannya. Terasa bukan seperti kekuatan perempuan, melainkan kekuatan laki - laki. Aku tidak mampu melepaskan pelukannya yang begitu kuat hingga Aku menyerah karena memang percuma saja Aku melawannya.
"Mau ngapain sih bang, disini aja sama aku" ucap Tika membisikkan ke telingku yang membuat bulu kudukku merinding.
"udah ka, plisss jangan gini. Nanti kalau sampai ketahuan bisa di DO kita dari kampus" ucapku mulai panik.
"tenang aja bang, semuanya aman kok. abang nikmati aja ya" ucapan Tika membuat Aku sebagai lelaki normal mulai berpikir tidak jernih, namun Aku terus mencoba untuk mengendalikannya.
Karena pintu sekre kami terdapat kaca yang membuat orang bisa mengintip dari luar , jadi apapun yang terjadi didalam dapat diketahui oleh orang lain yang berada diluar ruangan.
Sampai pada akhirnya ada seseorang mengetuk pintu dengan penuh tangisan air mata dan Aku langsung menoleh ke arah pintu. Alangkah terkejutnya Aku kalau ternyata disana ada Tika yang entah sejak kapan Dia berada disana dan kemudian pergi berlari. Sontak saja Aku langsung bangkit disaat Tika mulai lengah dan kemudian terlepas. Dan Tika berteriak..
"kamu udah gila ka" ucapku mencoba membuka pintu dengan sekuat tenaga.
"baaaang, kenapa Aku bisa begini?" ucapnya seperti tidak tau apa yang telah terjadi
"mana Aku tau" ucapku terus membuka pintu namun gagal." mana kunci pintunya ka?" ucapku meminta kunci pintu kepada Tika, karena Aku sangat yakin kalau Dia yang menyembunyikannya.
Tika memeriksa semua bagian kantongnya dan ternyata terletak dikantong baju kemejanya. Langsung saja Aku mengambil kunci itu, kemudian bergegas mencari dimana Tiwi.
Terus aku berlari disepanjang lorong ruangan pada lantai 3 itu dan pada akhirnya aku menemukan Tiwi sedang duduk tertunduk menangis terisak - isak ditangga menuju ke lantai 2. Dengan penuh rasa penyesalan walaupun ini sepenuhnya bukan salahku, namun Aku yakin kalau Tiwi pasti sudah berpikir yang aneh - aneh apalagi pakaian Tika yang sudah terbuka seperti itu.
Perlahan Aku mendekati Tiwi yang sedang menangis begitu hebatnya. Hingga tubuhnya terlihat seperti orang sesak nafas karena tersedu - sedu. Tanpa disadari air mataku juga ikut menetes melihat Tiwi orang yang begitu Aku sayangi menangis hingga tersedu - sedu seperti itu.
"Wiii" panggilku dengan nada yang cukup pelan.
Tidak ada respon sama sekali dari Tiwi, yang aku dengar hanya isak tangis yang terlihat tidak bisa dihentikan.
"wiii.. Maafin aku" ucapku dengan air mata yang perlahan mulai mengalir di pipiku."Aku tau kamu pasti sudah mengambil kesimpulan sendiri atas apa yang sudah kamu lihat"
"ajsjdjirjrjrkakakdjekr" ucap Tiwi terdengar sangat tidak jelas apa yang diucapkannya karena dalam keadaan menangis tersedu - sedu Dia mencoba berbica, tentunya membuat kalimat yang keluar dari mulutnya menjadi tidak jelas.
"apa wi?" tanyaku kembali karena tidak mendengar jelas apa yang diucapkannya.
"kayaknya kita udahan aja rel" ucap Tiwi mengangkat kepala dari posisi tertunduk dan menoleh ke arahku. Dengan wajah yang sudah memerah dan basah karena air mata.
"wii..plisss" ucapku memohon kepada Tiwi."akan Aku buktikan kalau Aku ga salah wi. Tapi kasi Aku kesempatan untuk menjelaskannya" jelasku.
__ADS_1
"apalagi yang mau dijelaskan rel? Kamu sudah jelas - jelas melakukan hal yang aneh dengan wanita ****** itu dihadapanku." ucap Tiwi dan terus menangis.
"iya Aku tau kalau keadaan yang seperti itu memang salah wi, tapi Kamu gak tau apa yang terjadi sebenarnya. Jadi pliss beri aku kesempatan untuk membawa Tika kesini untuk menjelaskannya" pintaku dengan tatapan yang penuh belas kasihan.
"Aku tunggu 5 menit dari sekarang" ucap Tiwi tegas.
Mendengar ucapan itu, Aku langsung berlari menuju sekre dan bergegas meminta Tika menjelaskan semuanya.
"ka, tolong kamu jelasin semua yang sudah terjadi tadi sama Tiwi" pintaku kepada Tika yang masih saja terdiam dengan tangan masih menutupi bagian tubuhnya yang terbuka tadi.
"apa yang mau dijelasin bang?" ucap Tika yang masih terlihat seperti orang kebingungan.
"ya kalau kejadian tadi itu karena Kamu yang menarik abang duluan" ucapku buru - buru karena Tiwi memberikanku waktu hanya 5 menit saja.
Tanpa ba bi bu, Aku langsung menarik tangan Tika hingga berdiri dan membawanya menuju Tiwi.
"aaawwwww bang lepasin" pinta Tika kesakitan.
"ya makanya cepat jelasin, kalau ini semua salah Kamu" ucapku membuat Aku menjadi emosi sekaligus panik.
"iya iya" balasnya singkat.
Kami berjalan menuju dimana Tiwi menunggu tadi, hingga pada akhirnya Tika menjelaskan apa yang telah terjadi.
"Kak" Tika memanggil Tiwi.
"apa?" jawab Tiwi singkat dan menatapnya dengan tatapan sinis penuh kebencian.
"ini semua salah Aku kak, Aku gak tau kenapa tiba - tiba saja pakaianku bisa terbuka dan bang Farel tiba - tiba menghimpitku" jelas Tika yang membuat semuanya tidak masuk akal.
"jadi Kamu pikir semua itu terjadi tanpa kesadaran? Iya?" ucap Tiwi membelalangi Tika yang membuat Tika menjadi gugup.
"bukan gitu wi" timpalku. "dari awal Aku menuju sekre hanya berniat mencari mic untuk acara yang akan kami laksanakan nanti dibawah , jadi disaat Kami sedang sibuk - sibuk mencari tiba - tiba Tika berperilaku aneh hingga sampai membuka pakaiannya. Terus, disaat Aku ingin kabur ternyata pintu sudah terkunci dan Tika meraihku hingga terjatuh. Karena kekuatan Tika yang begitu kuat aku gak bisa lepas dari pelukannya. Aku merasakan kalau yang tadi itu bukan Tika" jelasku panjang lebar dan perlahan Tiwi mulai tenang.
"jadi maksud Kamu Tika kesurupan?" tanyanya masih tidak percaya.
"hmmmm...bisa jadi wi" balasku ragu.
"iya kak, Aku pun heran tau - tau bajuku sudah terbuka" timpal Tika sambil kembali menutupi bagian dadanya karena mungkin masih malu sudah memperlihatkannya kepadaku.
"Kamu berani sumpah?" ucap Tiwi kepada Tika.
"sumpah kak. Aku gak tau sama sekali apa yang sudah terjadi, karena terakhir kali yang Aku tau pada saat itu Aku sedang mencari berkas yang sengaja Aku letakkan di sekre dan setelah itu Aku tidak tau lagi" jelas Tika yang terlihat memelas.
"nah, bener kan wi" ucapku. "jadi Kamu mau kan maafin aku?"
"hmmmm..., untuk kali ini Aku maafin Kamu. Tapi Aku minta untuk kedepannya, jangan pernah lagi Aku melihat kalian berdekatan ataupun sampai berduaan seperti tadi" ucap Tiwi menatap kami tajam satu persatu.
"Iya wi , aku janji gak akan berduaan lagi sama Tika" ucapku melihat ke arah Tika yang tertunduk.
Setelah debat panjang lebar, akhirnya Tiwi bisa memaafkan kesalahanku walaupun Aku yakin Tiwi sangat shock melihat kejadian itu. Tidak lama kemudian Tika izin pamit terlebih dahulu.
"sudah ya kak, Aku kebawah duluan" ucap Tika kemudian turun melalui anak tangga melewati Tiwi.
Tanpa adanya respon dari Tiwi namun hanya tatapan yang tajam menatap kearah Tika yang lewat dihadapannya. Hingga Tika tidak terlihat lagi, baru lah Tiwi kembali menoleh ke arahku.
Sejak saat itu, tidak ada lagi komunikasi yang intens antara Aku dan juga Tika. Kami terlihat seperti orang asing yang tidak pernah kenal sama sekali.
__ADS_1
Bersambung....