
"Bim... Bima sakit...." rintihan Galuh terdengar begitu lirih.
Bima yang terus menemani gali di sampingnya setelah di lakukan kuret. Galuh tampak sangat lelah sekali. Mungkinkah beberapa hari ini dia menahan sakitnya sendirian?
Bima tak beranjak dari tempat duduknya. Ibu dan yang lainnya datang ke rumah sakit. Termasuk Candra dan Vio.
Di sana terlihat Vio sangat angkuh dan congkak. Candra sudah tau semua, dia hanya saja tak ingin keluarganya celaka. Tapi di sisi lain Vio juga istrinya.
"Aduh ma, perutku sakit. Sepertinya aku pengen makan sesuatu." Rengek Vio yang samar-samar mendengar rintihan Galuh yang belum di dengar oleh mertuanya.
"Kamu mau makan apa? Biar mama Carikan." Rosmia merasa sedikit takut akan kejadian yang menimpa Galuh akan terjadi pada Vio.
"Mmmm, aku sepertinya kepingin makan yang masem-masem." rengekan Vio seperti mengejek Bima yang baru saja kehilangan buah hati mereka.
"Sayang, nanti saja bisa....?"
__ADS_1
"Tidak bisa, Candra. Aku ini ngidam, ngidam kamu tau ngidam? Itu keinginan bayi dalam perutku, bukan kemauanku." Vio memotong ucapan Candra dengan sedikit meninggikan suaranya.
Ini bertujuan untuk memperlihatkan kesehatan dirinya pada Bima. Menikah dengan Galuh adalah hal yang salah menurut Vio.
Sungguh percuma badan sekuat dan seatletis Bima tidak di turunkan. Otak Vio benar-benar berpikir keras akan mendapatkan kakak iparnya.
'Lelaki normal, pasti butuh penerus lebih dari satu, bukan? Apalagi Bima memiliki usaha sendiri. Aku akan memanfaatkan ini.' Pikir Vio.
"Can, bawa pergi istrimu sebelum Galuh sadar. kamu tau maksudnya?" ucap Bima menggelegar memenuhi ruangan.
Candra dengan patuh membawa Vio pergi. Galuh sebenarnya mendengar pembicaraan semuanya. Tapi matanya masih belum bisa di buka, rasanya lengket sekali. Mungkin ini efek dari anestesi yang di suntikkan padanya.
Perlahan-lahan Galuh mulai membuka matanya. Dia melihat cahaya yang begitu terang setelah mengikuti satu titik cahaya. Bima masih memegangi tangan Galuh.
Galuh meremas pelan jemari Bima yang terpaut dengan jemarinya. Bima merasakan, dia langsung membelai wajah Galuh yang matanya mulai terbuka.
__ADS_1
"Apa yang sakit, sayang?" tanya Bima pertama kali melihat Galuh siuman.
"Aku haus," hanya itu yang bisa di katakan oleh Galuh saat ini.
Dia tidak ingat apa yang terjadi sebelum dia siuman. Yang dia ingat hanya rasa sakit yang begitu menyiksa. Galuh juga merasa jika jika perut sakitnya membuat dirinya mengeluarkan banyak darah sebelum ia pingsan.
"Apa aku mengalami menstruasi yang sangat hebat?" Tanya Galuh karena dia tidak merasakan jika dirinya tengah hamil.
Bima dan kedua orang tuanya kaget, namun tak lama setelahnya Bima menjawab. "Iya, dan aku takut kehilangan kamu. Aku takut kamu tak mau lagi hidup denganku."
Galuh tersenyum sejujurnya dia tidak percaya. Tapi kata-kata Bima singgung menyenangkan bagi Galuh.
"Jangan banyak berbohong. Aku susah untuk tersenyum. Tapi aku suka." Perkataan Galuh membuat Bima dan keluarganya tersenyum.
Jika merahasiakan semua ini adalah yang terbaik untuk Galuh. Maka, keluarga Bima akan melakukannya. Meski tidak untuk selamanya, tapi untuk saat ini, mungkin itu yang terbaik.
__ADS_1
Rosmia datang di samping Bima, dia mengusap kepala Galuh dengan lembut. Dia juga tidak ingat dengan ancaman yang tertuju pada Galuh. Yang di inginkan keluarga Bima adalah Galuh bahagia.