
Pagi-pagi sekali Bima terkejut akan tidak adanya Galuh di sampingnya. Dia bahkan melihat sang bayi juga tidak ada.
Bima masih berpikiran positif, mungkin mereka tengah berjemur di taman bawah. Atau Galuh mengajaknya ke lapangan untuk olah raga. Bima hanya bisa menunggu dan tak mencoba mengganggu apa yang di kerjakan oleh Galuh.
Bima yang memutuskan untuk kerja di rumah pun larut dalam pekerjaan. Dia lupa waktu, dia juga melupakan berapa lama istrinya meninggalkan rumah.
Pas mau makan siang, Bima di panggil oleh seorang pembantu rumah tangganya. Di saat inilah dia menyadari jika Galuh tidak ada di rumah.
"Sial, Galuh." Bima langsung naik ke kamar dan mencari baju-baju istri dan putranya. Semua masih utuh, bahkan pempes juga tidak di bawa oleh Galuh. Tapi, kemana mereka pergi dari pagi?
"Mbak, ibu kemana?" tanya Bima pada asisten rumah tangganya.
"Pagi-pagi tadi, pas mbak baru datang. Ibu sama Aden kecil sudah rapi keluar bawa mobil." Jawab asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"Bawa koper atau tas besar?"
"Tidak, ibu cuma bawa tas kecil saja. Katanya mau ke cafe."
Bima tak menyentuh makanan yang di masak oleh asisten rumah tangganya. Dia melihat mobilnya memang tidak ada. Kenapa dia tidak mengecek ini sebelumnya?
Bima memutuskan memanggil taksi dan langsung meluncur ke cafe. Bima yakin kalau istrinya masih di sana. Dia sudah janji untuk tidak tinggalkan dirinya.
Mobil memang masih terparkir di depan cafe. Namun sosok yang di carinya belum tentu ada di cafe. Bima sedikit berlari untuk mencari istrinya.
Bima membuka ruang kerja dan menemukan sosok yang di carinya tengah serius mengerjakan sesuatu. Dengan kereta dorong yang berisi bayi tampan keturunannya. Bima menemukan dunianya yang menghilang beberapa jam sejak pagi.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Bima.
__ADS_1
"Kerja, lah. Aku kan juga punya tanggung jawab di sini. Kasihan Devi kalau dia terus yang tanggung jawab semuanya. Sebentar lagi kan dia juga mau menikah." Jawab Galuh langsung memeluk suaminya dan menenangkan Bima yang terlihat sangat panik karena khawatir.
"Ya aku tau, tapi apa kamu tidak bisa izin dulu sama aku? Aku bingung nyari kamu." Bima masih tidak tau harus berkata apa. Dia takut Galuh terjadi apa-apa dan membuat dirinya kembali kehilangan sosok wanita ini.
"Sayang, aku tau kamu nggak mungkin mengizinkan aku. Makanya aku sengaja tidak bangunin kamu. Ya sudah ayo pulang, aku sudah selesai." Galuh merapikan berkas yang sejak tadi memusingkan kepalanya. Dia merasa kehadiran Bima adalah angin segar yang jauh lebih segar dari angin laut.
"Ya sudah aku yang rapiin, kamu santai di sana. Pasti kamu lelah sekali, jangan capek-capek nyari uang. Itu semua serahkan padaku, mengerti?" Bima membawa Galuh untuk duduk di sofa panjang di salah satu sudut ruangan.
Bima merapikan meja kerja Galuh, dia tau dan hafal sekali letak setiap berkas di ruangan ini. Karena memang dia lama mengelola cafe ini.
Setelah selesai merapikan meja, Bima juga merapikan sampah dan bungkus Snack yang berserakan di meja depan sofa tempat Galuh duduk.
"Kamu haus? aku buatkan minuman hangat dulu sebentar." Galuh merasa dirinya sangat beruntung mendapatkan Bima.
__ADS_1
Suaminya bahkan melarangnya untuk bekerja. Galuh hanya boleh berada di samping Bima setiap harinya. Jujur, bosan. Tapi Galuh juga sangat senang berada di samping Bima.
Lantas, apa yang membuat Galuh kembali bekerja? Apa ini karena ucapan seorang Ririn? Atau ada ucapan lain yang membuatnya ingin bekerja??