Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Sasmita Arbi


__ADS_3

Siapa yang bilang rumah tangga Bima itu tidak memiliki kendala? Mereka memilikinya, hanya tidak ingin sombong saja. Pamer ke sana kesini, memperlihatkan kesedihan.


Galuh dan Bima bukan begitu.


Galuh dan Bima lebih ke tidak ingin orang memanfaatkan kerenggangannya. Karena keretakan di antara mereka banyak yang menunggu.


Seperti saat ini, seseorang tengah berusaha untuk memecah kebersamaan mereka berdua. Seorang gadis yang dengan sengaja mengatakan jika dirinya merindukan belaian Bima.


Jelas gadis itu berbohong, karena Bima bukan soerang lelaki yang haus akan belaian. Dia saja masih sedikit kaku saat berhubungan intim dengan istrinya. Bagaimana bisa dia seleluasa itu membelai wanita lain?


Jika Galuh akan percaya kebohongan itu, berarti gadis itu memang tidak mengenal Galuh dan Bima sebelumnya.


"Nona, apa kau tau siapa suamiku? Dia bahkan tidak akan menyentuh wanita penghibur meski sudah telanjang di depan matanya. Apalgi akan menyentuh mu yang mengaku wanita terhormat?" ucapan Galuh membuat wanita di depannya terdiam dan tidak bisa mengatakan apa-apa.

__ADS_1


"Katakan, siapa yang menyuruhmu. Aku cukup baik hati tidak menghancurkan wajah cantikmu." Lanjutnya menunjukkan senyum liciknya.


"Tidak ada yang menyuruhku." kata gadis itu terburu-buru.


"Santai, aku tidak memakan mu saat ini. Aku juga tidak ada membuat mu merasakan tajamnya kuku yang baru saja aku runcingkan." Galuh memainkan kuku yang baru di warnai dengan warna merah menyala.


"Ti...Tidak ada, aku akan pergi. Aku sudah mengatakan jika aku memang memiliki hubungan khusus dengan suamimu." gadis itu tampak gugup saat hendak pergi


Tetapi Galuh bukan orang yang bisa di permainkan seperti ini. Galuh langsung menarik rambut gadis itu sekenanya. Membuat gadis itu terhentak ke belakang hampir jatuh.


Tidak di sangka gadis itu berteriak meminta tolong pada pengunjung cafe. "Toloooong.... tolong... wanita gila ini mau mencelakai ku."


"He pelayan! Panggil manager mu, jangan diam saja." Teriak gadis itu lagi.

__ADS_1


"Kau salah kandang sayang, bahkan jika dia mendengar mu dan memanggil managernya. Orang itu tidak akan berani berbuat apa-apa."


"Saya pemilik cafe ini!" tegas Galuh.


Tatapan pengunjung semua tertuju padanya, dengan tatapan mencemooh. Bahkan ada yang memandang dengan tatapan jijik, bisikan-bisikan yang memekakan telinga.


"Hei Nona, biar ini tempat mu. Tidak seharusnya kamu berlaku seperti itu." teriak salah satu pengunjung membela gadis perusuh itu.


"Aku memang tidak seharusnya melakukan ini di sini. Tetapi di mana tempat yang paling tepat mengadili orang yang memfitnah dan mencoba memisahkan kamu dengan suami mu? Ingat, suami bukan pacar atau gebetan." kata Galuh menekankan kata suami untuk membuat orang yang protes tadi lebih mengerti.


Tidak ada jawaban dari mana pun, tetapi satu guyuran jus alpokat cukup mewakili hati wanita yang tengah tersakiti.


"Hei Nyonya, apa kau tidak punya mata? Kenapa menyiram ku? Sudah jelas suami wanita ini yang kegatelan. Jangan melimpahkan kekesalan mu padaku saja!" seru gadis itu yang masih menegaskan bahwa dia memiliki hubungan khusus dengan suami wanita yang menjambaknya.

__ADS_1


"Kau memang pantas menadapatkan ini. Aku rasa kau masih beruntung hanya mendapatkan segelas jus, dari pada gelang besi. Asal kau tau Nona, yang kau lawan adalah putraku. Bima Fedrik. Kau salah memilih lawan, katakan sejujurnya dan kau memiliki kebebasan mu. Atau kau tetap bungkam dan mendapat hadiah?" Rosmia Fedrik meliri dua orang berjas hitam dengan tubuh kekar di tengah pintu masuk cafe.


"Sasmitha Arbi."


__ADS_2