
Hari-hari Galuh hanya untuk mengurus Bima, itu karena dia mengambil cuti kuliah satu tahun. Dengan telaten Galuh menguruh Bima, dari menyuapi makan hingga dia mandi.
Jangan kaget kalau Galuh membantu Bima mandi, wanita itu paling semangat. Berbeda dengan Bima yang masih malu-malu saat di suruh melepas ****** ********.
"Aku bisa sendiri Galuh," ucap Bima lembut.
"Masih aja malu-malu. Sudah lepas saja, biar sekalian di service." goda Galuh.
Bukan Galuh namanya jika dia tidak memaksa dan menerjang Bima. Wanita itu juga ikut masuk ke dalam kolam mini yang ada di kamarnya.
Bima dan Galuh sudah kembali ke kamar mereka setelah di rasa lebih kuat berjalan. Bima sebenarnya sudah kuat kalau hanya untuk mandi sendiri, tapi Galuh selalu memaksa untuk memandikan suaminya itu. Alasannya takut kalau nanti Bima kepleset dan telurnya pecah, jelas Galuh sendiri yang akan rugi.
"Galuuuuhhh yuhuuuuu," suara yang sangat tidak di inginkan Galuh pagi ini.
Raya datang dan masuk ke dalam kamarnya. Istri dosen killer itu memang selalu nyelonong semenjak Bima memerlukan perawatan Galuh.
"Ah, si ege. Apaan!" Jawab Galuh sedikit teriak karena jengkel. Bima hanya tersenyum melihat Galuh jengkel karena sahabatnya sendiri.
"Kalian ngapain? Sini lu, kasian Bima." Raya menyeret Galuh keluar dari bak mandi, sedangkan Bima tersenyum lebar melihat tingkah konyol keduanya.
__ADS_1
"Kalian keluar dulu, aku akan ganti baju." pinta Bima.
Galuh langsung menyambar handuk kimono yang di bawa Raya. Bima segera menyelesaikan mandinya setelah kedua orang itu meninggalkan dirinya sendiri yang malu-malu dalam air penuh busa.
Selesai mandi, Bima langsung memakai bajunya yang di siapkan Galuh. Wanita itu memang sedikit bobrok setelah kehilangan bayinya. Tapi dalam malam dia sering menangis, mengira Bima tidak tau semua hal itu.
Galuh melakukan semua itu hanya untuk Bima. Dia tau kalau suaminya tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika Galuh terlihat murung.
Siapa yang tidak sedih kehilangan bayi yang di tungggu-tunggu? Tapi, mengorbankan mental suami yang menyayanginya? Tidak akan Galuh lakukan. Cukupkan kehilangan calon bayinya, suaminya jangan.
Bima mencoba untuk menutup mata akan hal itu. Menurutnya, Galuh tidak ingin di kasihani akan apa yang sudah menimpa dirinya. Sebagai gantinya, Bima tidak akan lagi mengulang kesalahan yang sama di masa depan.
"Sayang, aku boleh masak? Aku bosan makan masakan pelayan." tanya Bima pada Galuh yang lagi menikmati drama favoritnya bersama Raya.
"Duh mata gue, mana itu dosen lama bener ngajarnya." gerutu Raya yang merasa menjadi nyamuk di antara Galuh dan Bima.
"Samperin bege, gitu aja galau." Galuh menjawab Raya.
"Tengsin we, lagian kalian ini. Nikah lebih lama dari gue, tapi aura kalian itu, masiiiih aja kaya pengantin baru." protes Raya.
__ADS_1
"Lo tau Ray, gue biar di tungguin tiap hari gini. Rasa kangennya itu terus bertumpuk." Galuh mengakui jika Bima adalah orang yang sangat di rindukan setiap hari.
"Lebay lu ah, sudah sana kalian ngamar. Gue mau pulang, mau pastiin laki gue lagi sama siapa."
Raya bangkit dan meninggalkan Galuh bersama Bima. Galuh yang terus merasa kangen itu tidak keberatan Bima menempel pada dirinya. Mungkin Bima juga kangen, sama seperti dirinya.
"Mbak, besok tolong belanja ke pasar ya. Biar saya yabg masak." Pinta Bima saat pelayan rumah tangganya mendekat padanya.
"Anu mas, maaf. Anak saya besok kelulusan, jadi saya mau izin hari ini setengah hari saja bekerja. Boleh?" Pelayan itu sedikit ragu-ragu mengutarakan keinginannya.
"Oh, tentu boleh. Kenapa tidak bilang dari tadi? Ya sudah, sekarang Mbak boleh pulang. Besok juga di izinin libur." Ucap Bima.
Saat pelayan itu bersiap-siap, Bima dan Galuh mendatanginya. Memberi sedikit rejeki pada pelayan setianya. "Apa ini mas?" tanya pelayan itu kaget.
"Itu sedikit rejeki mbak." terang Bima.
"Saya tidak di pecat kan? Ini bukan pesangon kan?" pelayan itu menjadi sedikit pucat.
"Tidak! Saya gak bisa masak juga bersih-bersih mbak, siapa yang bantu saya? Kalo Bima yang ngerjain, aku malu." ucap Galuh buru-buru.
__ADS_1
"Ah, iya neng. Saya akan bantu bersih-bersih dan masak makanan kesukaan eneng." Rona wajah pelayan itu kembali bersinar.
Meski berat hati Galuh dan Bima melepas beberapa hari pelayannya.