Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Pemulihan


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu dan Dokter pun sudah mengizinkanku untuk pulang, semua luka yang ada ditubuhku sudah terlihat mengering dan Aku juga sudah bisa berjalan walaupun sedikit terpincang - pincang karena luka dibagian lututku belum sepenuhnya pulih. Aku, Ibu dan Tiwi perlahan berjalan melewati lorong Rumah Sakit menuju ke pintu gerbang. Aku merangkul tubuh Tiwi menggunakan satu tangan untuk membantuku berjalan agar tidak mudah terjatuh. Dengan tubuhnya yang sedikit lebih pendek dariku, membuat aku sedikit kesulitan untuk mengimbanginya. Namun sudah cukup membantuku untuk berjalan. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang menggunakan angkot, akhirnya aku sampai di kos - kosanku dan Tiwi langsung membaringkanku diatas tempat tidur yang sudah cukup lusuh karena sudah seminggu tidak Aku tempati.


Ibu memintaku untuk pulang ke kampung terlebih dahulu agar kesehatanku bisa lebih terkontrol, namun Tiwi menahannya.


"Rel, kita pulang ke kampung dulu aja ya. Supaya nanti Ibu lebih mudah untuk merawat kamu" ucap Ibu yang sedang bersimpuh duduk diatas lantai karena memang kasurku tidak memiliki ranjang.


"hmmmm.. Aku udah mendingan kok bu" ucapku melihat Tiwi memberikanku kode dengan mengedipkan matanya agar aku tidak pulang ke kampung.


"iya bu, Farel kayaknya udah baikan. Nanti kalau ada apa - apa biar Tiwi aja yang merawat Farel. Biar Tiwi minta izin sama Ibu kosnya untuk kesini tiap hari sampai Farelnya sehat" timpal Tiwi membujuk Ibu agar Aku tidak dijauhkan darinya.


"beneran nih?" kata Ibu melihat kami satu persatu.


"Iya buuuu" balasku dengan nada rendah.


"Ya sudah, kalau gitu Ibu titip Farel sama kamu ya wi. Jaga dia baik - baik sampai dia pulih. Kalau ada apa - apa kabari Ibu" ucap Ibu sambil menatap ke arah Tiwi dan sesekali melirik ke arahku.


"Siap bu, Ibu percayakan saja semuanya sama Tiwi" ucap Tiwi sambil bersikap hormat seperti sedang melihat sang merah putih.


"kalau gitu Ibu pesan travelnya jam 02.00 siang ini aja ya, biar ga kemalaman nyampe dikampungnya" ucap Ibu sambil melirik jam yang ada pada ponselku.


Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang dimana waktu makan siang sudah datang. Ibu bermaksud untuk mencari makanan keluar namun Tiwi menahan Ibu.


"Bu..mau kemana??" ucap Tiwi melihat Ibu berjalan mengarah pintu kamar.


"ini mau beli makanan buat makan siang dulu" ucap Ibu terdiam sesaat dengan posisi berdiri didekat pintu.


"biar Tiwi aja bu" ucap Tiwi menawarkan.


"ga apa apa, kan warungnya dekat sini" ucap Ibu sambil menunjuk kearah yang beliau maksud.


"tapi kan bu...." ucapan Tiwi tertahan dan Ibu langsung menyambungnya.


"biar Ibu saja, kamu jaga Farel aja ya" ucap Ibu kemudian pergi meninggalkan kami berdua.


Setelah Ibu pergi meninggalkan kami berdua didalam kamar, tiba - tiba Robi yang baru saja pulang kuliah datang dan terkejut kalau ada Tiwi dikamarku.

__ADS_1


"Astaga rel, kenapa kamu bawa cewek ke dalam kamar?" ucap Robi terkejut dengan mata membulat yang masih berdiri didepan pintu kamar sambil menatap ke arah kami berdua.


"Tadi udah minta izin sama Ibu kos kok bi. Lagian Ibuku juga ada, kebetulan lagi keluar buat beli makanan" jelasku dan Robi terlihat mulai lega dengan jawabanku.


"owhhh gitu... Kirain" ucap Robi tertahan sembari mengangkat alisnya dan senyuman menyeringai menatap ke arahku seperti memberikan sebuah kode yang aku sendiri tentunya sudah sangat paham. Secara, kami berdua merupakan laki - laki normal. Namun tidak ada sedikitpun niatku untuk melakukan itu kepada Tiwi, karena menjaga dirinya sama saja dengan menjaga keluargaku sendiri. Walaupun terkadang otakku saja yang menyeleweng.


"udah - udah, jangan ngaco bi" ucapku mencoba agar Robi menghentikan pembicaraannya yang sudah mengarah ke arah yang berbeda.


Kemudian Robi masuk kedalam kamar dan menyalami Tiwi karena mereka belum pernah Aku kenalkan sebelumnya.


"Eh bi, kenalin nih pacarku." ucapku kepada Robi.


"oh iya, Robi" ucap Robi menyalami Tiwi dengan sedikit senyuman dan menyipitkan matanya membuat aku sedikit cemburu.


"Tiwi" ucap Tiwi menyebutkan namanya membalas salaman dari Robi namun seujung jarinya saja. Mungkin saja Tiwi sedang menjaga perasaanku.


Setelah perkenalan antara Tiwi dan Robi selesai. Akhirnya Ibu sampai juga membawa makanan yang cukup banyak untuk makan siang ini.


" ehhh... Ada Robi" ucap Ibu karena sebelumnya Robi sudah pernah berkunjung ke rumahku yang dikampung saat kami masih SMA.


"Sehat nak?" tanya Ibu perlahan duduk di sebelah kasurku dan memberikan barang bawaannya kepada Tiwi.


"Alhamdulillah sehat bu. Ibu gimana?" ucap Robi dengan segudang basa - basinya.


"Alhamdulillah sehat juga. Oh iya, Ibu nitip Farel ya. Dia ga mau diajak pulang ke kampung." ucap Ibu sembari sesekali melirik ke arahku.


"Aman bu, Farel akan aman kalau disini" jelas Robi dan melirik ke arahku dengan mengangkat salah satu alisnya dan Aku membalas dengan cara yang sama.


Karena terlalu lama berbincang - bincang hingga jam sudah menunjukkan pukul 13.50 dan artinya travel Ibu akan segera datang.


"hmmmm...sepertinya travel Ibu hampir sampai" ucap Ibu sambil melirik jam pada ponsel nokia jadulnya karena Ibu memang tidak bisa menggunakan smartphone dan lebih memilih untuk menggunakan ponsel jadul.


Tidak lama setelah Ibu melihat jam, travel yang dimaksud akhirnya sampai tepat didepan kos - kosanku dan membunyikan klaksonnya untuk memberikan kode kalau dia sudah datang. Langsung saja Ibu berpamitan kepada kami semua dan berjalan menuju mobil travel itu.


"daahhh semuanya, Ibu balik dulu ya" ucap Ibu melambaikan tangannya kearah kami semua perlahan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"iya bu, hati - hati dijalan" ucap kami serentak dan membalas lambaian tangan Ibu kemudian kami bertiga masuk kembali ke dalam kamar.


Setelah masuk kedalam kamar, kami memakan semua makanan yang dibelikan oleh Ibu tadi. Namun Ibu tidak sempat untuk makan terlebih dahulu karena terlalu sibuk berbincang - bincang.


"Bi, ayok makan bareng kita aja" tawarku kepada Robi yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"eh makasi rel, sebelum balik menuju kos Aku udah makan di kampus" ucap Robi menolak tawaranku dan melanjutkan kegiatannya.


"beneran kan?" tanyaku sekedar meyakinkan saja.


"iya serius rel" ucap Robi sambil mengarahkan kedua jarinya ke arahku yang membentuk huruf V dan membuat aku percaya.


"oke deh kalau begitu" ucapku kemudian melanjutkan memakan makanan itu berdua dengan Tiwi.


Tiwi yang sedari tadi tidak banyak bicara, terlihat sangat enggan karena disana merupakan kos - kosannya para cowok dan membuatnya tidak bisa untuk banyak bicara.


Setelah semua makanan habis dan hanya tersisa 2 potong ayam goreng yang bisa aku makan untuk malam nanti. Tiwi langsung saja meletakkan ayam goreng yang tersisa itu ke dalam plastik bening dan mengikatnya menggunakan karet gelang. Terlihat Tiwi sangat cekatan dalam hal berberes membuat aku semakin kagum dengan dirinya.


"udah lah cantik, pandai ngurus rumah, baik pula lagi. Apasih yang kurang dari kamu wi" ucapku dalam hati sembari menatap Tiwi hingga membuat aku senyum - senyum sendiri.


Hingga Tiwi selesai dengan pekerjaannya, mataku selalu menatap setiap gerak - geriknya dan sesekali Dia juga melihat ke arahku hanya untuk melemparkan sebuah senyuman yang membuatku semakin jatuh cinta padanya.


Setelah dirasa semua sudah rapi , Tiwi bersiap - siap untuk berpamitab menuju kosannya berniat mandi dan nanti malam akan kembali kesini lagi.


"sayang, aku balik ke kosan dulu ya" ucap Tiwi lembut dan membuat Robi melihat kearah kami berdua setelah mendengar Tiwi memanggilku dengan sebutan sayang.


"yaudah, kamu hati - hati dijalan ya" ucapku dan Tiwi mencium tanganku dan berpamitan.


"siap bos" balas Tiwi.


"Robi ,aku balik dulu ya" ucap Tiwi kepada Robi yang dari tadi planga plongo melihat kebucinan kami berdua.


"eeehh eeh..iya Wi" balas Robi dengan sedikit kebingungan karena kemungkinan fokusnya sedang terbagi - bagi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2