
Fairus datang dengan sedikit berlari. Tampaknya dia menyadari keributan tadi. Tapi sayangnya, dia tengah memberi bimbingan melalui zoom. Maka dari itu, dia tidak bisa cepat menghampiri istrinya saat itu juga.
"Aduh, kamu itu kenapa ke sini? Memangnya sudah selesai bimbingannya?" Raya tau kerjaan suaminya semakin hari semakin sibuk. Itu karena dia menjadi salah satu dosen pembimbing.
"Sudah, maaf aku cuma bisa melihatmu dari atas. Lagian itu anak kenapa bisa kurang ajar begitu, sih? Bima, apa kita perlu melaporkan pada polisi?" Fairus sedikit heran sih dengan Bima yang sangat santai di ruang tamu.
"Ngopi dulu sini, biar aku buatin. Bapak pasti sangat lelah sekali, lihat kantung mata bapak tebal sekali." Bima malah mengejek dosennya.
"Masa aku terlihat makin tua sih? Bagi produk mu dong." Siapa yang sangka kalau Fairus akan menanggapi apa yang di katakan Bima.
"Hahaha, memang bapak pakai produk apa biasanya?" Bima geli juga mendengar Fairus berlaku seperti itu.
"Aku tidak pernah pakai..."
"Kamu juga sih Raya, jangan muka sendiri di cantikin. Tapi muka suaminya di jelekin, Bentar pak aku ambilin produk milik Bima." Galuh memotong pengaduan Fairus karena dia geregetan sekali.
__ADS_1
"Biar saja, kalau aku yang cantik kan pak Fairus nggak akan berpaling ke lain hati. Terus kalau dia ikutan ganteng, aku bisa kalah saing sama mahasiswanya. Mana mau aku jadi janda..." Jawaban Raya sungguh mencengangkan sekali.
Dari mana dia mendapatkan jawaban itu? Tapi terlihat jelas kalau dia juga takut kehilangan suaminya.
"Mana ada mahasiswa yang bisa menarik perhatianku...?"
"Lantas, aku ini siapamu dulu? Murid yang lancang membawamu masuk kontrakan? Hais, kamu itu kok enggak sadar diri, sih?" Ocehan Raya malah membuatnya terlihat lebih lucu.
"Sudah, kalian itu mahasiswa dan dosen yang memiliki rasa lain. Ingat, pak Fairus itu bukan hanya dosen, Ray. Tapi dia juga pewaris tunggal keluarganya. Kamu juga jangan egois begitu, setidaknya buat suamimu sedap di pandang para relasi. Ini pak, pakai aja barengan sama Bima. Dewangga biar aku yang awasi, toh dia lagi anteng." Galuh memberikan beberapa produk perawatan milik Bima.
Dia membawakan beberapa pilihan masker, pembersih dan lain sebagainya. Fairus kaget, betapa ribetnya menjaga kulit wajahnya. Padahal, masalah yang dia tahu hanya kantung mata. Tapi Galuh memberikan begitu banyak rangkaian perawatan.
Hari berlalu begitu saja, Galuh merasa lelah sekali hari ini. Emosi yang besar memang menyita seluruh tenaganya. Tangan yang di pakai memukul Vio juga tak langsung kebas saat itu.
Tapi sekarang, dia merasakan badannya yang sedikit terasa sakit semua. Bukan hanya itu, Galuh juga merasa kepalanya pusing sekali.
__ADS_1
"Badan kamu hangat, sayang. Lebih baik kamu minum obat ini dan beristirahat lebih cepat malam ini." Bima memberikan beberapa jenis obat milik Galuh.
Semenjak Galuh di katakan memiliki depresi ringan. Bima tak sekali pun melewatkan check up ke rumah sakit. Mau diam-diam atau terang-terangan, Bima selalu membawanya setiap bulan.
Obat-obatan yang di minum saat ini adalah obat yang memang di resepkan dokter kalau Galuh merasa pusing dan sakit.
Bima tau, Vio hari ini sungguh sangat keterlaluan. Tapi, dia masih belum bisa menemuinya secara langsung. Cerita yang di ceritakan padanya saat itu, bukanlah cerita bohong. Tapi, kenapa dia sampai melakukan hal ini? Bima masih belum tau alasannya.
"Apa ada kabar lain?" Bima berani menghubungi orang yang menjadi kepercayaannya secara diam-diam setelah Galuh meminum obat tidurnya.
"Belum tau pasti, tapi yang jelas Vio seperti melakukan keinginannya sendiri."
"Apa tidak ada cara lain untuk membuat dia menjadi waras, sedikit? Candra sendiri bagaimana?"
"Sepertinya dia tidak tau apa-apa, Vio sendiri yang bertindak. Candra sepeti biasa bekerja di kantor dan pulang di jam yang sama setiap harinya."
__ADS_1
"Ini aneh, apa bisa mengatur kan aku bertemu dengan Candra di cafe milik Galuh tanpa Vio tau?"
"Siap."