
"Wi, nonton bioskop yuk" ajakku kepada Tiwi yang terlihat masih susah untuk bergerak karena kekenyangan.
"Boleh juga tuh, nonton apa rel? Kebetulan Aku udah lama gak nonton bioskop juga nih" ucap Tiwi menatapku dengan antusias.
"Film horror yang waktu itu Aku bilangin ke Kamu, yang mbak kunti itu loh" jelasku kepada Tiwi sembari berpikir menghadap ke atas, entah apa yang dilihatnya.
"Ooooo... Iya iya Aku ingat. Aku juga penasaran sama filmnya" ucap Tiwi setelah mengingat film itu yang terlihat sangat bersemangat dengan senyuman kebahagiaannya.
Tanpa berlama - lama, Aku dan Tiwi segera berangkat menuju bioskop yang sudah biasa kami kunjungi selama beberapa tahun ini. Karena Kami hobby menonton film bergenre horor, Aku dan Tiwi selalu bersemangat apabila ada film horor terbaru. Baik itu film yang berasal dari luar negeri maupun dalam negeri.
Selama di dalam perjalanan Tiwi selalu mengoceh mengenai apa saja yang sudah Kami lalui selama perkuliahan karena sebentar lagi Kami akan segera di Wisuda.
"Rel, setelah Kita wisuda nanti. Kamu mau pergi merantau atau gimana?" tanya Tiwi memecah fokusku saat berkendara.
"Gimana wi?" jawabku karena Aku tidak mendengar begitu jelas apa yang di ucapkan Tiwi.
"Setelah lulus Kamu mau kemana sayang?" tanya Tiwi sedikit memajukan wajahnya bermaksud agar Aku dapat mendengar suaranya namun malah membuatku menjadi gerogi.
"Gak gitu juga dong sayang, Aku denger kok. Tadi karena terlalu fokus bawa motor aja" ucapku melihat wajah Tiwi yang begitu dekat dengan wajahku."Aku sih maunya merantau, tapi Aku mau coba ngelamar kerja di Kota ini dulu sih kayaknya" jelasku dengan mencoba tetap fokus mengendarai motor setelah melihat wajah Tiwi yang begitu dekat.
"Owh gitu, kalau Aku sih pengennya gitu juga rel. Ngapain jauh - jauh kalau yang dekat lebih baik". ucap Tiwi kemudian kembali pada posisi awal.
"Iya wi. Kok tumben - tumbenan Kamu nanyain itu sama Aku?" tanyaku heran namun memaklumi karena memang Aku dan Tiwi sudah hampir mendekati tahap akhir perkuliahan.
"Yaa.. Pengen nanya aja rel. Lagian Kita juga udah semester akhir makanya Aku nanyain itu" jelas Tiwi sambil memandangi perkotaan yang begitu padat. Wajah Tiwi terlihat begitu jelas karena kebiasaanku yang selalu mengarahkan kaca spion tepat ke arah wajahnya.
"Iya juga sih. Kalau gitu Kita cari kerja barengan aja kali ya?" Ideku tiba - tiba muncul.
"Boleh - boleh, jadi masih ada waktu buat Kita saling ketemuan" ucapnya dengan tersenyum malu kemudian di tutupi dengan tangannya.
"Hehehe, kamu bisa aja wi" ucapku sambil mencubit pinggang Tiwi dengan tangan kiriku namun salah sasaran.
"Aaawww..." Tiwi sedikit terkejut karena Aku berniat ingin mencubit perutnya namun malah sedikit ke atas.
"Ehh.. Maaf Wi. Aku cuma mau nyubit perut Kamu kok!! Serius" ucapku panik.
Tiwi terdiam sesaat karena selama ini Aku tidak pernah sama sekali menyentuh bagian itu sedikitpun. Namun hanya bersentuhan lewat punggungku saja di saat berboncengan dengan Tiwi.
"Wiiii... Kamu marah ya?" tanya lagi karena Tiwi masih terdiam dan semakin membuatku panik."Wiii...Aku beneran gak sengaja!! Sumpah" Aku mulai melambatkan laju motorku.
Tiwi terus saja terdiam tanpa jawaban sedikitpun.
"Ciaaaaa.. Panik yaaa?" Tiw mengejutkanku dengan tawa yang begitu lepas.
"Tiwiiiiiii" ucapku kesal karena Tiwi telah mengerjaiku.
"Cieee yang panik tuh" ucap Tiwi terus meledekku.
"Ya iyalah panik. Tapi Kamu beneran gak marah kan soal yang tadi?" tanyaku memastikan Tiwi tidak marah dengan perasaan masih bertanya - tanya.
"Hmmm.. Enggak kok rel. Kamu kan gak sengaja" jawab Tiwi santai kemudian mengehentikan tawanya.
"Berarti kalau sengaja Kamu marah ya?" tanyaku iseng sambil tersenyum.
"Apaan sih rel. Udah udah" jawab Tiwi dengan muka memerah.
__ADS_1
Terlihat begitu jelas dari kaca spion motorku kalau wajah Tiwi sangat merah setelah pertanyaan terakhir Aku lontarkan.
"Apa sebenarnya Tiwi gak marah kalau Aku dengan sengaja menyentuhnya?" ucapku dalam hati karena respon Tiwi yang terlihat malu - malu mau namun segan untuk mengatakannya.
"Kenapa wi?" tanyaku terus memancing.
"Enggak apa - apa rel" jawabnya singkat dengan wajah tertunduk namun tersandar di punggungku.
Tiwi terlihat tidak berani untuk menatapku akibat pertanyaanku tadi.
Tanpa sebuah jawaban yang pasti dari Tiwi, akhirnya Kami sampai di Mall tempat Aku dan Tiwi akan menonton bioskop. Segera Aku menuju basement untuk memarkirkan motor yang terlihat begitu gelap karena hanya ada beberapa buah lampu yang menyala namun tidak menerangi seluruh ruang yang cukup luas itu. Aku mencari tempat yang sekiranya tidak jauh dari pintu masuk agar tidak terlalu jauh berjalan.
Setelah Aku memarkirkan motorku di tempat yang Aku rasa sudah sangat strategis. Kami segera menuju ke dalam Mall dan berjalan menuju lantai 5 dengan menaiki lift.
"Sudah sampai" ucapku di saat pintu lift terbuka tepat berhadapan dengan pintu masuk bioskop.
"Yuk rel, langsung beli tiket aja" ucap Tiwi menarik tanganku buru - buru menuju ke dalam ruangan bioskop.
"Sabar dong wi. Gak bakalan habis kok tiketnya" ucapku dengan tubuh sedikit tertarik ke depan karena ulah Tiwi.
"Iya, tapi Aku pengen cepat - cepat nonton" Tiwi terlihat sangat antusias dan bersemangat ingin menonton.
"Iya iya" ucapku kemudian menuju ke arah tempat pembelian tiket.
Karena yang mengantri hanya tinggal 1 orang lagi, maka dengan cepat Aku mendapatkan tiket dalam waktu tidak lebih dari 10 menit.
"Nih tiketnya wi" Aku memberikan 2 buah tiket bioskop dengan judul yang sesuai dengan apa yang sudah Kami berdua rencakan.
"Yeeeaaayyyy. Makasi sayang" ucap Tiwi terlihat begitu bahagia dan langsung memfoto tiket itu dengan berlatarkan pintu bioskop bernomor 5.
"Wi, duduk di sini dulu aja" ucapku mengarah ke bangku yang sudah tersedia di bioskop itu.
"Iya rel" balas Tiwi mengikutiku dengan tiket yang masih saja dipegangnya.
Melihat Tiwi yang begitu bahagia setiap Aku mengajaknya menonton bioskop, tentunya membuatku ikut merasa senang. Aku selalu tersenyum saat melihat Tiwi bahagia dengan segala perlakuanku. Aku menatapnya dengan penuh rasa sayang di saat Tiwi sibuk memotret tiket yang sedari tadi entah sudah berapa kali dia jepret.
"Daripada tiket itu mulu yang Kamu foto, mendingan Kita foto berdua aja wi" ucapku mendekati Tiwi dengan bermaksud ingin foto bersamanya.
"Oh iya Aku sampai lupa" ucapnya menggaruk - garuk kepala.
"Udah bisa lupa ya sama Aku" ucapku menatap Tiwi tajam dengan tawa yang sedang Aku tahan karena bermaksud ingin menjahilinya.
"Bukan gitu ah rel" jawab Tiwi meraih tanganku takut Aku akan marah.
"Terus apa?" jawabku terlihat seperti orang yang lagi marah.
"Ya pokoknya Aku gak pernah lupain Kamu". ucap Tiwi sambil menggoyang - goyangkan tanganku dengan ekspresi paniknya yang sangat khas sehingga membuatku tidak bisa menahan tawa.
"Hahahhhaa... Panik ya?" Aku tertawa namun tetapku tahan karena takut mengganggu orang di sekitar.
"Iihhh Kamu mah balas dendam" ucap Tiwi jengkel dan sedikit melemparkan tanganku yang di pegangnya.
"Emangnya Kamu doang yang bisa ngerjain Aku" ucapku mengejek Tiwi dan terus tertawa melihat ekspresi Tiwi yang sangat lucu saat Aku menjahilinya
"Oke, awas Kamu ya" ucap Tiwi geram dengan menunjuk ke arahku. Terlihat begitu menggemaskan sikap Tiwi yang bermaksud ingin marah namun menjadi bahan tertawaan bagiku.
__ADS_1
"Awas kemana wi?" ucapku berpura - pura bodoh.
"Iiihhh.. Gak tau ah" ucap Tiwi semakin jengkel dengan ulahku. Aku tau jika Tiwi tidak begitu mudah badmood hanya karena Aku jahili.
Tidak seperti wanita pada umumnya yang sangat mudah berubah sikap saat di jahili pasangannya. Berbeda dengan Tiwi yang menganggap candaanku memang hanya sekedar candaan belaka hingga dapat membuat Kami berdua semakin lengket.
"Cieee yang ngambek" Aku mencolek Tiwi yang mulai berbalik badan mencoba untuk merajuk.
"Jangan sentuh Aku" ucap Tiwi begitu menggemaskan seperti anak kecil.
"Peluk boleh?" tanyaku terus menjahilinya.
"Boleh .. Boleh" kemudian Tiwi membalikkan badannya dan mengangguk - angguk sambil tersenyum.
"Giliran peluk aja semangat" ucapku tersenyum menatap Tiwi yang sudah mengepakkan kedua tangannya bersiap ingin dipeluk namun Aku tidak berani melakukannya karena merupakan tepat umum.
"Iya dong...wleeekk" Tiwi mencibir ke arahku.
Karena jam sudah menunjukkan pukul 14.15 dan terdengar suara dari operator bioskop menandakan pintu teater sudah dibuka.
"Udah mau mulai wi. Yok masuk" ajakku dan berdiri dari tempat duduk sambil menjulurkan tanganku untuk membantu Tiwi bangkit dari duduknya.
"Yukk.." balasnya meraih tanganku dengan sedikit senyuman tipis.
Kami masuk ke dalam ruangan theater bernomor 5 itu, Aku dan Tiwi mulai mencari bangku yang sesuai dengan nomor pada tiket.
Setelah kami berdua duduk, ada seorang pelayan bioskop yang terlihat masih sangat muda menawarkan popcorn sebelum film dimulai.
"Kak, mau popcornnya?" tanya wanita dengan seragam seperti anggota pawai itu dengan sebuah topi memanjang ke atas menawarkan.
"Boleh kak, 2 box ukuran kecil ya" ucap Tiwi.
"Iya, Minumannya kak?" ucap pelayan itu sambil perlahan mencatat pesanan.
"Lemon tea nya 2 juga kak" balas Tiwi.
"Oke kak, Saya ulangi. Popcorn ukuran kecil 2 dan lemon tea 2, benar kak?" tanya pelayan itu memastikan pesanan Kami dan Tiwi mengangguk sedangkan Aku hanya memperhatikan wajah Tiwi.
Setelah pelayan itu mencatat pesanan Kami berdua kemudian pelayan itu pun pergi keluar untuk mengambilnya.
"Ini pesanannya kaka, totalnya 75 ribu" ucap pelayan itu.
Tiwi segera mengeluarkan uang pas 75 ribu dari dalam saku celananya dan Aku menghentikannya.
"Aku aja yang bayar wi" ucapku mengeluarkan uang kertas 100 ribu.
"Biar Aku aja rel, nanti kakaknya susah buat ngasi kembalian" ucap Tiwi memberikan uang pas kepada pelayan itu dan Aku pun memasukkan kembali uang 100 ribu itu ke dalam saku celanaku.
Sembari menunggu film yang akam dimulai beberapa saat lagi, Kami menikmati popcorn dengan tangan yang saling menggenggam erat satu sama lain. Karena di bioskop memang tempat yang cukup romantis dan sangat cocok juga untuk melakukan adegan romantis salah satunya berpegangan tangan seperti yang sedang Kami lakukan.
Belum juga popcorn yang kami makan habis, film sudah dimulai dan lampu di seluruh ruangan dimatikan. Aku dan Tiwi berhenti memakan popcorn dan akan fokus untuk menonton.
Hingga film selesai tanganku tak pernah terlepas sama sekali dari genggaman Tiwi. Udara yang begitu dingin dan sangat mendukung adegan yang sangat romantis itu.
Setelah film selesai dan rasa penasaran Aku dan Tiwi sudah lepas akan film yang sudah lama kami nantikan itu, Kami makan terlebih dahulu sebelum pulang menuju kos masing - masing.
__ADS_1
Bersambung...