Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Galuh kenapa?


__ADS_3

Galuh, sejak bertemu lagi dengan Jovan tadi pagi. Dia sama sekali tidak mau berpisah dari Bima.


Selama Bima meeting dengan para investor juga pemegang saham lainnya. Mereka mengizinkan Galuh bergabung karena dia terlihat sangat pucat dan ketakutan.


Walau tak ingin Galuh ada di antara mereka, tapi jika Bima sudah berkata. Mereka bisa apa?


Sekitar tiga jam, mereka meeting. Ternyata masih belum selesai membahas permasalahan yang tengah mereka hadapi. Meeting terhenti ketika makan siang. Para investor di jamu dengan makanan Jepang.


Selain itu, banyak pemegang saham yang sedikit berbicara di belakang Bima.


"Ya begini kalau sudah di pimpin anak muda."


"Hooh, seharusnya dia tinggal di rumah dan mengerjakan hal remeh saja."


"Benar itu, pak Bima itu kan masih umur dua puluh limaan. Sepantaran dengan anak saya, nah anak saya masih sibuk Gonta ganti pacar. Bukan malah kerja membebani kita seperti ini."

__ADS_1


Bima mendengar keluh kesah mereka, karena jaraknya yang cukup dekat. Bima bukan orang baik, tapi dia orang sabar dan sedikit tidak peduli dengan omongan banyak orang. Apalagi jika hanya mengatakan hal remeh seperti ini.


"Pak Yasa, nasibnya pak Jovan bagaimana?" tanya seorang yang merupakan salah satu pemegang saham di perusahaan Bima.


"Oh, pak Jovan sekarang kerja sama dengan putra ketiga saya. Mereka sama-sama belajar, jadi tidak ada senioritas diantara mereka." Jawab Yasa santai dengan meminum wine yang di siapkan Bima.


"Apa ini tidak keterlaluan? pak Jovan sudah menggelontorkan modal yang cukup besar bagi seorang pemula. Apa ini tidak akan menimbulkan masalah?" pertanyaan orang tersebut sedikit menyinggung Yasa.


Seumur hidup, Yasa tidak pernah meremehkan kemampuan satu persatu putranya. Tapi itu juga tidak lepas dari pandangan orang yang belum pernah melihat kemampuan mereka.


"Apa bapak mau saya kasih pandangan?" Yasa mendekat dan berbisik pada orang tersebut.


Apa yang di katakan Yasa, seketika membuat merinding bulu Roma pemegang saham itu.


"Ti... tidak terima kasih."

__ADS_1


Dia sadar, jika menjual saham miliknya. Itu artinya Yasa memiliki tujuh puluh lima saham secara utuh yang di berikan kepada ketiga anaknya. Yang untuk saat ini, saham terbesar masih atas nama Bima, di titik tiga puluh dua persen.


Meeting kembali berjalan, sedangkan Galuh memilih beristirahat di ruangan Bima. Ruangan di mana sudah ada area bermain dan kasur untuknya dan sang putra beristirahat.


Galuh lelah, dia masih mengantuk. Dia sudah tidak tahan lagi untuk tidak memejamkan mata.


Tangan besar membelai rambut Galuh. Tangan itu juga berusaha untuk membelai pipi dan menyentuh hidung Galuh.


Mata yang semakin berat, membuat Galuh enggak untuk membuka mata. Menurutnya, Bima memang sangat jahil sekali. Tadi saja dia mengatakan hanya ingin mengantar. Tapi lihatlah sekarang, Bima bahkan membelai bibirnya lembut.


Galuh tak merasa risih, karena Bima memang selalu melakukan hal itu padanya. Biasanya, dia akan mencium kedua kelopak matanya. Tapi sayangnya, Galuh tak mendapatkannya hingga sekian lama. Tak ada sentuhan lagi, yang ada hanya suara bising yang tak bisa di lihat Galuh.


Mata Galuh sangat lengket sekali, dia tak bisa membuka mata untuk saat ini. Otot dan sendinya juga terasa sangat lemas sekali. Seperti tak bertenaga, bahkan hanya untuk sekedar mengangkat tangannya saja.


Suara bising yang semakin jelas di telinga Galuh, itu orang berkelahi. Galuh ingin sekali membuka mata, tapi sulit. Pasrah, hanya itu yang bisa di lakukan Galuh saat ini. Melewatkan kesempatan, karena kesadarannya semakin lama semakin melemah.

__ADS_1


Akhirnya Galuh tak bisa mendengar apa-apa atau melihat sesuatu. Hanya hamparan gelap dan Hitam yang mampu di lihat Galuh. Tak ada setitik cahaya pun, Galuh hanya bisa merasa kebingungan dan sesak napas.


Galuh kenapa?


__ADS_2