
"Bima, katakan sesuatu. Apa pun itu, aku percaya padamu. Tapi, harus kata yang keluar dari mulutmu." Galuh tak punya tenaga lagi untuk marah saat ini. Yang dia pikirkan hanya sosok Bima bersanding dengan wanita muda.
Otak Galuh rasanya ingin meledak untuk saat ini. Bagaimana bisa suami yang selalu memanjakan dirinya, ternyata juga memanjakan wanita lain.
Bima menundukkan kepala, diam seribu bahasa. Galuh menjadi frustasi, dia pun memukuli Bima dengan histeris. Galuh sekuat tenaga memukul Bima agar suaminya itu mengucapkan "Tidak".
Galuh yang histeris membuat orang-orang yang ada di lantai bawah langsung berhamburan mencari dirinya.
"Dasar Bima sialan! ngomong! Waaa!!!" itu kata-kata yang terus di teriakan Galuh.
"Sadar, Galuh.... Galuh... istighfar."
"Bima?" Galuh langsung memeluk suaminya yang saat itu memanggil dirinya.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Bima yang di jawab Galuh dengan raungan tangis.
"Huuuaaaa, siapa wanita itu? Kenapa kamu tega?" Kata Galuh yang masih memeluk erat tubuh kekar Bima.
__ADS_1
"Wanita siapa? Aku tega apa?" mendengar jawaban Bima, Galuh langsung melepas pelukan dan melihat sekeliling.
Sial, dirinya hanya bermimpi dan mengigau. Kutuk Galuh dalam hatinya.
Galuh melihat satu persatu wajah-wajah orang yang masuk ke dalam kamarnya. Tak satu pun di antara mereka ada sosok mbak-mbak kasir. Apa ini? Apa hanya ketakutan Galuh semata, sampai terbawa mimpi? Astaga, betapa malu Galuh saat ini.
Galuh melarikan rasa malunya dengan bersembunyi ke dalam dada bidang Bima.
Tentu, tentu saja orang tuanya dan kakaknya mengejeknya. "Hahahaha makanya, kalau ngambek-ngambek suaminya di ambil cewek lain."
"Bima, kamu memangnya enggak rugi bandar, apa? Makannya Galuh banyak banget gitu, mana nggak bisa ngapa-ngapain." Maya mengelus rambut adiknya yang dia tau tengah malu setengah mati.
"Sepertinya kebalikannya deh kak kalau masalah ini." Jawaban Bima yang malu-malu membuat gemas keluarga Galuh.
"Hahaha memang anak ini. Maaf ya nak, mama sama papa tidak bisa mengajari dengan benar." Dari rasa gemas itu, di sisi lain ada rasa haru dari seorang Prayan pada menantunya.
"Maaf apanya? Bima malah terima kasih, sudah memberikan anak yang begitu di sayangi padaku."
__ADS_1
Prayan mengusap punggung menantunya sebelum meninggalkan kamar putrinya. Maya yang menggendong Dewangga pun ikut meninggalkan adik dan adik iparnya.
"Semua sudah keluar, katakan apa yang aku buat di mimpi itu?" goda Bima yang melihat baju pengantin istrinya dulu.
"Kamu hamilin mbak-mbak kasir mini market. Janji kamu nggak ajak aku ke sana lagi." Galuh jujur mengatakan apa yang ada dalam mimpinya.
"Astaga, ekspektasi kamu itu terlalu tinggi. Mbak-mbak kasir itu enggak secantik kamu Lo. Dia juga enggak semanja kamu, nggak seceroboh kamu. Dan yang lebih penting, dia tidak sekuat kamu dalam mencintai aku." Bima seakan memberikan sebuah harapan bagi Galuh.
Sebenarnya bukan sebuah harapan, tapi kekuatan dan fakta. Cinta Bima hanya untuk Galuh, saat ini, dulu, dan yang akan datang.
"Tapi, apa kamu mencintai aku juga?" tanya Galuh merengek.
"Dasar bodoh. Kalau cintaku ke kamu itu jangan pernah di tanya. Mau...."
"Mau hujan badai menghadang pun, aku akan tetap mencintai kamu. Tapi pas gerimis di suruh nyari nasi goreng aja kamu beralasan." jawab Galuh memotong ucapan Bima.
"Hahahaha, masih saja di ungkit insiden nasi goreng."
__ADS_1