Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Asal kamu bahagia


__ADS_3

Setelah beberapa hari berada di rumah sakit, Galuh akhirnya kembali pulang. Dia yang merasa dirinya hanya sakit akibat mens yang hebat. Sepulang dari rumah sakit, Galuh langsung ke dapur dan segera mencari makanan dingin.


"Sayang, kamu nyari apa?" Tanya Bima yang menggendong Dewangga sedikit tersenyum melihat tingkah istrinya.


"Sayang, aku tu kangen makananku yang ada di kulkas. Lihat kue ini, pasti sudah lama minta segera masuk ke dalam mulutku." Galuh menunjukkan sebuah kue yang sepertinya memang ada sehari sebelum Galuh masuk rumah sakit.


Kenapa Bima sangat hafal? Karena memang dia yang membeli semua isi kulkasnya. Bahkan dengan tangannya sendiri pula, dia memilih beberapa buah yang ada di atas meja dan kulkas itu.


"Iya, besok aku beliin yang baru kalau kamu suka." jawab Bima.


"Bima, kamu itu selalu saja memberi apa yang aku inginkan." Galuh menyuapkan satu sendok kue ke mulut suaminya yang sejak tadi tersenyum begitu manisnya padanya.


"Selama yang mau itu, kamu. Pasti aku akan menuruti semuanya." Jawaban Bima mungkin akan membuat semua istri atau bahkan wanita manapun akan bahagia.


Tapi, bagaimana dengan Galuh? Dia malah tak percaya dan terus mengajukan pertanyaan.


"Kalau misalnya aku mau tas mewah?"

__ADS_1


"Beli!"


"Berlian?"


"Beli!"


"Mobil?"


"Beli!"


"Suami?"


"Cukup sayang, cukup. Lebih dari cukup padahal, cuma aku sedikit kasihan sama kamu." Jawab Galuh dengan muka lesunya.


"Kasihan kenapa?"


"Ya kasihan, permintaanku kan banyak. Makanya aku cariin teman buat kamu penuhin permintaan aku itu." Jawab Galuh memutar-mutar baju Bima.

__ADS_1


"Temen apaan? Kagak, mau sebanyak apa permintaan kamu. Aku sanggup penuhin semuanya, sudah jangan ngaco! Sekarang ajak Dewangga main dulu, aku masakin yang uenak buat kamu." Bima memang jengkel dengan pernyataan Galuh, tapi dia juga tidak bisa melihat wajah kelaparan istrinya itu.


"Siap bos!" Galuh memberi hormat sebelum mengambil putranya.


Galuh mengambil sepedah dorong bayi yang di belikan Bima beberapa hari lalu. Karena Galuh di bilang pendarahan akibat menstruasi, jadi dia tidak boleh mengangkat beban berat.


"Baby, ayo kita main. Maunya main apa?"


"Apa? Kamu mau main di tempat main saja? Ok sayangkuh, ayo kita let's go!" Galuh yang tanya, dia pula yang menjawab.


Bukan karena dia setres, tapi memang bayi umur lapan bulan ini belum bisa ngomong. Apalagi menjawab pertanyaan Galuh. Jadi dia sendirilah yang bertanya dan menjawab.


Galuh membawa Dewangga ke ruang tengah, ruangan yang ada di samping meja makan. Dengan begitu, Galuh bisa mencium aroma masakan Bima dan juga mengawasi putranya.


Galuh menjaga Dewangga yang bermain bola-bola kecil di sampingnya. Dia sambil bermain ponsel. Melihat beberapa tas branded keluaran terbaru, Galuh tak lupa memencet tombol beli ketika melihat tas yang menurutnya bagus.


Bukan hanya tas, Galuh juga membeli beberapa baju untuk putra dan sepatu bayi yang begitu lucu. Bima melihat sekilas kelakuan istri, dia sepertinya sedikit menyesali kata-katanya.

__ADS_1


Apa harus secepat itu dia check out? Tapi ya sudahlah, selama Galuh senang, Bima pun tak tak keberatan. Ya meskipun kantongnya harus sedikit mengering. Bima tak apa-apa, dia hanya harus sedikit lebih keras bekerja.


"Makanan sudah siap, sayang. Makan dulu, yuk."


__ADS_2